Ine Noor | Pengalaman Mendorong Kreasi Baru

Saya tak malu belajar dari karyawan, karena mereka lebih mengetahui fungsi dan kegunaan setiap mesin maupun alur kerja.

 

Riwayat manis bekerja di firma konsultansi dalam maupun luar negeri tak menghentikan langkah Ine Noor untuk mencetak karya di ranah berbeda. Sejak 14 tahun silam, dia menekuni industri furniture manufacturing.

Bersama rekanan yang sudah terlebih dahulu berkecimpung di bisnis tersebut, Ine memimpin PT Rapi Cipta Indah sebagai brand terpercaya dalam hal kualitas, ketepatan waktu, dan harga yang kompetitif.

“Saya tak malu belajar dari karyawan, karena mereka lebih mengetahui fungsi dan kegunaan setiap mesin maupun alur kerja. Mempelajari proses pembuatannya, cara mengatasi masalah yang muncul, dan tahapan perawatan. Kami lebih memilih spend anggaran untuk pembelian mesin-mesin dari Eropa, karena endurance-nya tinggi dan output yang terpercaya.

Salah satu pertimbangannya adalah bila salah satu mesin break down, akan mempengaruhi laju produksi, ketepatan waktu maupun kepuasan pelanggan. Kami mengibaratkan mesin-mesin tersebut seperti team work di sumber daya manusia,” jelas lulusan finance di Bentley University, Massachussets, Amerika Serikat.

Jumlah tim yang mendukung bisnis ini di head office maupun pabrik mencapai 60 orang. Ketika proses instalasi furnitur, perusahaannya bekerja sama dengan vendor yang telah teruji dan terpercaya.

Pemilihan small team tersebut salah satu strategi untuk memberikan harga sesuai ekspetasi customer, sekaligus menerapkan kenaikan UMR setiap tahunnya. Inne pun mengakui pentingnya SDM-SDM yang mumpuni dalam mengelola dan menjaga eksistensi bisnis. Tak hanya berpatokan dari banyaknya secara kuantitas, tetapi juga kualitas profesional dari setiap SDM.

Saat berbicara tentang ciri produk, Ine menuturkan tren ikut menjadi bahan pertimbangan. Untuk saat ini, lebih banyak fixed furniture dibandingkan pengunaan solid ataupun loose wood.

Dia menambahkan, “Kami lebih memfokuskan playwood dan bahan baku panel. Dengan pertimbangan cepat pengolahannya, tidak memerlukan waktu pematangan yang panjang, proses pengovenan, dan finishing seperti solid wood.”

Tantangan dan Pengembangan

“Tantangan yang kami hadapi antara lain di bagian SDM, karena ini riil sektor. Dulu saya bekerja sebagai konsultan, hanya berurusan di atas kertas saja. Sementara di sini, saya berhubungan dengan blue collar, mesin, teknik, dan raw materials. Bersinggungan pula dengan hal-hal detail dan customer service satisfication,” kisah perempuan yang pernah menjadi konsultan di Deloitte Consulting dan Renaissance Capital.

Perang harga juga menjadi tantangan tersendiri di bisnis furnitur. Tak bisa dipungkiri rantai usaha furnitur beririsan dengan laju industri properti.

“Kita ketahui bersama bahwa perkembangan properti beberapa waktu belakangan tak bersinar seperti lazimnya. Sejumlah orang tetap membeli properti, tetapi membiarkan kosong apartemen atau huniannya tanpa furnitur.

Adapula pembangunan hotel yang dijadwalkan tahun ini, namun ditunda pelaksanaannya. Oleh karena itu, penawaran harga yang kompetitif cukup berdampak signifikan.

Alhamdulillah-nya, kami menjalin hubungan baik dengan para klien berdasarkan riwayat pekerjaan. Para konsultan quality service (QS) maupun operator hotel sudah memegang bukti produk kami dari segi kualitas, ketepatan waktu, dan menjaga keindahan sesuai anggaran yang ditentukan,”tutur Ketua DPW PPLIPI DKI Jakarta.

Salah satu proyek besar yang pernah digawangi Inne adalah Oakwood Apartment, properti menengah-atas yang berlokasi di kompleks perkantoran elite Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Adapula Hotel Amaris Madiun dan Swiss Belhotel Yogyakarta.

Dilihat dari pertumbuhan bisnis pada 2017, perusahaannya masih ditunjuk menangani sejumlah proyek seperti The 101 Palembang, Aloft Wahid Hasyim, perkantoran, dan private residence.

Di tahun ini, dia tengah menangani sejumlah private residence di Jakarta dan luar Jakarta. Nilai anggarannya sama dengan pengerjaan satu hotel. Secara jujur dan berkelakar, dia menyatakan perputaran uang dalam proyek tersebut lebih cepat, karena klien ingin segera menempati huniannya.

Tahun ini direncanakan pula peluncuran brand retail Reborn. Mass product seperti lemari maupun meja yang kriteria harganya fix furnitured menyamai atau bahkan di bawah harga produk keluaran IKEA. Foto: Fikar Azmy

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan majalah Women’s Obsession edisi April 2018

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here