Retno L.P. Marsudi: Menteri Luar Negeri RI

 

Terpilihnya Retno Marsudi sebagai Menteri Luar Negeri mencatatkan sejarah. Dia merupakan Menteri Luar Negeri wanita pertama di Indonesia. Dengan mengerahkan segala upaya, dia menjaga amanat untuk membenahi kementrian dan menjalin kerjasama internasional.

 

 

retno-marsudi

Nama Retno Lestari Priansari Marsudi kian dikenal oleh masyarakat Indonesia setelah diangkat menjadi Menteri Luar Negeri pada Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo tahun 2014-2019. Retno menjabarkan dirinya telah berusaha keras menjalankan tugas mengkomunikasikan kepentingan ekonomi RI dengan negara lain. Tujuannya adalah demi membuka gerbang negara untuk investasi asing dan kemudian meningkatkan kompetensi nasional.

Seperti halnya menteri lain dalam Kabinet Kerja Jokowi-JK, wanita kelahiran Semarang, 27 November 1962 ini diyakini memiliki filosofi yang cocok dengan presiden. Dia dikenal terbuka dengan perubahan. Retno juga memiliki pandangan bahwa diplomasi Indonesia di tingkat internasional akan lebih mengutamakan diplomasi ekonomi.

Retno memang kaya pengalaman internasional. Sebelum menjadi Menteri Luar Negeri RI, alumni Hubungan Internasional di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta ini sudah mulai membangun kariernya sejak tahun 1986 dengan menjadi staf di Biro Analisa dan Evaluasi untuk kerjasama ASEAN.

Pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, wanita yang kerap digambarkan sebagai sosok pekerja keras, tegas, dan visioner ini mengemban tanggung jawab untuk menjaga citra Indonesia di mata dunia serta menjalin hubungan diplomatik dengan berbagai negara di Eropa dan Amerika. Dia pernah diangkat menjadi Duta Besar Indonesia untuk Norwegia dan Islandia pada tahun 2005. Jabatan terakhirnya sebelum menjadi menteri adalah sebagai Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda. Negara tersebut merupakan tempat yang tak asing baginya karena pernah menuntut ilmu di Haagse Hoge School, Belanda. Retno sangat rajin menjalin komunikasi untuk mempromosikan keunggulan Indonesia kepada pemerintah Belanda sehingga Indonesia pun dipandang sebagai negara yang layak untuk diajak bekerja sama. Selain itu, dia juga pernah dianugerahi Bintang Jasa “Grand Officer” yang merupakan penghargaan tertinggi kedua oleh Raja Norwegia.

Retno pernah berkesempatan memimpin berbagai negosiasi multilateral dan konsultasi bilateral dengan Uni Eropa, ASEM, maupun FEALAC. Ibu dua orang putra ini pun pernah mempelajari studi hak asasi manusia di Universitas Oslo. Perhatiannya terhadap hak asasi manusia ditunjukkan dengan bergabungnya Retno dalam Tim Pencari fakta kasus pelanggaran HAM.

 

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here