Elza Syarief | Advokat

Nama elza syarief merekah di sejumlah kasus yang pernah ditangani. Sederet perkara yang menyeret banyak pengusaha, pejabat, hingga selebritis ke meja hijau, dengan anggun dituntaskannya. Tak semata mengejar karier, dia pun menaruh perhatian besar dengan dunia pendidikan dan kewirausahaan.

Elza Syarief tak pernah merencanakan hidupnya untuk menjadi seorang advokat. Hidup selalu berpindah-pindah kota sejak kecil membuatnya tak terlalu memusingkan perkara cita-cita. Dalam benaknya, bahkan dia hanya bermimpi jadi seorang ibu rumah tangga yang bisa mengurus anak-anak dengan maksimal.

Anak sulung dari tiga bersaudara pasangan Syarief. SE dan Hj Betty, ini, sejak kecil memang sering tinggal berpindah-pindah. Ayahnya yang bekerja di bank pemerintah, acapkali ditugaskan di beberapa kota berbeda.

Tak aneh, jika dia pernah bersekolah di Jakarta, Tegal, Semarang, Ambon, Makasar, Bandar Lampung, mengikuti alur hidup sang ayah. Sambil mengurus kedua buah hatinya, wanita kelahiran 24 Juli 1957 ini kemudian melanjutkan studinya dan diterima di Fakultas Hukum Universitas Jayabaya, Jakarta.

Di akhir masa kuliahnya, dia sudah mulai aktif di dunia hukum. Kasus pertama yang diurusnya adalah PHK massal satpam PT Telkom yang berakhir memuaskan kedua belah pihak. Setamat kuliah dan bertitel sarjana hukum, dia pun bergabung dengan beberapa kantor pengacara.

Awalnya di Ikatan Warga Satya, yaitu ex POMAD/CPM, lalu berkarier di kantor pengacara Palmer Situmorang, hingga akhirnya singgah di kantor pengacara ternama OC Kaligis.  Pada 3 Maret 1991 kantor pengacara bernama Elza Syarief and Partner pun berdiri (kini menjadi Elza Syarief Law Office –red). Untuk mengukuhkan profesinya, sebelumnya dia telah lulus ujian pengacara tahun 1989, ujian advokat tahun 1992, corporate lawyer 1998, dan pasar modal 1999.

Sejak itulah, namanya makin melejit seiring dengan makin banyaknya perusahaan besar yang menggunakan jasanya. Titik puncak dari ketenarannya, ketika dia menangani sejumlah kasus yang membelit keluarga Cendana, alm. Soeharto (Presiden Republik Indonesia kedua).

Beberapa perusahaan yang pernah ditanganinya, seperti perusahaan PT. TPN, PT. Timor Industri Komponent, PT. Mandala Citra Unggulan, PT. Mandala Pratama Permai, dan Humpuss Group. Karena kepiawaiannya dalam memenangkan perkara, dia didapuk menjadi advokat langganan keluarga Cendana.

Selepas itu, dia pun ditunjuk sebagai advokat oleh para pesohor negeri, juga ada kasus yang sangat menghebohkan di Indonesia hingga saat ini. Sejak tahun 2011, Elza Syarief menjadi kuasa hukum Nazaruddin yang kemudian bertindak sebagai Whistle Blower dan Collabolator, terbongkarnya tindakan korupsi di beberapa proyek besar

Seperti proyek Hambalang, E-KTP, dan beberapa proyek lainnya, sehingga melibatkan petinggi-petinggi Negara Republik Indonesia yang cukup kondang ke pengadilan. Pada 2016, ada nama motivator kondang, Mario Teguh yang mempercayakan kuasanya kepada ibu tiga anak ini.

Keinginannya untuk menolong sesama yang membutuhkan dibuktikan dengan menjadi Direktur Advokasi DPP SPMI (Serikat Pekerja Metal Indonesia) yang merupakan cabang dari International Metal Workers Federation. Ketua Umum Himpunan Advokat dan Pengacara Indonesia (HAPI) ini juga memiliki sebuah sekolah tingkat menengah (SMP Islam Plus) Asy Syarief dan berencana akan membangun SMK gratis di Desa Sukatani, Cikarang, Jawa Barat.

Kini, Elza juga tengah berusaha menggeluti usaha tambang, selain beradvokasi. Beberapa perusahaan yang dimilikinya, antara lain PT Cemerlang Bumi Makmur yang merupakan tambang ziolithe beserta pabriknya, PT Agung Jaya Mandiri yang merupakan tambang andesit, PT Batu Besi Kencana yang bergerak di tambang batu besi, PT Kebun Citra Nugraha yang merupakan perkebunan kelapa, dan lain-lain.

Wanita berkacamata ini juga tak lepas dari dunia pendidikan. Hingga saat ini, dia menjadi dosen tetap di Universitas Internasional Batam dan Universitas Pancasila. Dan, sudah berpangkat asisten profesor melakukan riset di dalam negeri untuk Dikti maupun presentasi di berbagai universitas internasional, antara lain di Universitas Limerick, Irlandia, Universitas Oxford, Inggris, dan Universitas St. Petersburg, Rusia.

Ditunjuk pula sebagai chair di Project Managment Conference Japan di Gold Coast, Australia. Pada 5 Juni 2016, makalahnya telah diterbitkan dan tampil sebagai ahli hukum pertama Indonesia yang paper-nya diterbitkan di Scopus Journal. Pada 24 sampai 26 April 2017, Elza akan menjadi pembicara paper tersebut di Harvard University, Boston, Amerika Utara.

Tak berhenti di dunia pendidikan, Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini juga aktif mendirikan organisasi wirausaha perempuan, sekaligus sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Perkumpulan Perempuan Wirausaha Indonesia (Perwira). Saat ini, telah memiliki usaha 150.000 UKM dan UMKM yang dibina oleh Perwira se-Indonesia. Silvy Riana Putri | Dok. Pribadi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here