Najelaa Shihab | Romantisme Dunia Pendidikan

Selama dua dekade, ibu tiga anak yang juga lulusan Magister Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini menggagas aneka inisiatif untuk mendorong perkembangan pendidikan di Indonesia.

Wanita yang akrab disapa Elaa ini lebih senang disebut penggiat pendidikan dan menyimpan optimisme transformasi pendidikan ke arah yang lebih baik.

Keinginan untuk menjadi pendidik tampaknya sudah ada dalam diri saya sejak kecil. Dilatarbelakangi seringnya menyaksikan ayahanda yang juga seorang pendidik, teman-teman kecil bilang saya selalu ingin menjadi guru.

Seiring waktu, saya semakin yakin bahwa pendidikan dan perkembangan anak itu bidang yang ingin saya geluti. Setelah lulus, saya menjadi dosen di Universitas Indonesia. Dua tahun kemudian mulai mendirikan pra sekolah Cikal waktu itu yang hingga sekarang sudah tahun ke-19.

Menjalani rutinitas di bidang ini didasari kesenangan saya mengerjakan pendidikan. Meskipun, tidak semuanya penuh kesenangan. Sebetulnya, perjalanan menjadi pendidik banyak tantangannya. Namun, nikmatnya melihat pertumbuhan anak, menyaksikan perubahan yang terjadi di keluarga maupun di masyarakat dan  kelompok orang menjadi lebih terdidik sangat tidak ternilai.

Saya selalu bilang, menjadi pendidik itu romantis. Saya percaya pada kekuatan perubahan dan perjalanan pendidikan itu panjangnya puluhan tahun. Bila kita melakukan sesuatu hasilnya memang tidak kelihatan nyata, beda dengan membangun jembatan misalnya.

Dalam mendidik seseorang perubahan yang terjadi itu di pikiran dan perasaan, kita harus menjadi orang yang optimis. Saya selalu mengibaratkannya seperti menanam pohon yang berbuahnya memang tidak cepat, tetapi bermanfaat buat generasi-generasi di masa depan dan insya Allah menjadi berkah.

 

Semua Murid Semua Guru

Menyoal pendidikan, saya berani menyampaikan fakta kondisi pendidikan di Indonesia darurat saat ini. Jumlah anak yang tidak sekolah masih sangat banyak sekitar 5,1 juta. Baik itu karena tidak mendapatkan akses, putus sekolah karena pernikahan dini, bekerja, dan sebagainya. Kualitas pun beragam masalah.

Banyak anak sekolah tidak bisa membaca dan tidak mengerti apa yang dipelajari. Tak terhitung jumlah anak yang menjadi korban kekerasan, hingga masalah kesenjangan yang besar sekolah di kota maju dan desa.

Anak-anak kita harus menghadapi berbagai tantangan yang berkembang cepat. Tetapi saya berpandangan, jika ada banyak masalah maka ada banyak kesempatan bagi kita untuk mengambil peran. Sikap saling menyalahkan tidak menjadi solusi.

Saya ingin mengajak orang sebanyak-banyaknya untuk peduli pendidikan dan bekerja bersama-sama. Banyak orang berpikiran pendidikan itu urusan sekolah dan guru, padahal faktanya kita semua murid semua guru.

Semua murid artinya apapun profesinya, kita masih terus belajar. Semua guru bermakna kita bisa menjadi teladan bagi anak-anak. Pelajaran tidak hanya didapatkan di sekolah. Kita semua perlu ambil tanggung jawab. Apa yang dia baca di media, didapat dari keluarga dan tetangga, maupun yang dilihat di jalan raya itu bisa menjadi pendidikan. Angie Diyya | Fikar Azmy

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Mei 2018

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here