Sayang atau Memanjakan?

352167

Tahukah Anda bagaimana membedakan tindakan orangtua antara sebagai wujud rasa sayang kepada anak dan yang justru memanjakan anak. Tentu setiap orang tua amat menyayangi anaknya dan selalu memberikan yang terbaik.

“Saya ingin anak-anak lebih bahagia daripada saya.” Kalimat ini sering sekali terucap dari orang tua. Namun sebagai orangtua, kita perlu bijak membedakan bentuk sayang dan perilaku memanjakan.

Karena tindakan tersebut pasti menghasilkan perilaku kurang baik dan menghambat perkembangan anak. Ingat, kita tidak akan selamanya dapat mendampingi anak.

Untuk lebih jelas lagi, berikut ada rambu-rambu yang dapat membantu kita sebagai orang tua agar tidak terjebak ke dalam bentuk sayang memanjakan.

Encourage independency. Memberikan anak kesempatan untuk secara mandiri mengembangkan kemampuan diri sesuai usianya.

Misalnya, ketika dia berusia dua tahun sudah dapat memegang gelas sendiri ketika minum, maka biarkan dia minum sendiri. Tumpah sedikit tak masalah, lama-kelamaan dia akan terlatih juga.

Selalu melayani atau membantu anak untuk hal-hal yang sudah bisa dilakukan sendiri itu merupakan perilaku

Set limit. Tentukan batasan atau aturan dalam keseharian. Anak perlu belajar bahwa semua ada aturannya.

Dengan demikian, anak akan belajar untuk mengontrol dirinya. Tentukan kapan dia bisa bermain di luar dan boleh makan es krim jika sudah menghabiskan makan siangnya.

Rules are rules. Terapkan dengan tegas dan konsisten. Jika makanannya tidak habis, no snack time!

Kalau sudah ada perjanjian tidak beli mainan, ya harus diterapkan. Jangan menyerah karena tidak tega melihat anak sedih, merengek atau malu dilihat orang.

Don’t rescue too much! Hindari terlalu melindungi atau menyelamatkan anak. Biarkan mereka belajar dari konsekuensi perbuatannya.

Anak yang tidak pernah jatuh tidak akan belajar bagaimana menjaga dirinya agar tidak terpeleset. Anak yang selalu ‘terselamatkan’ karena ada superhero bernama mama tidak membuatnya berupaya dengan kemampuan sendiri.

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Februari 2017

 

Rubrik ini diasuh oleh Vera Itabiliana Hadiwidjojo, Psi.

vera-i-hadiwidjojo

 

Lulus dengan gelar sebagai psikolog pada tahun 2001 dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, ibu dari dua orang anak ini langsung memfokuskan diri pada psikologi anak & remaja.

Berpraktik di Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (021-3145078) dan Rumah Anak Mandiri Depok (021-97797110).

Vera juga aktif sebagai psikolog di beberapa sekolah di area Jabodetabek, narasumber untuk media cetak dan elektronik, pembicara seminar/talkshow, maupun pakar untuk produk mainan Mattel Fisher-Price.

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here