Proteksi Anak dari Penyimpangan Seksual

1

Beberapa waktu lalu, saya menerima email dari ibu yang tinggal di kota kecil di Jawa Tengah. Ibu ini bercerita panjang telah mendapati anaknya yang masih duduk di bangku TK diajak ‘main pantat-pantatan’ oleh teman-teman sebayanya di sekitar rumah. Cara mainnya, sebagian anak membuka celana, lalu salah satu akan menyentuhkan alat kelaminnya ke bagian bokong teman-temannya. Bisa dibayangkan, betapa terkejut dan takutnya ibu tersebut.

Anda juga memperhatikan kalau belakangan ini kasus-kasus pelecehan, kekerasan seksual, atau penyimpangan perilaku seksual anak semakin marak. Kasus terakhir yang cukup menghebohkan dan masih melekat di ingatan kita adalah rekaman sepasang remaja berusia tanggung yang beradegan mesra di sekolah sembari disaksikan langsung oleh teman-teman mereka sendiri.

Kekerasan seksual pada anak meningkat. Data yang  tercatat pada Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) 2015 menunjukkan, dari 1726 kasus pelecehan seksual yang terjadi, sekitar 58% dialami anak-anak. Angka ini mengalami peningkatan terus dari tahun-tahun sebelumnya. Dari 3339 kasus kejahatan, pada tahun 2014 kasus pelecehan seksual mencapai 52%. Sementara, pada tahun 2013, dari 2700 kasus kriminal yang melibatkan anak di bawah umur, 42% merupakan kategori pelecehan seksual.

Manusia secara naluriah akan bereksplorasi secara seksual dan tidak dapat dijauhkan atau dimatikan dalam kehidupan seorang manusia. Sudah hal yang wajar, jika anak memiliki rasa ingin tahu tentang kelaminnya sendiri dan orang lain. Menurut Sigmund Freud (pakar perkembangan anak), di usia tiga tahun, anak sudah dapat merasakan kenikmatan dari organ seksual.

Beberapa penjelasan di atas, dapat menekankan betapa pentingnya pendidikan seks diberikan kepada anak sedini mungkin. Jadi, sebaiknya kapan bisa kita mulai? Sebelum masa pubertas. Dimulai dengan pengenalan anggota tubuh, perbedaan lelaki dan perempuan, serta menjaga kebersihan tubuh. Termasuk penerapan norma agama dan sosial, seperti cara duduk maupun gaya berpakaian.

Khusus untuk pengenalan bagian tubuh pribadi, termasuk dalam rangka perlindungan diri. Kenalkan bahwa area pribadi dari bawah leher sampai lutut hanya boleh disentuh atau dilihat oleh diri sendiri, orang tua, dan dokter dengan ditemani orang tua. Dan, ajarkan cara bersikap santun di depan umum.

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Februari 2017

Rubrik ini diasuh oleh Vera Itabiliana Hadiwidjojo, Psi.

vera-i-hadiwidjojo

Lulus dengan gelar sebagai psikolog pada tahun 2001 dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, ibu dari dua orang anak ini langsung memfokuskan diri pada psikologi anak & remaja. Berpraktek di Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (021-3145078) dan Rumah Anak Mandiri Depok (021-97797110). Vera juga aktif sebagai psikolog di beberapa sekolah di area Jabodetabek, narasumber untuk media cetak dan elektronik, pembicara seminar/talkshow, maupun pakar untuk produk mainan Mattel Fisher-Price.

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here