72 Indonesian Inspiring Women 2017: Dian Siswarini CEO XL AXIATA

Mengemban amanah sebagai perempuan pertama yang duduk di pucuk perusahaan telekomunikasi, dia mengandalkan manajerial bergaya militer.

Dian memang sangat menyukai bidang telekomunikasi, karena dianggap bersifat dinamis, selalu berkembang, dan cepat berubah. Awalnya, dia bekerja di PT Citra San Makmur sebagai supervisor bidang engineering, hingga memutuskan bergabung dengan XL yang saat itu masih berada di bawah naungan PT. Excelcom tahun 1996. Dedikasi dan kegigihannya membuahkan hasil cemerlang.

Dia dipercaya sebagai CEO PT XL Axiata per 1 April 2015, setelah per Januari 2015 dirinya juga sempat ditetapkan sebagai deputy CEO setelah melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT XL Axiata. Kuartal satu tahun 2017 ini, PT XL Axiata kembali mendulang keberhasilan.

Total trafik meningkat sebesar 178% YoY, dibandingkan kuartal tahun lalu. Dari segi profit, juga mengalami peningkatan dengan laba bertumbuh 1,4% QoQ dan marjin meningkat 35%. Pelanggan pun kian bertambah sebesar 1,5 juta, sehingga kini sudah mencapai 48 juta orang.

Perjalanan karier perempuan kelahiran 5 Mei 1968 ini dicapai dengan keberanian dalam menjawab setiap tantangan yang diberikan perusahaan. Keteguhannya dalam kedisiplinan juga patut diacungi jempol.

Dia menekankan hal yang sama kepada semua tim di perusahaannya, yakni menerapkan disiplin, kerjasama tim, maupun sikap ketangguhan.

“Pertanyaan selanjutnya, ke mana mereka harus dilatih? Militer, itu yang kemudian muncul di benak saya. Jika berbicara tentang masalah disiplin, kerjasama, dan ketangguhan tak ada yang lebih hebat dari militer,” ungkap penyuka busana Biyan dan batik Iwan Tirta di blog pribadinya ini.

Suatu cara unik dan diyakini mampu meningkatkan kinerja pegawai di tengah persaingan ketat bisnis telekomunikasi. Sebagai ibu tiga anak, sekaligus pimpinan perusahaan besar XL Axiata, Dian sadar bahwa dirinya harus pintar-pintar dalam menyeimbangkan urusan pekerjaan dan keluarga.

Dian mendidik anak-anaknya soal tanggung jawab, termasuk masalah pendidikan. Mereka tumbuh secara mandiri, bahkan Mia putri sulungnya berhasil lulus S1 di sebuah universitas Australia jurusan Information Technology (IT) dan memperoleh beasiswa S2 sembari bekerja part-time.

Ketika berkumpul bersama keluarga, dia paling jarang bermain gadget di depan anak dan lebih memilih mengobrol bersama ataupun travellingAsa Sakina Tsalisa | Fikar Azmy

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here