Emma Yohanna | Anggota komite III DPD RI

Emma Yohanna menjadi satu dari sepuluh tokoh masyarakat penerima pin emas yang diberikan langsung oleh Wali Kota Padang masa pemerintahan Fauzi Bahar.

Sadar menjadi perwakilan masyarakat Sumatera Barat (Sumbar) di parlemen, Emma Yohanna selalu tampil total dalam menyuarakan aspirasi konstituennya. Turba (turun ke bawah) pun menjadi agenda rutin bagi perempuan kelahiran 22 Januari 1955 ini. Tak heran, jika dia terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah untuk Propinsi Sumatera Barat selama dua periode terakhir.

Bagi Emma, demikian biasanya dia akrab disapa, menduduki kursi senat selama dua periode adalah amanah. Dari dua kali Pemilihan Legislatif (Pileg), dia selalu mendulang suara cukup banyak. Pada Pileg 2014-2019 lalu, dia meraih 314.053 suara.

Jumlah suara yang diraih memang bukanlah ukuran prestasi yang sesungguhnya. Tapi paling tidak, raihan itu menjadi indikator bahwa kinerja dan dedikasi Emma diapresiasi masyarakat Sumbar.

Kini, Emma duduk di bangku Komite III DPD yang mempunyai lingkup tugas untuk membuat rancangan undang-undang yang berkaitan dengan pendidikan, agama, kesehatan, tenaga kerja, pemuda dan olahraga, perempuan dan anak, ekonomi kreatif, sosial, perbukuan, serta sosial. Namun di lapangan, Emma selalu tampil totalitas di berbagai sektor.

Salah satunya ketika ikut turun tangan meninjau persiapan haji di daerahnya. Dia merasa perlu memantau persiapan setiap calon jemaah haji dan pemerintah daerah. Di bidang pendidikan, ibu empat anak ini juga sempat mengomentari pengawasan ujian nasional tahun 2016 yang dirasakan masih kurang sempurna. Pasalnya, masih saja terjadi kebocoran soal dan jawaban di sekolah-sekolah.

Untuk menjemput aspirasi dari masyarakat, dia tak segan berkunjung ke sekolah-sekolah dan perpustakaan buku. Selain melihat dari dekat, dia juga membawa informasi penting untuk kemajuan dunia pendidikan, semisal program di bidang perbukuan/perpustakaan yang dimiliki DPD. Program tersebut menyasar hibah buku untuk perpustakaan publik yang tersebar di kabupaten/kota melalui Badan Perpustakaan dan Kearsipan Propinsi Sumbar.

Pada Januari 2017, Emma sempat ‘menggeruduk’ kantor Badan Narkotika Nasional Provinsi Sumatera Barat (BNNP Sumbar). Dalam kunjungannya, dia mendapat data yang membuktikan bahwa peredaran narkoba di daerah tersebut sudah masuk hingga ke pelosok-pelosok daerah kabupaten/kota.

Penggunanya pun beragam dari dewasa, remaja, hingga anak-anak ikut menjadi pelaku pengguna barang terlarang tersebut. Pada kesempatan itu, dia juga meminta untuk melakukan pengurangan peredaran lem, karena dianggap menjadi pintu masuk bagi narkoba.

Dia tak hanya vokal di ‘lapangan’, di parlemen pun dikenal sebagai senator yang tak gentar menyuarakan pendapatnya. Di antara statement kritisnya yang mendesak adalah saat ini DPD tengah berjuang untuk meningkatkan peran maupun fungsi kelembagaan bersama DPR dan eksekutif.

Sosoknya pun menjadi satu dari sepuluh tokoh masyarakat penerima pin emas yang diberikan oleh Wali Kota Padang masa pemerintahan Fauzi Bahar. Prestasi lain yang diraihnya adalah diamanahkan sebagai ketua Majelis Taklim Indonesia (MTI) Sumbar untuk periode 2016—2020 pada September 2016.

Dia juga memangku sejumlah jabatan penting, di antaranya Ketua Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI), Wakil Ketua Forum Anak Usia Dini Sumbar, Presidium KAHMI Sumbar, Ketua IWAPI Sumbar, dan aktif mengelola beberapa sanggar seni, budaya maupun rumah baca.

Alumni IAIN Imam Bonjol Padang ini juga mengepalai yayasan pendidikan, seperti Taman Kanak-kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD) Citra Al-Madina serta sebuah rumah sakit ibu dan anak. Indah Kurniasih | Fikar Azmy

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here