Semangat Mencintai Teh Lokal

IMG_8719IMG_8723

 

Budaya minum teh sudah mengakar di masyarakat, namun apresiasi terhadap teh lokal masih sangat rendah. Pernyataan di atas diharapkan menyentak masyarakat Indonesia untuk bergerak menyeruput teh terbaik hasil Indonesia. Teh sudah populer di Indonesia sejak 1800-an. Sayangnya, hanya segelintir masyarakat yang mengetahui bahwa teh-teh unggulan hasil perkebunan Indonesia diekspor keluar negeri. Lalu, kita membelinya dengan harga yang sangat mahal karena sudah berlabel brand teh terkemuka. Hingga saat ini, kita masih terjebak mengonsumsi teh Indonesia dengan harga yang sangat terjangkau atau merasa bangga membeli teh berlabel internasional yang sebenarnya mengandung teh Indonesia.

Melihat keprihatian tersebut, Ratna Somantri, ketua bidang promosi di Dewan Teh Indonesia membentuk Komunitas Pecinta Teh pada 2006. Bersama teman-temannya yang juga menjadi penikmat teh, dia mulai menggiatkan komunitas yang anggota awalnya terdiri dari pemilik brand teh, pemilik kebun teh, dan penikmat teh.

Pada 2007, secara online melalui mailing list, komunitas ini terus aktif melakukan berbagai aktivitas online maupun offline. Dari belasan orang, kini komunitas pencinta teh sudah mencapai ratusan anggota dengan keragaman profesi dan minat. Bahkan, beberapa di antaranya ada yang tertarik untuk belajar secara formal tentang teh dan terjun ke bisnis ini.

IMG_8755

 

Pertemuan dilakukan rutin setiap sebulan sekali. Beruntung, Women’s Obsession diundang di pertemuan pertama di tahun 2016. Suasana pertemuan yang dihadiri 30 anggota berlangsung antusias, karena setiap lima belas menit disuguhkan seduhan teh baru yang diracik langsung. Cara ini terasa lebih nikmat, karena diminum bersama kerabat sambil berdiskusi, mendengar pendapat soal rasa teh tersebut, dan banyak informasi baru bagi diri anggota komunitas.

Selain bertukar informasi tentang teh, di antara anggota komunitas juga ada yang akhirnya terjun ke bisnis teh lokal. Meskipun terhitung pemula, saat diwawancarai, mereka terlihat yakin karena bersemangat memperkenalkan teh olahan Indonesia. Dari segi harga, teh tersebut jauh berbeda dari teh yang biasa diminum kebanyakan orang Indonesia. “Kalau tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi? Bila kita semua serentak menawarkan teh unggulan Indonesia dengan harga yang sepantasnya, masyarakat Indonesia tentunya akan berubah dan mengapresiasi produk unggulan lokal,” urai Hesty, salah satu anggota komunitas.

Selaku ketua komunitas Pencinta Teh Indonesia, Ratna pun berharap dari ratusan anggota komunitasnya tersebar luas informasi tentang keragaman keunggulan teh Indonesia maupun budaya menyeduh teh yang berbeda sesuai jenis tehnya. Silvy Riana Putri/Fikar Azmy

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Februari 2016

 

 

 

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here