Remaja Terjerat Cinta

Teenage Couple Share Drink

“Mam, adek suka grogi kalau duduk dengan Andi.

“Bun, dia ‘tembak’ aku tadi di sekolah…”

“Bu, kakak nga suka kalau Arya duduk dekat Farah.”

Sudah terlontarkah kalimat seperti ini dari remaja Anda di rumah? Jika iya, resmi sudah Anda memasuki tahapan baru sebagai orangtua dari remaja yang penuh warna-warni, termasuk kisah romansa mereka.

Orang sering menyebutnya sebagai ‘cinta monyet’ atau puppy love. Apapun istilahnya, perasaan atau emosi yang dirasakan anak adalah nyata bagi mereka. Tentu, masih ingat bagaimana dulu ketika kita seusia mereka, bukan?

Berawal dari sekadar naksir, senang ketika bersama, kemudian jatuh cinta, dan berpacaran. Tahapan jatuh cinta merupakan fenomena wajar yang mewarnai kehidupan anak usia usia remaja atau sejak memasuki masa pubertas.

Di dalam Adolescence (Santrock, 2010) munculnya gambaran pacaran ini terbagi menjadi tiga tahapan: entering romantic attractions & affiliations (11-13 tahun) yaitu anak mulai taksir-taksiran; exploring romantic relationship (14-16 tahun) saat anak mulai mencoba-coba punya pacar; dan consolidating dyatic romantic bonds (17-19 tahun) ketika anak mulai lebih serius memaknai hubungan cinta dengan masa depan.

A picture of children holding a red heart over white background

Secara alami, hormon pertumbuhan anak mempengaruhi fisik dan emosi mereka, saat memasuki usia pubertas. Perubahan ini juga memicu perubahan perilaku dalam bersosialisasi.

Untuk menyikapi masalah remaja dan cinta ini, kita perlu memahami terlebih dulu dinamika yang terjadi di dalam emosi anak. Saat mereka sudah merasa dipahami, maka akan lebih mudah bagi kita orangtua untuk menjalin perbincangan cinta.

Jalinlah komunikasi yang hangat dengan remaja Anda, sehingga isu pacaran ini dapat menjadi topik diskusi terbuka dan menyenangkan.

Tempatkan diri kita sebagai teman yang asyik untuk diajak bicara tentang perasaan mereka, sehingga mereka tidak perlu mengumbar curhatan percintaan di media sosial. Ataupun dengan orang lain yang belum tentu dapat memberikan masukan yang tepat.

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi November 2016

 

Rubrik ini diasuh oleh Vera Itabiliana Hadiwidjojo, Psi.

vera-i-hadiwidjojo

Lulus dengan gelar sebagai psikolog pada tahun 2001 dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, ibu dari dua orang anak ini langsung memfokuskan diri pada psikologi anak & remaja.

Berpraktik di Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (021-3145078) dan Rumah Anak Mandiri Depok (021-97797110).

Vera juga aktif sebagai psikolog di beberapa sekolah di area Jabodetabek, narasumber untuk media cetak dan elektronik, pembicara seminar/talkshow, maupun pakar untuk produk mainan Mattel Fisher-Price.

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here