DIAN SISWARINI | The Untold Story (Part 2)

“Saya bersyukur anak saya bisa terdeteksi di usia lebih dini, sehingga masih ada peluang untuk sembuh. Adanya play time yang teratur bersama orang terdekat, ditambah dengan sikap saya dan suami yang mau menerima keadaan ini.”

Ketika bekerja Dian tak sekadar hanya menghabiskan waktu, melainkan sungguh-sungguh dan memiliki target jangka pendek dan panjang. Namun, bukan berarti  semuanya berjalan mulus dan tidak ada tantangan menghadang. Saat menekuni bidang ini, dia memang tidak mendapati kesulitan berarti.

“Hanya saja, sewaktu anak kedua saya berumur 1,5 tahun didiagnosa masuk dalam spektrum autis, walaupun bukan kategori yang berat, ini menjadi dilema buat saya. Apakah  karier saya harus ditinggalkan atau berusaha me-manage keduanya? Waktu itu jabatan saya berada di posisi level manajer. Ini menjadi masa-masa terberat dalam hidup saya,” cerita Dian dengan nada sedih.

Suami dan keluarga besarnya begitu peduli dengan problem ini dan membantu Dian mencari jalan keluar. Kebetulan kakak iparnya adalah seorang dokter spesialis anak untuk autism child.

Dia berusaha menolong dan membuat jadwal terapi harian, mingguan, dan monitoring secara khusus. “Kami mesti berobat ke Bandung dan saat itu belum ada tol langsung ke sana. Untuk terapi harian dari jam tujuh pagi sampai delapan malam itu tugas saya dan suami. Kami membagi tugas sebaik mungkin. Ibu, saudara dan suster anak saya juga bergantian mau membantu kami,” lanjutnya.

Setiap minggu putera Dian diajak ke Bandung untuk di-review oleh saudara yang memiliki klinik autis satu-satunya di Indonesia saat itu. Perjalanan ke sana memakan waktu sekitar lima jam membawa anak special needs yang rewel dan sering tantrum, bukanlah pekerjaan yang mudah.

Setelah  berjalan setahun, Dian sempat mengeluh kelelahan kepada suaminya dan berniat untuk berhenti kerja saja. Tapi, sang suami memberikan penguatan untuk mencoba bertahan, karena dirinya mempunyai talenta dalam berkarier. Sebagai jalan keluar akhirnya mereka merelakan salah satu ruangan di rumah untuk dijadikan klinik terapi autis, sehingga ke Bandung bisa sekali sebulan saja.

“Saya bersyukur anak saya bisa terdeteksi di usia lebih dini, sehingga masih ada peluang untuk sembuh. Adanya play time yang teratur bersama orang terdekat, ditambah dengan sikap saya dan suami yang mau menerima keadaan ini.

Alhamdullillah, meskipun melelahkan setelah tujuh tahun diterapi, akhirnya dia bisa menjadi normal dan bersekolah seperti anak-anak lainnya,” lanjut Dian terharu akan keberhasilan putranya yang tak terasa kini sudah kelas tiga SMA.

Dian berterus terang permasalahan anaknya ini pada saat tersebut tidak diketahui oleh orang-orang di kantornya, karena dia tidak mau diperlakukan secara berbeda oleh mereka. Jadwal terapi anaknya yang bisa diatur tanpa berbenturan urusan kantor dan adanya bala bantuan dari keluarga, membuatnya bisa tetap berkerja dengan baik.

L1010138 web 1PENYEMANGAT HIDUP

Agar kehidupannya jadi tidak membosankan, Dian selalu berusaha mencari cara untuk membuat hari-harinya bisa menyenangkan.

“Kami sekeluarga senang traveling ke dalam dan luar negeri bersama-sama. Walaupun, agak sulit menyamakan agenda perjalanannya, karena perbedaan usia ketiga anak saya yang masing-masing berjarak  lima tahun.

Mereka mempunyai kesukaan dan minat berbeda. Tapi, kami berusaha berkompromi dan menyatukan minat,” papar penyuka busana Biyan dan batik Iwan Tirta ini. Kesukaannya pergi ke spa untuk pijat refleksi juga berhasil ditularkan kepada anak bungsunya dan sang suami.

Begitupun dengan olahraga golf yang menghabiskan waktu cukup lama. Agar bisa tetap dekat dengan keluarga, dia tak segan-segan mengajak suami dan anak-anak untuk mengikuti olahraga ini.

Kegiatan spa dan golf akhirnya menjadi family activity di akhir pekan, diselingi dengan aktivitas menonton film di bioskop. “Sejak menjadi CEO XL, saya membutuhkan film lucu yang merilekskan pikiran dan saya menjauhi jenis film-film ‘berat’ dan membutuhkan pemikiran serius.

Dengan kegiatan yang menyenangkan, diri saya pun jadi kembali bersemangat saat dan siap  disibukkan kembali dengan aktivitas sehari-hari,” tambahnya seraya tersenyum menutup pembicaraan dengan Women’s Obsession. Elly SimanjuntakFikar Azmy & Dok. Pribadi

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi April 2016

 

Dian Siswarini The Untold Story (Part 1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here