RITA WIDYASARI | ‘True Love’ Never Ends Part 2

 

Suami saya sampai rela pensiun dini dari Pegawai Negeri Sipil demi mengurus ketiga anak kami dan memantau bisnisnya dari rumah

Sukses seorang perempuan akan lebih indah, jika diiringi dengan keberhasilan dalam rumah tangga. Tak semua orang bisa mendapatkan dua hal ini. Diperlukan perjuangan dan kompromi yang tak pernah ada habisnya. Demi menggapai keduanya, Rita Widyasari menghargai dan menghormati keputusan sang suami, Endri Elfran Syafril yang rela mengurus anak-anak, selama dia menjabat sebagai bupati Kutai Kertanegara (Kukar). Kebetulan anak-anaknya sekolah di Bina Nusantara (Binus) Jakarta, akhirnya hanya dia saja yang tinggal berdomisili di Kukar. “Sementara suami saya sampai rela pensiun dini dari Pegawai Negeri Sipil demi mengurus ketiga anak kami dan memantau bisnisnya dari rumah. Saya pun berusaha menyempatkan diri menjengguk keluarga di Jakarta untuk melepas rasa rindu, paling tidak sebulan sekali,” ungkapnya memulai cerita dengan Women’s Obsession.

IMG_0471okTRANSFORMASI EKONOMI
Berbicara mengenai target pekerjaannya setelah terpilih kembali sebagai bupati, Rita menerangkan bahwa misi yang harus dicapai cukup banyak. Pastinya, dia mau menyempurnakan apa yang telah dicapai pada periode sebelumnya. Misalnya, meskipun dia sudah membuka daerah-daerah terisolir dengan pembangunan jalan-jalan baru di Kukar. Hal tersebut belumlah 100% terselesaikan. Masih tetap ada jalan yang perlu diperbaiki.
Dia melanjutkan, “Lalu, dari sisi transformasi ekonomi kami perlu menetapkan hal-hal lain yang perlu dikerjakan. Contohnya, dari sisi pertanian, saya sudah menyampaikan visi dan misi ke depan. Diperlukan transformasi ekonomi di Kukar yang tadinya bergantung pada sektor minyak, gas, dan galian, kini lebih difokuskan ke bidang pertanian untuk ke depannya bisa menopang perekonomian daerah ini. Bagaimana caranya, kami memang harus menganggarkan 10% dari APBD dialokasikan ke bidang pertanian dan mesti dilakukan secara serius.” Kukar perlu mengganti sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui dengan yang bisa diperbaharui. Tapi, memang harus di-support dengan pendanaan khusus ke arah pertanian yang lebih luas.

 

Menanam jagung adalah salah satunya. Rita menerangkan ada agenda kerja ‘revolusi’ jagung besar-besaran di Kukar dan menjadi impian yang harus terwujud dengan sukses. Selain itu, padi juga tetap harus digarap, lalu peternakan dan perikanan. Apalagi, daerah ini dilalui sungai. Jika kemarin lebih fokus ke infrastruktur jalan, kini alokasi anggaran diarahkan ke hal tersebut. Apalagi, sekarang dana yang tersedia sudah defisit dan turun semua seperti harga migas. Jadi, harus dicari sumber lain, yaitu dengan mengubah transformasi struktur ekonomi dengan benar secara serius ke bidang lain.
Selain jagung dan padi, dia berpendapat karet dan singkong gajah adalah peluang besar di tanah Kukar. “Di sini sedang dibuka pabrik singkong gajah sebagai sumber energi etanol lewat tapioka. Ada beberapa lahan yang dimiliki rakyat kami akan support dan dibuatkan pabriknya. Sementara, padi pun masih menjadi lumbung terbesar di Kalimantan timur. Meskipun, struktur tanahnya tidak sesubur di Jawa. Kendala air pun masih menjadi masalah, itulah sebabnya harus dibangun sistem irigasi yang baik.” Karena posisi Kalimantan di daerah ekuator, kemarau panjang kerap terjadi dan kebakaran hutan kemarin menyebabkan kabut yang sangat parah.

6O7A0639revisi

 

SUKA DUKA SEORANG IBU
Ketika dia ditanya seperti apakah suka dan dukanya menjadi seorang ibu di zaman sekarang ini? Dia menjawab, “Sebenarnya lebih banyak sukanya daripada duka. Saya bersyukur tidak pernah mengalami prahara dalam keluarga. Semoga ke depannya juga tetap demikian. Ini karena hubungan saya dan suami yang berlandaskan cinta, komitmen, dan kepercayaan. Seperti halnya saya mesti menetap di Kukar sebagai kepala daerah di sana, sementara anak-anak harus bersekolah di Jakarta. Merupakan keputusan sulit secara fisik saya harus berpisah dengan keluarga.” Jika sebelumnya Rita seringkali bolak-balik Jakarta-Kukar, karena posisi suami bekerja di Kukar, sekarang bergantian dirinyalah yang dikunjungi suami maupun anak-anaknya di sana saat ada liburan sekolah.
Tugas dan perannya untuk masyarakat Kukar tengah dibutuhkan, sementara kalau dua-duanya bekerja tidak mungkin. Siapa yang menjaga anak-anak. Apalagi, sekolah Binus sangat ketat, peran orang tua harus intens, karena harus selalu ada komunikasi yang harmonis antara orang tua dan guru. Apalagi, kalau anak ada masalah di sekolah, pasti orang tua segera diminta datang menemui gurunya.

 

“Sementara, saya membaca email saja dari sekolah anak-anak kadang tidak sempat,saking sibuknya mengurus rakyat. Jadi, emansipasi perempuan itu benar-benar ada di keluarga saya, suami merelakan dirinya mengurus anak-anak dan mengikhlaskan saya tinggal di Kukar untuk bisa bekerja dengan tenang. Ini sebenarnya, lebih ke arah bagaimana cara me-manage waktu sebaik-baiknya,” lanjut Rita serius. Tinggal bagaimana pintar-pintar membagi waktu saja. Seperti halnya sekarang ini, dia memanfaatkan waktu benar-benar bisa berkumpul bersama keluarga. Karena ada masa jeda enam bulan libur, sebelum pelantikan dirinya sebagai Bupati Kukar untuk periode 2016-2021 di pertengahan Februari dan kembali bekerja di sana.
Permasalahan yang dihadapi sebenarnya hanya pisah fisik saja dengan anak-anak dan suami. Untunglah, sekarang sudah ada Skype, Rita dapat bersua lewat dunia maya dan berkomunikasi melalui handphone saat dibutuhkan. Perempuan yang memiliki tiga anak ini pun akhirnya terbiasa berhubungan jarak jauh dengan keluarga. Yang penting komunikasi harus dijalin dengan baik. “Suami saya paham bahwa menjadi bupati, bukanlah pekerjaan main-main. Harus ada trust di antara kami dan syukurlah sampai hari ini tidak ada masalah yang signifikan. Paling saat berkumpul di rumah saya terlihat sering pegang telepon genggam, lantaran harus komunikasi terus dengan orang-orang di Kukar, suami baru marah-marah. Dia lebih menginginkan handphone lebih baik dimatikan saat di rumah,” papar ibu berputra satu dan memiliki putri kembar ini sambil tertawa.

 

6O7A0613revisi

TANTANGAN SEBAGAI ORANGTUA
Menjaga anak-anak di zaman sekarang ini tidaklah semudah zaman dahulu. Masalah narkoba, pelecehan seksual anak, gaya hidup hedonis, seks bebas, dan lainnya kerap mengintai dunia anak. Itulah sebabnya, Rita lebih mempercayakan tanggung jawab anak-anak kepada suami daripada orang lain. Apalagi, anak-anaknya lebih takut dan mau menurut kepada bapaknya.

 

“Agar terhindar dari berbagai pengaruh buruk mereka memang harus diawasi. Apalagi, sekarang ada penyebaran narkoba lewat aplikasi yang ada musiknya. Itulah sebabnya, pemakaian smartphone hanya kami izinkan di hari libur saja. Saat di sekolah mereka hanya memakai telepon genggam yang sederhana saja,” ujar ibu yang dalam mendidik anak ini tidak pernah memaksa dan memukul ini. Suami Rita pun selalu tak bosan-bosannya memperingatkan kedua putrinya yang mulai beranjak remaja bahwa sebelum menikah yang boleh memeluk mereka hanyalah bapaknya.
Dia melanjutkan, “Di rumah komputer dan CCTV sengaja kami letakkan di depan kamar. Agar bisa memantau mereka sedang belajar atau bermain-main. Apalagi, sekolah ketiga anak saya sangat ketat, ada kesalahan sedikit saja langsung dikirim surat. Seperti putra saya M Dhafin Rizqin Mumtazah yang biasa dipanggil Abang, beberapa kali dikasih surat dari sekolah dan suami saya diminta untuk menghadap guru. Entah karena dia bertengkar dengan temannya, misalnya. Untunglah, salah satu dari kami sudah ada yang stand-by di Jakarta untuk meng-handle permasalahan anak-anak.”
Sementara, saat akhir pekan anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan jarang bermain ke rumah teman-teman mereka. Rita sendiri lebih menyukai kawan-kawan anaknya yang bermain ke rumah, sehingga lebih mudah terpantau. Kalau pun mau pergi ke luar harus ada yang menemani. “Untuk urusan pelajaran sekolah sengaja disediakan guru privat khusus yang membantu anak-anak menyelesaikan pekerjaan rumah. Lalu, setiap malam jumat ada ustad mengajari putranya mengaji dan salat di rumah. Awalnya, memang dia kurang menyukainya, tapi lama-lama terbiasa dan menyadari pelajaran agama memang sangat penting dalam kehidupan manusia.

 

Tak disangka, putri kembarnya Khalda Thumakarima Mumtazah dan Khansa Thumakarimah Mumtazah ternyata suka bermain bola dan menjadi kegiatan ekstrakurikuler mengasyikkan yang positif di sekolah mereka. “Abang sendiri, walaupun anak laki-laki menyenangi aktivitas memasak yang tertular dari hobi bapaknya, baik sebagai kegiatan ekstrakulikuler di sekolah maupun di rumah. Dia suka membuat kue, omelet, dan nasi goreng sendiri. Kebetulan keluarga suami saya ada bisnis restoran di Palembang. Namun, lucunya ketika ditanya cita-citanya, dia malah mau menjadi politisi, bahkan kalau bisa presiden, ya,” papar Rita sambil tertawa.

 

Saat ditanya daerah atau negara manakah yang sering mereka kunjungi? Tanpa ragu Rita berkata,” Kami sekeluarga lebih sering bepergian ke Kalimantan. Selain bisa bertemu saya, anak-anak menyukainya karena bisa bersua dengan saudara dan teman-temannya yang seumuran di sana. Kebetulan masa kecil mereka, kan, banyak dihabiskan di Kukar.” Saat bepergian ke luar negeri seperti Australia, Rita sendiri hanya bisa menemani sampai hari ketiga. Sisa liburan panjang anak-anak diteruskan bersama suaminya. Bahkan, ketika keliling Eropa mereka pergi tanpa Rita, karena ada kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan.“Salah satu yang mendapatkan cinta sejati adalah bapak saya. Meskipun, semasa sibuk berkarier dia sering tidak ada waktu untuk ibu dan banyak gosip tidak enak menerpanya,” tutupnya Elly Simanjuntak/Fikar Azmy

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here