Fery Farhati Ganis | Tantangan di Balik PKK & Bunda PAUD

Kami memprioritaskan kegiatan kepada mereka yang belum sejahtera dan daerah miskin, agar bisa memotong rantai kemiskinan. Salah satunya lewat progam OK OCE yang memiliki pelatihan untuk warga.

 

Memasuki tempat kediaman Fery Farhati Ganis yang berlokasi di Lebak Bulus, Jakarta Selatan suasana asri penuh pepohonan hijau, aneka bunga, dan kicauan berbagai burung nan merdu segera menyambut segera kedatangan tim Women’s Obsession.

Sebelum memasuki hunian utama, kami terlebih dahulu melewati rumah joglo kayu berisi beragam buku yang berfungsi sebagai tempat pengajian, musolah, dan tempat kegiatan dengan masyarakat setempat. Setelah menuruni tangga ke bawah bak bungker, kami pun disambut Fery di ruangan utama rumah yang ternyata memiliki halaman luas dan sejuk di atas tanah 1400 meter.

Dia sekeluarga sudah tinggal di sini sejak Desember 2013 dan memang sengaja membuat rumah tanpa pagar di daerah perkampungan, selain tanahnya jadi bisa leluasa, juga dengan maksud agar anak-anaknya bisa bergaul dengan teman-temanya dari berbagai kalangan.

Sebelum sang suami Anies Baswedan menjadi gubernur DKI Jakarta, berbagai aktivitas sosial seperti kegiatan Pembinaan Kesehatan Keluarga (PKK) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memang biasa dilakukan di pendopo rumahnya.

Kebetulan Fery sempat mengambil S2 dalam bidang Ilmu Keluarga, Konsumen, dan Nutrisi di Northern Illinois University, Amerika Serikat. Dia berkata, “Karena saya belajar parenting education, ilmu yang didapatkan lebih baik saya sharing saja. Hidup rasanya akan lebih berarti, kalau kita bisa berbagi untuk orang-orang di sekitar kita.

Begitu pun dengan suami saya yang sejak awal membangun rumah sudah memikirkan apa yang bisa diperbuat dengan tanah kosong ini terhadap sekeliling. Kemudian kami memfasilitasi dengan pendopo tempat  melakukan berbagai hal yang berguna bersama, apalagi ibu-ibu di sini aktif melakukan kegiatan PKK dengan sepenuh hati.”

Seminggu sekali Fery mengajak kumpul bersama di rumah joglo memberikan materi parenting. Dengan bergulirnya waktu dia kemudian terpikir untuk berbuat sesuatu yang lebih berguna dan terorganisasi.

“Saya pun tertantang membuat Komunitas Rumah Pencerah. Kami berhasil membuat buku pegangan tim pengajar, sehingga ada pengayaan untuk mereka. Kemudian mengajak ibu PKK membuat  Pos Windu. Setiap sebulan sekali ada ibu-ibu lansia melakukan cek kesehatan,” lanjutnya.

TANGGUNG JAWAB BARU

Setelah suaminya menjadi gubernur DKI Jakarta, secara otomatis Fery pun didapuk menjadi ketua tim penggerak PKK DKI Jakarta.  Anies berkomitmen ingin menjadikan DKI Jakarta sebagai kota yang membahagiakan untuk semua pihak. Itulah sebabnya, keluarga sebagai unit terkecil harus dibina dan diberikan dukungan.

Tim Penggerak PKK mesti memiliki program meningkatkan kesejahteraan keluarga. Fery bertekad untuk mendorong PKK semakin produktif dengan blusukan ke kampung-kampung dengan tingkat ekonomi warga yang rendah.

“Kami memprioritaskan kegiatan kepada mereka yang belum sejahtera dan daerah miskin, agar bisa memotong rantai kemiskinan. Salah satunya lewat progam OK OCE yang memiliki pelatihan untuk warga. Kita bisa mengajak pada ibu-ibu lewat program PKK mengikuti pelatihan wirausaha, sehingga usaha mereka memiliki pasar lebih besar,” ungkap ibu yang memiliki empat anak ini serius.

Walaupun, kerap dipandang sebelah mata, secara kelembagaan ini adalah satu-satunya kumpulan para volunteer yang memiliki struktur berjenjang rapi. Mereka menangani wilayah di mana mereka tinggal, sehingga mempunyai rasa kepemilikan sangat tinggi, termasuk untuk membantu masyarakat.

Di sisi lain mereka mengumpulkan berbagai informasi, dari data anak, kesehatan, berat badan anak, hingga usia pendidikan. Jadi kekuatan PKK  ada di datanya dan bisa bermanfaat untuk banyak hal.

 

Dia berpendapat, “PKK sebenarnya powerful dalam menyelesaikan berbagai masalah di Jakarta. Data yang dikumpulkan per enam bulan ini kalau tersusun rapi dengan manajemen yang jelas bisa menjadi rujukan dan informasi banyak pihak.

Kalau mahasiswa mau penelitian datanya lengkap, lalu bisa menjadi dasar untuk penentu kebijakan. Bahkan, sebagai acuan kerjasama dengan pemerintah dan mitra lain dalam bentuk program CSR yang tepat guna dan sasaran. Berbagai permasalahan kemiskinan, kesehatan, dan pendidikan di masyarakat pun bisa terbantu solusinya.”

Kalau kita terjun ke lapangan banyak ibu-ibu yang sudah melakukan UMKM ternyata  pengetahuan tentang  wirausahanya sangat minim. Pemasukan dari usaha bercampur aduk dengan kebutuhan pengeluaran keluarga, sehingga usaha mereka tidak berkembang maksimal.

Sambil berjalannya waktu dan bekerjasama langsung didukung orang-orang yang sudah berpengalaman sebagai  pengurus PKK, Fery merasakan pekerjaan ini sungguh menarik dan menantang. Apalagi, dia berkesempatan berkenalan dan mendalami PKK di enam wilayah di Jakarta maupun Kepulauan Seribu. Elly Simanjuntak | Fikar Azmy

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan majalah Women’s Obsession edisi April 2018

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here