RITA WIDYASARI | Terus Berkarya

Semakin saya  mencintai Kukar, semakin saya tahu banyak hal yang harus diperbaiki dan uang saja tidak saja tidak cukup untuk  membangun Kukar, tapi dibutuhkan kebijakan yang  tepat.

 

Memiliki semboyan hidup muda berkarya, tua tetap jaya, mati masuk surga itulah yang membuat Bupati Kutai Katanegara Rita Widyasari selalu tertantang ingin terus berkarya dan membuat terobosan-terobosan baru yang bermanfaat untuk banyak orang.

“Saya orangnya memang tidak bisa diam. Seperti dulu sewaktu kuliah saya sempat sekolah sambil bekerja. Sekarang meskipun banyak pekerjaan, saya tak lupa tetap harus belajar. Karena hidup hanya sekali harus dimanfaatkan sebaik-baiknya,” ujarnya bersemangat.

Menceritakan kisah suksesnya membangun Kutai Kartanegara (Kukar), perempuan lulusan Universitas Padjajaran ini seperti tidak ingin terlalu menonjolkan diri.

Pasalnya, perjuangan masih panjang dan dia tidak akan pernah lelah bersama rakyatnya untuk terus menerus memperjuangkan Kukar agar lebih maju dan sejahtera. Sebagai ‘srikandi’ di Kukar, dia  memang memiliki semangat  ‘Bena Bumi Etam’, peduli pada daerahnya.


SEMAKIN CINTA KUKAR

Indikator keberhasilan Rita sendiri bisa dilihat dari 7 misi yang tercapai dengan baik dalam agenda kerjanya,  termasuk  yang berkaitan dengan urusan kesejahteraan dan pemberdayaan perempuan.

“Semakin saya  mencintai Kukar, semakin saya tahu banyak hal yang harus diperbaiki dan uang saja tidak saja tidak cukup untuk  membangun Kukar, tapi dibutuhkan kebijakan yang  tepat,” tambahnya.

Program langkah dan strategi yang dilakukan Rita untuk menyukseskan daerahnya antara lain dengan  memberikan kredit  tanpa bunga dan jaminan kepada sekelompok perempuan di sana.

Sementara, untuk produk bisnisnya diserahkan kepada kemampuan mereka masing-masing. Lalu, dalam urusan kesehatan dia membuat program Jamkesda, satu  desa satu bidan. Sekarang memang masih kurang 33 bidan lagi dan ada bidan yang belum mau ke masuk desa-desa.

Sementara, jumlah desanya ada  236.  Rita pun sudah melakukan perbaikan-perbaikan,  namun karena Kukar sangat luas membutuhkan biaya sangat besar. Uang senilai 7 triliun pun terbilang sedikit, karena yang dibangun banyak sekali.

Rita mengaku, “Saya juga pernah mendapat sentilan, puskemasnya masih minim sekali peralatannya, itulah sebabnya kami melakukan persiapan perbaikan prasarana dari sisi  kesehatan.

Salah satunya adalah membuat rumah sakit yang berkelas. Saya mempunyai konsep “Daya Kuraja” yang kalau difilosofikan artinya  “Dasar Pelayananku Kaulah Raja”, jadi semua orang harus diberikan pelayanan seperti raja.

Itulah sebabnya saya membangun rumah sakit  tanpa kelas dengan fasilitas mirip kelas 1 dan sekarang sudah terwujud.”  Jadi, sudah tersedia dua rumah sakit yang mendapat ISO, 15 puskesmas juga ada ISO-nya.

Saya sudah tetapkan dalam Peraturan Bupati,  rumah sakit maupun puskesmas semuanya harus memiliki ISO.  Rita juga  sempat memberlakukan Jamkesda sejak tahun 2010 untuk meng-cover biaya kesehatan semua orang yang ber-KTP Kukar, tapi tetap harus ada kartu Jamkesda dan mengurusnya sangat mudah.

PENINGKATAN KUALITAS GURU

Dengan kepadatan penduduk yang jaraknya 2 orang per kilometer mengkondisikan  Rita untuk membangun banyak sekolah.

Rita berkomentar, “Tapi, dengan banyaknya sekolah  sarana dan prasarananya jadi tidak maksimal, guru-gurunya tak ada yang mau mengajar di daerah terpencil. Saya kemudian melakukan gerakan pemberian insentif bagi guru yang mau mengajar di daerah terpencil. Syukurlah, akhirnya strategi ini bisa berjalan dengan lancar.”

Tak sampai di situ, semua guru juga diberikan laptop. Bahkan, bagi yang belum mendapatkan rumah dia pun berusaha memperjuangkan untuk mendapatkannya.

“Tahun lalu ada 10.000 rumah disediakan bagi guru yang belum memiliki tempat tinggal. Saya bekerjasama dengan PGRI dan Bank BTN untuk memberikan modal, tapi mereka tetap dipotong gajinya sampai 10 tahun ke depan. Jadi ini lebih berupa pinjaman lunak,” jelasnya.

Upaya peningkatan kualitas guru juga dilakukan Rita dengan menggandeng Cambridge University untuk melatih 13.000 orang termasuk guru dan murid.

Dia memaparkan, “Sekarang ini kami sudah melakukan assesment untuk guru maupun murid dan memang ketika di tes kapasitas guru kami hanya 7 orang yang memiliki standar bahasa Inggris cukup. Sehingga memang diperlukan formula yang berbeda dan orang-orang Cambridge sudah beberapa kali datang ke Kukar untuk memantau apa yang diperlukan di sana.”

Menurutnya, penguasaan bahasa Inggris bagi para guru dan anak murid di Kukar sangat penting. Ini bukan untuk sekadar gagah-gagahan. Dia ingin memberikan pendidikan yang baik, karena berharap Kukar bisa menjadi destinasi pariwisata ke depannya.

Dia pun berharap bisa menyekolahkan guru dan murid-murid ke Cambridge University dan siap menggelontorkan dana hingga Rp25 miliar untuk proyek yang memakan waktu lima tahun ini. Sampai sekarang, Kukar tercatat sebagai satu-satunya kabupaten di Indonesia yang bekerjasama dengan Cambridge University.

 

 

 

Naskah & Pengarah Gaya: Elly Simanjuntak

Foto: Fikar Azmy

Lokasi: Hotel Hermitage Jakarta

Tata Rias Wajah & Rambut: Ahmad Lala

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here