Carmelita Hartoto | CEO Andhika Lines

Ketika mencari sosok perempuan tangguh, tegas, dan passionate di dunia pelayaran Nusantara, dialah Carmelita Hartoto. Perempuan asal Surabaya ini merupakan generasi kedua yang sukses bersinar.

Prestasi Carmelita Hartoto terus meroket usai menerima tongkat estafet kepemimpinan dari mendiang ayah tercinta, Hartoto Hardikusumo. Kecakapannya dalam mengelola dan menakhodai bisnis pelayaran menciptakan amanah baru sebagai perempuan pertama yang duduk di tampuk pimpinan Indonesian National Shipowners Association (INSA).

Selama dua periode berturut-turut, sulung dari tiga bersaudara ini terpilih dengan suara terbanyak, bahkan di rapat umum XI INSA Agustus 2015, dia terpilih secara aklamasi sebagai ketua INSA periode 2015-2019.

Dia juga aktif di KADIN Indonesia sebagai Wakil Ketua Umum Bidang Perhubungan periode 2015-2020 dan Bendahara sejak 2013. Dengan segudang kegiatan tersebut, dia juga aktif dalam kegiatan seminar dan forum untuk menyerap masukan bagi pemerintah selaku regulator.

Sekaligus sosok yang vokal dalam memperjuangkan aspirasi pengusaha nasional di sektor yang menjadi fokus perhatiannya.

 

Di mata para anggota INSA, sang ketua terpilih telah menunjukkan komitmen yang tinggi untuk memperjuangkan nasib para pengusaha pelayaran nasional. Dia juga telah dianggap layak kembali dipilih menjadi Ketua INSA untuk dua periode berturut-turut.

Beberapa hal yang berhasil dilakukan oleh Carmelita selama masa jabatannya sebagai ketua ialah adanya komunikasi harmonis antara pengurus dengan anggota INSA dan terbentuknya kemitraan kerjasama antara INSA dengan pemerintah, khususnya Kementerian Perhubungan.

Baik berupa kontribusi pemikiran untuk regulasi pelayaran maupun penyelesaian masalah pelayaran. Tidak hanya itu, Carmelita juga dikenal sangat lantang dan berani dalam memperjuangkan hak anggotanya.

Seperti, upayanya untuk meringankan pengadaan kapal (Ratifikasi Arrest of Ship), tekanan untuk pemerintah agar lebih fokus mengurus bidang maritim, serta meninjau ulang PNBP. PPN BBM Nol Persen.

Selain itu, dia juga memperjuangkan Azas Cabotage untuk kapal merah putih menjadi tuan rumah. Pada bulan Juli 2016 lalu, INSA menyatakan siap untuk bekerja sama dengan Menteri Perhubungan untuk memajukan sektor maritim di Indonesia.

Carmelita selaku ketua INSA juga mengharapkan dengan terpilihnya Menteri Perhubungan yang baru akan memberikan energi baru yang lebih positif bagi Indonesia, khususnya industri pelayaran.

Tantangan lainnya saat ini terbilang cukup banyak, terlebih pihak pemerintah memiliki tujuan untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Tantangan lain bagi industri pelayaran adalah pengimplementasian beyond cabotage yang saat ini telah sampai pada proses pencatatan nilai ekspor dalam bentuk cost, insurance and freight (CIF).

Selain aktif dan menjabat sebagai ketua INSA, dia juga merupakan Direktur Utama Andhika Lines. Perusahaan yang bergerak di bidang pelayaran, tepatnya jasa pengiriman jalur laut. Awalnya, saham perusahaan Andhika Lines sendiri dimiliki beberapa pihak.

Namun, di tahun 2002, Carmelita dan pihak terkait memutuskan untuk berpisah dan membagi aset perusahaan, karena visi dan misi yang tidak lagi sama. Sejak saat itu, dia sendirilah yang memimpin perusahaan milik sang ayah tersebut.

Di pembagian aset tersebut, Carmelita hanya memiliki dua kapal sebagai miliknya. Dari sanalah, dia berusaha mempertahankan laju perusahaan dengan dua kapal tersisa.

Tahun 2007 menjadi titik balik dari perusahaan yang dipimpinnya. Dua tahun kemudian, Andika Lines berhasil menambah armada kapalnya menjadi sembilan buah kapal.

Maju ke pasar internasional salah satu mimpi awal Carmelita dalam memimpin perusahaannya. Kini, hal tersebut ternyata tidak hanya menjadi mimpi. Perusahaannya telah berhasil menembus pasar luar negeri.

Meski di awal debutnya mereka harus memperbaiki kapal-kapalnya, namun tidak menjadi penghalang berarti. Perbaikan kapal ini dilakukan, karena standarisasi pemeriksaan kapal untuk safety dan konstruksi skala internasional jauh lebih ketat.

Sejak awal, dia tidak pernah mempersiapkan diri untuk meneruskan bisnis ayahnya tersebut. Sebab, sebelumnya sang ayah menginginkan usahanya dikelola oleh tenaga profesional.

Namun, akhirnya dialah yang terpilih, karena merupakan anak tertua. Sepeninggal ayahnya, Carmelita berusaha untuk belajar dari nol semua hal tentang bisnis tersebut.

Pelabuhan pun, akhirnya menjadi tempat Carmelita belajar untuk selalu ‘menginjak’ bumi. Di sanalah, dia mulai berkenalan dengan orang-orang yang bekerja keras untuk mengisi perut mereka dan keluarga mereka di rumah.

Di balik tampilan yang sangar dari para pekerja di pelabuhan, ada rasa persahabatan dan kekeluargaan yang juga dirasakan olehnya. Dia juga mengamati, banyak anak muda yang seolah terjebak bekerja secara turun-temurun menjadi kuli, seperti bapak, anak, bahkan hingga kakek mereka masih bekerja sebagai buruh di pelabuhan.

Para pekerja di sana mengingatkanya bahwa hidup tak seharusnya hanya disibukkan dengan urusan uang, harta, membeli tas, jam tangan, dan baju bermerek.  Indah Kurniasih | Dok. Pribadi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here