Hari Ibu | Rita Widyasari Bupati Kutai Kartanegara

Ketika diminta menggambarkan arti ibunda, Rita Widyasari mengungkapkan dengan kalimat pendek, yaitu Ibu Sejati. “Ibu saya adalah ibu sejati. Istri yang sangat setia dan patuh dengan suami, hingga detik-detik kepergian separuh jiwanya. Sewaktu bapak di ruang ICU saat napasnya sempat hilang, jantungnya dipompa dengan alat, saya mengekspresikan kesedihan di rumah sakit. Sementara ibu menenangkan dengan penuh ketabahan dan keikhlasannya,” kenang ibu dari tiga anak ini.

Dayang Kartini Syaukani adalah sosok ibu sederhana, disiplin, dan penuh kasih sayang di mata Rita maupun kedua saudaranya di masa remaja. Contohnya, dalam hal asupan makanan dan pelaksanaan salat lima waktu.

Rita masih mengingat jelas betapa sang ibunda selalu menjaga kebersihan makanan, selain kelezatan rasa tentunya, untuk seluruh anggota keluarga. “Ibu juga kerap menekankan pentingnya salat lima waktu di mana pun kita berada. Ketika kami bertiga beranjak remaja, beliau memberlakukan jam malam hanya sampai pukul 22.00. Kalau kami belum pulang di jam yang ditentukan, beliau pasti menghubungi kami,” kisahnya.

img_0945

Inspirasi terbesar dari ibu saya dalah rasa cintanya yang kuat kepada keluarga. Beliau contoh wanita paling setia kepada suami dan anak-anaknya. Saya sangat beruntung memiliki ibu penuh kasih sayang dan membentengi kami dengan nilai-nilai keislaman.

Ketika diminta menggambarkan arti ibunda, Rita Widyasari mengungkapkan dengan kalimat pendek, yaitu Ibu Sejati. “Ibu saya adalah ibu sejati. Istri yang sangat setia dan patuh dengan suami, hingga detik-detik kepergian separuh jiwanya. Sewaktu bapak di ruang ICU saat napasnya sempat hilang, jantungnya dipompa dengan alat, saya mengekspresikan kesedihan di rumah sakit, sementara ibu menenangkan dengan penuh ketabahan dan keikhlasannya,” kenang ibu dari tiga anak ini.

Dayang Kartini Syaukani adalah sosok ibu sederhana, disiplin, dan penuh kasih sayang di mata Rita maupun kedua saudaranya di masa remaja. Contohnya, dalam hal asupan makanan dan pelaksanaan salat lima waktu. Rita masih mengingat jelas betapa sang ibunda selalu menjaga kebersihan makanan, selain kelezatan rasa tentunya, untuk seluruh anggota keluarga.

“Ibu juga kerap menekankan pentingnya salat lima waktu di mana pun kita berada. Ketika kami bertiga beranjak remaja, beliau memberlakukan jam malam hanya sampai pukul 22.00. Kalau kami belum pulang di jam yang ditentukan, beliau pasti menghubungi kami,” kisahnya.

Ada satu lagi kenangan Rita di masa remaja, yaitu diikutsertakan ke dalam acara fashion show. “Ibu sering mengikutsertakan acara fashion show tanpa sepengetahuan saya. Pernah sekali waktu, saya kesal lalu tidak mau ikut. Waktu lomba Hari Kartini, saya juga berulah tidak mau mandi sebelum dandan. Tapi beruntungnya, saya malah meraih juara satu,” tuturnya seraya tersenyum.

Doa restu dan dukungan sang ibu ketika Rita mencalonkan diri pertama kali menuju kursi Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) merupakan energi yang selalu dinanti. “Mulai dari masa kampanye, ibu tanpa kenal lelah mendampingi saya di hampir seluruh 18 kecamatan, 224 desa dan kelurahan yang berada di Kutai Kartanegara. Ibu pula yang memacu saya untuk memberikan kata sambutan tanpa teks. Beliau mengungkapkan, saya harus percaya diri dan mencoba tanpa teks,” ucapnya.

Hingga terpilih kembali menjabat sebagai Bupati Kukar di periode 2016-2021 dan dipercaya sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kalimantan Timur, ibunya selalu setia menemani dalam doa. Pesan yang tak pernah dilupakan Rita adalah amanah besar ini merupakan tanggung jawab dunia akhirat. Selalu lakukan yang terbaik dalam segala hal. Suci Yulianita & Sahrudi | Dok. Pribadi

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Desember 2016

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here