Carmelia Hartoto Ketua Umum Indonesian National Shipowners Association (INSA)

 

Satu lagi generasi kedua yang bersinar. Carmelia Hartoto terus meroket usai menerima tongkat estafet kepemimpinan dari mendiang Hartoto Hardikusomo, ayah tercinta. Dia menakhodai industri pelayaran nasional selama dua periode dan tercatat sebagai perempuan pertama di tampuk pimpinan tertinggi sejak INSA berdiri di tahun 1967.

 

 carmelita-hartoto
Sebelum terjun ke industi pelayaran, karier Camelia Hartono yang akrab disapa Meme ini terus menanjak di perusahaan keuangan di London. Ketika sang ayah meninggal dunia di tahun 1994, sulung dari tiga bersaudara ini memutar haluan untuk mempelajari seluk-beluk tentang bisnis pelayaran, pergudangan, dan bongkar muat di pelabuhan.

 

Dia tak merasa dipersiapkan untuk jabatan tersebut, karena sang ayah menginginkan perusahaan ditangani kalangan profesional, bukan dikelola secara turun-temurun. “Mungkin saat itu, ayah saya merasa ini dunia laki-laki dan kehidupannya cukup keras,” ujar ibu tiga anak ini.
Sebelum pertama kali memimpin INSA di 2011, Meme fokus meneruskan bisnis pelayaran ayahnya di Andhika Lines. Sebagai presiden direktur di bidang yang baru pula, Meme dituntut untuk segera beradaptasi. Beruntung perusahaan yang ditinggalkan ayahnya tergolong perusahaan ‘sehat’. Sebagai pribadi yang tidak cepat berpuas diri, dia giat belajar baik dari buruh pelabuhan ataupun pesaing bisnisnya. Pada tahun 2002, dia mengambil gebrakan tak terduga. Andhika Lines pecah kongsi yang berakibat kepada berkurangnya kepemilikan kapal dari 33 kapal menjadi dua buah kapal.

 

Dengan bantuan dan kepercayaan klien, perusahaan yang dikelola bisa berkembang. “Klien yang baik tentu ingin melihat perusahaan yang melayaninya berkembang baik, seperti saya ingin mendorong perusahaan lain yang lebih kecil,” ujarnya.

 

Terkait terpilihnya kembali memimpin INSA, Meme menaruh harapan besar kepada bisnis kemaritiman di negara kepulauan ini. “Kita semua mengetahui bahwa Presiden Joko Widodo berkomitmen tinggi memajukan dunia maritim nasional. INSA salah satu yang ditunjuk sebagai penggerak agar pelayaran Nusantara mampu bersaing dalam hal ekspor-impor,” harapnya ketika secara aklamasi terpilih kembali memimpin INSA di rapat umum XI INSA Agustus 2015 di Surabaya.

 

Dia berharap adanya peningkatan pembangunan infrastruktur di sektor kelautan. Bukan saja jumlah kapal, melainkan jalur pelayaran, pergudangan, dermaga, dan pelabuhan. Pemerintah dan swasta perlu bersinergi. Dia pun berpendapat rute-rute pelayaran yang sudah dilayani oleh kapal swasta, sebaiknya tidak dimasuki kapal pemerintah karena perbedaan tarif yang beasar. Persoalan pajak yang adil juga menjadi harapannya terhadap dunia pelayaran Indonesia ke depan. “Bagaimana kita mau bersaing dengan kapal asing di pelayaran ekspor impor kalau kita banyak dikenai pajak? Sedangkan kapal asing tidak sama sekali,” tegasnya dalam suatu wawancara. Silvy Riana Putri | Istimewa

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here