Rita Widyasari | Bupati Kutai Kartanegara

Tak salah menyematkan predikat ‘Perempuan Hebat’ kepada Rita. Dalam ajang Pedang Keadilan Award 2016, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise menyematkan anugerah sebagai salah satu dari sembilan Perempuan Hebat Indonesia.

Tak banyak pemimpin wanita yang mampu menyamai prestasi yang diraih Rita Widyasari. Performanya yang konsisten dalam bekerja keras mengangkat derajat Kutai Kartanegara (Kukar) dan seluruh rakyatnya, menjadi inspirasi bagi banyak wanita.

Wanita bupati pertama di Kaltim ini berhasil mengubah paradigma usang bahwa perempuan tak layak menjadi pemimpin. Tak heran, jika dia kembali terpilih untuk periode kedua pada 2015, dengan perolehan suara fantastis, 89,44%. Rita pun sukses dinobatkan sebagai satu dari Sembilan Perempuan Hebat Indonesia.

Tahun 2016, penghargaan bagi Rita terus mengalir deras dari berbagai lembaga atas prestasinya di berbagai bidang. Dalam hal reformasi birokrasi, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar meraih nilai tertinggi se-Kaltim dalam Laporan Akutanbilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) tahun 2016 oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, dengan skor 66,10.

Lebih tinggi dari LAKIP 2015 yang memperoleh skor 65. Inilah buah dari upaya pelaksanaan reformasi birokrasi yang terus dilakukan oleh Pemkab Kukar. Nilai LAKIP 2016 yang diraih Pemkab Kukar masuk dalam klasifikasi nilai B dan merupakan yang tertinggi di Provinsi Kaltim.

Itu baru sepotong aspek dari begitu banyak tugas dan tanggung jawab seorang pemimpin daerah. Memahami betul posisinya sebagai pengemban amanah rakyat, Rita memang berusaha mencurahkan segala bentuk pengabdian untuk masyarakat Kukar.

Mulai dari pembangunan fisik, pendidikan, insfratruktur, kesehatan, hingga aspek budaya dan pariwisata. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bagi ibu tiga anak ini bahwa dia kelak akan menjadi pemimpin di daerahnya, bahkan dipercaya untuk kedua kalinya.

“Saya lihat bapak saya waktu jadi bupati, 24 jam tidak pernah stirahat. Rumah jabatan selalu didatangi masyarakat, dan bapak selalu ada untuk mereka,” tuturnya.

Tapi, saat nama baik ayahnya jatuh, muncul tekad dan semangat untuk mengembalikan nama baik sang ayah, mendiang Syaukani. Meskipun, dia juga menyadari bahwa Kukar sepeninggal ayahnya berada dalam situasi terpuruk.

Perhatiannya pada dunia pendidikan dan pemberdayaan perempuan patut diacungi jempol. Salah satu programnya, mengalokasikan anggaran 2% untuk pemberdayaan perempuan. Dana dimanfaatkan untuk memberikan kredit usaha, membuat taman bermain untuk anak-anak, program Keluarga Berencana, dan program melahirkan gratis.

Kukar di bawah kepemimpinan peraih gelar doktor dari Universitas Utara Malaysia ini, akhirnya menerima penghargaan Parahita Ekapraya (APE) 2016 Tingkat Utama sebagai kabupaten yang memiliki komitmen dalam upaya mewujudkan Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Andi Nursaiful | Fikar Azmy

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi April 2017

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here