Julita M. Saragih Co Founder Rudy Project Indonesia | Agama Menjadi Pondasi

Co Founder Rudy Project Indonesia

Setiap perempuan memiliki resep tersendiri dalam mengelola kehidupan rumah tangganya. Termasuk pula, Julita yang selalu melandaskan agama di setiap langkahnya. Tak hanya gigih dalam bekerja, dia juga tak pernah menanggalkan doa dan ibadah kepada sang Khalik.

Dia meyakini hanya kepada Allah bergantung ataupun memohon untuk setiap ikhtiar. Konsep tersebut juga diterapkan dalam pola asuh anak-anak. Bersama suami, dia menyepakati sekolah anak-anak berlandaskan ajaran Islam yang kuat dan berstandar internasional.

Tujuannya sederhana, agar besar nanti termasuk ke dalam barisan laki-laki pemimpin kuat dan bertanggung jawab secara agama. “Kami berdua akan sepenuhnya membekali mereka dengan agama. Inilah perisai perlindungan yang tak pernah berkhianat dan berdusta. Menjadi pemandu mereka ketika tergoda keluar dari track yang sebenarnya. Tak lupa, doa yang selalu kami panjatkan kepada Illahi,” urainya dengan nada serius.

Ketika membicarakan arti anak-anak di dalam kehidupannya. Nada suara dan binar matanya pun langsung tampak berbeda. Tersirat kasih sayang yang mendalam bak membicarakan pelita hati. Saat diajak berkelana waktu, seandainya dia diberikan kesempatan ke waktu lampau, hal tertunda apa yang ingin diberikan kepada kedua jagoannya.

 

Co Founder Rudy Project Indonesia

“Saya terus berupaya menjadi sosok ibu terbaik untuk kedua anak saya. Bila diberikan kesempatan, saya ingin memberikan lebih banyak waktu kepada mereka. Namun, alhamdulillah-nya, Rayyan dan Adam adalah anak-anak yang sangat memahami mama dan papanya.

Tadi pagi sempat mengobrol soal waktu kebersamaan dengan Rayyan. Ketika mendengarkan komentarnya, saya begitu terenyuh dan hanya bisa memeluknya erat. Dia berkata mama doing business untuk kita. Jadi, aku mengerti. Meskipun mama tidak selalu di sampingku, tapi dia selalu hadir di kala aku membutuhkan,” lirih Julita.

Saat ditanya mengenai figur suami, Julita terbuka mengurai hal-hal yang menggetarkan hatinya hingga saat ini. Memasuki usia 17 tahun pernikahan, di matanya sang suami adalah imam yang terus berkembang.

“Dialah inspirasi dan belahan jiwa saya. Memahami segala kekurangan dan kelebihan berbagai karakter dalam diri. Penyayang, penyabar, dan mampu ‘mengerem’ ketika saya ingin segalanya cepat atau buru-buru.

Meskipun, beliau adalah mualaf, dia tak pernah berhenti mendalami agama seutuhnya. Dari hari ke hari, saya melihat dia bertumbuh, getaran itulah yang membuat saya terus jatuh cinta. Imam yang saleh dan ayah penyayang,” bangganya.

Lalu, seperti apa obsesinya lima tahun ke depan. Selain menguntai harapan terus bertumbuh dan lebih baik dalam segala hal, dia menuturkan ingin mewujudkan salah satu proyek akhirat.

“Kami berencana membangun Al Quran Learning Centre (ARAS) dan masjid di kampung halaman, tepatnya di sekitar danau Toba. Betapa nikmatnya melihat anak-anak belajar baca Al Quran sembari memandang keagungan Allah,” tuturnya.

Bukan itu saja, mereka juga merencanakan menetap di Batam dalam beberapa tahun mendatang. Di mata mereka, wilayah tersebut menjanjikan dalam pertumbuhan bisnis dan masih memiliki ekosistem lingkungan yang masih terjaga.

Co Founder Rudy Project Indonesia

Selalu Menjalin Bonding
Me time bagi saya adalah bersama suami, anak-anak, sahabat, dan keluarga. Bisa dibayangkan bekerja di ibukota, betapa kita terlarut bekerja dengan tim dan kolega profesional. Sementara, orang-orang terdekat berperan sebagai support system yang suportif. Jadi, ketika memiliki waktu luang kami travelling atau makan bersama,” tukas Julita.

Bisa dibilang travelling adalah momen-momen kebersamaan yang dilakukan minimal satu tahun sekali. Selain sebagai wadah melatih anak-anak dalam kemandirian dan pengenalan budaya, baik pula untuk menunjukkan hasil dari kerja keras dari kedua orang tua. Julita memang menerapkan gambaran kebutuhan atau keinginan tidak bisa didapatkan dengan mudah.

Menjalani bisnis yang kadang menuntutnya bepergian, bukanlah halangan untuk tetap menjalin ikatan dengan anak-anak. “Beruntung, kami terbantu dengan berbagai sarana komunikasi di smartphone. Mereka bisa menelepon saya kapan pun, ketika berada di luar kota. Saya akan selalu menemani, meskipun belum bisa bertemu secara fisik,” serunya.

Selain olahraga lari dan pergi ke pusat kebugaran, bersepeda menjadi aktivitas olahraga yang digemarinya. “Saya teringat ketika pertama kali ikut menggowes di ajang Jelajah Wanita Malaysia atau JWM 2016 bersama komunitas sepeda Rudy Project Indonesia.

Setiba di kamar terasa kesakitan, karena pertama kali dan kurang persiapan, tetapi saya malah jadi ketagihan. Hingga saat ini, saya pernah melakukannya di Palembang dan Magelang. Tempat terakhir ini cukup menantang, karena jenis trek yang biasa dilalui off road. Dan, terus berkembang, baik dari segi tantangan maupun jaraknya,” targetnya. Silvy Riana Putri | Fikar Azmy

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here