Ratih Darmawan Gianda Country Head Samsonite Indonesia | Memilih Tetap Loyal

Dia sangat mempercayai segala sesuatu harus melewati suatu proses yang tidaklah semudah kata-kata. Tak ada yang bisa dipelajari di dunia ini selama memiliki passion dan keyakinan akan sebuah nilai kesuksesan.

 

Lahir sebagai anak bungsu dari enam bersaudara yang semuanya perempuan, tak membuat Ratih Darmawan Gianda menjadi anak manja dan tidak mandiri. Dia tumbuh dalam suasana keluarga moderat dan tidak menyalahgunakan kebebasan yang diberikan orang tuanya.

Meskipun, hidup berkecukupan sejak kecil, dia dididik untuk belajar peduli kepada sekeliling dan harus terbiasa untuk tidak bergantung kepada orang lain. Ibunya adalah salah satu sosok yang dia kagumi dan cintai, karena mampu mendidik anak-anaknya menjadi orang yang berhasil dan tahu apa yang terbaik bagi anak-anaknya.

“Termasuk ketika saya disarankan untuk mengenyam pendidikan business administration di Monash University Australia di Australia. Awalnya saya merasa berat jauh dari keluarga, namun ini menjadi pelajaran berharga yang mendidik saya menjadi pribadi yang tangguh dan selalu bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan.

Jika ada yang kuliah di luar negeri dengan fasilitas beasiswa dan dari keluarga yang kurang mampu, mereka mau struggle dengan bekerja guna mencukupi kebutuhan sehari-hari. Saya sangat menghargainya dan belajar dari mereka bahwa hidup adalah perjuangan,” kenang Ratih seraya tersenyum.

Itulah sebabnya, dia sangat mempercayai segala sesuatu harus melewati suatu proses yang tidaklah semudah kata-kata. Tak ada yang bisa dipelajari di dunia ini selama memiliki passion dan keyakinan akan sebuah nilai kesuksesan.

Terbukti, hanya dalam kurun waktu tiga tahun saja Ratih mampu menyelesaikan kuliahnya yang dia jalani sambil bekerja part time di salah satu department store terkemuka di sana.

 

SESUAI PASSION

Memang tidak semua orang bisa mendapatkan pekerjaan sesuai passion dengan mudah, begitu pun untuk seorang Ratih. Di awal kariernya dia  sempat  tiga kali berganti-ganti pekerjaan dalam setahun.

Sampai kemudian dia memilih bekerja di perusahaan yang masih kecil dan terlibat dalam proses panjang membesarkannya ternyata menjadi keasyikan tersendiri bagi dirinya.

Saat tahun 1992 Ratih bergabung dengan Mitra Adi Perkasa (MAP), perusahaan ini masih terbilang kecil dengan nama awal Mitra Prima. Namun, dengan prediksi insting kelak perusahaan ini akan berkembang besar, dia tak tergiur untuk hengkang ke perusahaan lain.

Dia memang diberi keleluasaan untuk berkreativitas dan ini merupakan tantangan yang menarik untuk mempraktekkan ilmu yang didapatkan sewaktu kuliah.

Sepanjang perjalanan kariernya hingga sekarang berbagai tantangan dia selalu temui dalam pekerjaan. Salah satu yang tersulit adalah mengerjakan sesuatu yang belum pernah dilakukan atau tidak terbayangkan sebelumnya.

Misalnya, saat di awal karier dia harus memasarkan produk-produk golf dan saya bukan seorang golfer. Saat itu hanya kalangan tertentu yang membeli produknya dan harganya pun tidak murah.

“Ini menjadi tantangan tersendiri, sampai akhirnya saya tertarik juga belajar main golf, agar menyatu dengan pekerjaan. Ayah saya kebetulan juga adalah pemain golf, dia senang sekali saat mengetahui saya meng-handle produk golf.

Meskipun, varian produknya bertambah banyak dan dituntut target harus terjual di pasaran, karena saya menyukai pekerjaan tersebut, akhirnya bisa dijalani dengan baik,” ujar Ratih dengan nada bersemangat.

Setelah sekitar tiga tahun memegang corporate sales untuk produk, dia kemudian ditantang untuk menangani bidang operasional. Dari hanya menangani tiga brand akhirnya berkembang sampai 20 merek. Setelah 12 tahun dan MAP kemudian go public, dia ditawari tugas baru sebagai group head investor relations. Padahal dirinya tidak memilik pengalaman di bidang tersebut, namun karena paham mengenai dunia finance, senang riset dan analisis, dia pun tak bisa menolaknya.

“Perusahaan MAP kemudian untuk pertama kalinya melakukan joint venture dengan Samsonite. Lagi-lagi karena tidak ada pilihan lain  saya akhirnya ditunjuk sebagai leader untuk menangani posisi sebagai orang tertinggi di sini.

Salah satu tips suksesnya dalam berkarier bisa tetap loyal adalah karena bekerja dengan passion.  Di awal memang keinginan kita seringkali banyak maunya. Namun, saat kita sudah jatuh cinta dengan pekerjaan dan mau untuk belajar banyak hal, waktu tidak lagi akan terasa.  Itulah yang saya rasakan di perusahaan  yang sekarang saya tekuni,” lanjutnya seraya tersenyum. Elly Simanjuntak | Edwin Budiarso

 

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan majalah Women’s Obsession edisi April 2018

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here