Raseno Arya | Konsisten Memajukan Pariwisata Indonesia

Kini kita tengah menggalakkan wisata alam, jadi semua kegiatan-kegiatan yang akan dipromosikan harus dekat dengan alam, seperti  panjat tebing, paralayang, trekking, diving, caving, dan lain sebagainya.

 

Tak terasa sudah 26 tahun lamanya Raseno Arya bekerja dan mengabdi di Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Republik Indonesia. Beberapa kali kementeriannya berganti nama di era presiden yang berbeda-beda, dia tetap setia bergelut malang melintang memajukan dunia pariwisata Indonesia baik di dalam maupun luar negeri.

Raseno memulai karier dirinya di  Kemenpar  pada tahun 1990 dan  diberi tugas  pertama di posisi bagian pengawasan yang dinaungi Inspektorat Departemen Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi. Pria kelahiran Padang, 9 April 1961 ini, memang sering berpindah bidang kerja. Pada tahun 2001, dia ditempatkan  ke posisi cukup strategis, yaitu bagian kerjasama luar negeri Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Pria yang memiliki lima anak ini pernah  bertugas di  Korea Utara dalam rangka kerjasama luar negeri membawa dan memimpin tim khusus di sana. Pengalamannya di Kemenpar rasanya tak perlu diragukan lagi, hingga kini dia menjabat sebagai Asisten Deputi Pengembangan Segmen Pasar Personal Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata RI.

 

0S4A4875-i

Raseno pun didaulat memegang banyak event yang diselenggarakan Kemenpar dan diselesaikan dengan penuh tanggung jawab.  Alumnus S1 Fakultas Ekonomi Universitas Andalas ini berkata, “Festival Danau Toba dan Asean Festival Batam adalah perhelatan yang pernah saya pegang dan menjadi pengalaman yang sangat berkesan.

Di ajang Festival Danau Toba saya pernah berhubungan dengan 18 pemerintah kabupaten dan kota di Sumatera Utara. Sementara, di ajang Asean Festival Batam, saya membuat kolaborasi antara pemusik jazz dan Melayu, sampai diikuti musisi jazz dari 10 negara.”

Di tahun kedua di posisinya sekarang sudah ada banyak kegiatan pariwisata yang digelar. Dia pun mengakui pada 2016 memang  terjadi sedikit kendala, yaitu adanya pemotongan-pemotongan anggaran, tapi berbagai kegiatan bisa terlaksana dengan sukses.

Seperti, Festival Danau Toba yang sempat dihadiri  Presiden Jokowi,  ajang balap sepeda Tour de Flores, Festival Cross Border Sambas, Makasar Jazz Festival 2016,  Dieng Culture Festival, Festival Tumbilo Tohe (Malam Pasang Lampu setiap akhir Ramadhan), Pesona Selat Lembeh, dan lain sebagainya.Target yang dibebankan di pundak Raseno untuk mendatangkan 260 juta wisatawan nusantara pada tahun ini pun sudah terlampaui.

Tahun 2017 Kemenpar menargetkan kunjungan wisatawan asing mencapai 13,5 juta orang. Itulah sebabnya, dalam membuat event pariwisata, dia menyarankan agar semua pemerintah daerah di Indonesia menggarapnya dengan menarik dan tidak asal-asalan.

Jadi, tak hanya menjadi tontonan lokal, namun harus bisa menjadi daya tarik wisatawan asing untuk mau juga ikut berkunjung ke berbagai festival di nusantara. “Pada tahun 2016, ada sebanyak 250 event pariwisata yang mendapat dukungan Kementerian Pariwisata melalui alokasi dana APBN.

Termasuk, acara pariwisata yang diselenggarakan di provinsi NTB. Namun, dari sisi kualitas, umumnya event-event tersebut masih banyak yang harus dibenahi penyelenggaraanya. Inilah  yang menjadi pekerjaan rumah yang harus kita perbaiki bersama-sama pada tahun 2017,” paparnya dengan serius. Elly Simanjuntak | Fikar Azmy

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Januari 2017

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here