Renitasari Adrian | Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation

Mempromosikan dan melestarikan budaya Indonesia dengan konsep kekinian melalui seni pertunjukan secara aktif digaungkan oleh Renita. Kecintaan plus konsistensi terhadap seni dan budaya Indonesia membuatnya dikenal dan sangat dekat dengan seniman-seniman besar di Tanah Air.

 

Perempuan kelahiran 12 Februari 1974 ini telah memiliki pengalaman selama 24 tahun di bidang public relations dan brand management. Sejak tahun 2010, Renitasari Adrian yang biasa disapa Renita ini menjabat sebagai Direktur Program Bakti Budaya Djarum Foundation. Dia bertanggung jawab menjalankan program Corporate Social Responsibility (CSR) yang fokus memajukan seni budaya Indonesia, khususnya seni pertunjukan. Agar bisa tumbuh menjadi industri dan dapat menghidupi seniman Indonesia.
Sosok di balik berdirinya Galeri Indonesia Kaya (GIK) adalah berkat tangan dingin perempuan yang senang dengan berbagai produk asli Indonesia ini. Ibu lima anak ini berhasil mengemas sebuah ruang publik edutainment budaya berbasis multimedia pertama di Indonesia yang dapat diakses masyarakat secara gratis. GIK menjadi wadah yang mempertemukan seniman dan hasil karyanya kepada masyarakat Indonesia.
Mempromosikan dan melestarikan budaya Indonesia dengan konsep kekinian melalui seni pertunjukan secara aktif digaungkan oleh Renita. Kecintaan plus konsistensi terhadap seni dan budaya Indonesia membuatnya dikenal dan sangat dekat dengan seniman-seniman besar di Tanah Air. Sehingga mengantarkannya meraih berbagai penghargaan dari berbagai media di Indonesia. Visi misi Djarum Foundation adalah ingin membuat Indonesia lebih baik dengan filosofi memajukan Indonesia menjadi negara didgaya yang seutuhnya. Sekaligus membuat masyarakat lebih mencintai budayanya. Bahkan, kalau bisa membuat setiap orang menjadi ambassador budaya Indonesia.

 

“Tidak mudah memang menumbuhkan rasa percaya dan suka masyarakat terhadap seni pertunjukan budaya, apalagi orang Indonesia sendiri bukannya tidak mampu membeli tiket pertunjukan. Faktanya berbagai pagelaran musik dari Barat yang datang ke Indonesia, bahkan dengan harga tiket jutaan, selalu sold out,” tambah perempuan pencinta travelling tersebut. Itulah tantangan Renita ke depan yang harus didukung oleh berbagai pihak, agar seni pertunjukan bisa dicintai dan dilestarikan oleh masyarakat Indonesia sendiri.
Tak hanya aktif di dalam negeri, Bakti Budaya Djarum Foundation bersama desainer Indonesia, Denny Wirawan beberapa waktu lalu membawa wastra Indonesia ke panggung fashion dunia, Fashion Gallery New York Fashion Week (FGNYFW) 2016. “Melalui lini etnik Balijava dengan koleksi Batik Kudus. Sebanyak 15 looks bergaya modern, edgy, dan elegan koleksi Fall/Winter sang perancang dipamerkan di hadapan para pecinta fashion di Ballroom Hotel Affinia Manhattan New York,” ujar perempuan yang telah membina pembatik Kudus sejak tahun 2011 sebagai bagian dari upaya pelestarian wastra Indonesia ini dengan bangga.

Di tahun yang sama, Renita diamanahkan sebagai salah satu juri The Big Start Indonesia. Program kompetisi di antara pengusaha industri kreatif yang digelar oleh Blibli.com dan Badan Ekonomi Kreatif RI (Bekraf) dari Juni hingga Oktober 2016. Pada Februari 2017, Bakti Budaya Djarum Foundation juga mendukung pementasan Setan Jawa, sebuah film bisu hitam putih karya Garin Nugroho yang menjadi karya utama dalam Asia Pacific Triennial of Performing Arts (Asia TOPA) di Arts Centre Melbourne’s Hamer Hall pada Februari 2017. Setan Jawa ini membangkitkan mitologi Jawa melalui genre horor kontemporer dengan iringan live orkestra gamelan Indonesia karya Rahayu Supanggah yang dimainkan 20 pengrawit (pemusik gamelan) dan berkolaborasi dengan 20 orang musisi Melbourne Symphony Orchestra, orkestra simfoni tertua di Australia dengan konduktor Iain Grandage. Elly Simanjuntak | Dok. Pribadi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here