Shinta Widjaja Kamdani | Keseimbangan Hidup

Dalam kehidupan ini, Shinta berusaha semampunya agar bisa menjaga keseimbangan antara keluarga, pekerjaan, kehidupan sosial, dan me time. Ini merupakan hal yang sangat penting bagi kita sebagai manusia. Hubungannya tak hanya bersifat mental saja, tapi juga fisik, sehingga jangan sampai salah satunya jadi terlupakan.

“Itulah sebabnya pertama saya rasa kita harus disiplin terhadap diri sendiri, termasuk
urusan pembagian waktu. Dengan komitmen tinggi waktu jadi tidak terbuang cuma-cuma. Kedua, jika kita menginginkan suatu keberhasilan, tentunya diperlukan usaha dan kerja keras.

Ketiga, kita harus memiliki passion, agar segala apapun yang kita lakukan terasa menyenangkan. Kalau semuanya dikerjakan dengan keterpaksaan, biasanya akan sulit dicapai. Keempat adalah terus belajar dan berkreativitas. Ini sangat penting dibutuhkan untuk keberlangsungan perusahaan,” ungkap ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dan presiden Indonesia Business Council on Sustainable Development (IBCSD) ini.

Dia berpendapat sepanjang bisa menjaga keseimbangan hidup, seorang perempuan berpeluang meraih kebahagiaan dalam pekerjaan maupun keluarga. Baginya nothing is impossible. Ukuran kesuksesan maupun kebahagiaan itu sendiri harus lebih dalam tak sekadar di permukaan dan tidak mungkin kita bisa bahagia all the time.

Ketika kita berusaha mencapai goal yang diinginkan dalam hal apapun dan bisa tercapai, itulah arti kebahagiaan dirinya. Pada prinsipnya keluarga adalah nomor satu bagi Shinta. Kesuksesan di dalam bisnis jika tidak diimbangi dengan keluarga tidak akan pernah ada
gunanya.

Itulah sebabnya, prioritas hidupnya tak hanya untuk pekerjaan, kegiatan sosial, ataupun
berorganisasi, keluarga adalah prioritas utama. Dia pun merasa beruntung anak-anaknya di rumah telah memahami bahwa dirinya adalah seorang working mother. Karena itu, dia berusaha keras untuk selalu bisa menyisihkan waktu khusus untuk keluarga di tengah-tengah kesibukannya yang begitu padat.

Ketika ditanya apakah pengalaman berkesan yang pernah dialaminya dan pelajaran berharga ke depannya. Dia bercerita, ”Saat memasuki SMA dan tengah menikmati masa remaja yang menyenangkan saya diminta orang tua pergi keluar dari Indonesia untuk sekolah di Amerika Serikat.

Saya kemudian tinggal di suatu kota kecil dan masuk boarding school yang sama sekali tidak ada orang Asia. Awalnya, saya merasa seperti dibuang, karena memang belum ada persiapan matang. Tapi, justru dari situlah saya belajar banyak hal bagaimana untuk bisa survive.”

Saat hidup kita tengah beruntung dan selalu berkecukupan, kadang kita lupa untuk merasakan perjuangan bagaimana mendapatkan kehidupan serba ada ini sebelumnya. Ketika itu tidak ada orang yang bisa membantu Shinta secara akademis maupun sosial,
dia pun harus fight sendiri.

Survival mood inilah yang kemudian membuatnya percaya diri dan mampu untuk memperjuangkan hal-hal lain di masa mendatang dalam kehidupannya yang penuh warna. Elly Simanjuntak | Fikar Azmy

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Januari 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here