Melani Leimena Suharli: Terpincut Wastra Nusantara

Ketika menemui tamu-tamu negara, saya selalu memakai baju tradisional seperti batik maupun tenun. Ini merupakan salah satu momentum untuk mengenalkan wastra nusantara kepada dunia.

 Wilayah Indonesia yang terbentang luas selain memiliki keindahan alam yang eksotis juga memiliki kekayaan budaya berupa kain tradisional, salah satunya adalah tenun.

Keindahan kain ini tak lepas dari teknik pembuatannya, sehingga banyak orang yang meliriknya termasuk Wakil Ketua MPR RI, Melani Leimena Suharli.

“Sebenarnya saya menyenangi kain tenun itu secara kebetulan. Bermula ketika tahun 2002–2007 saya menjadi Sekjen IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia).

Ketika melaksanakan tugas, salah satu kewajiban saya sering melantik IWAPI di daerah-daerah. Setiap saya mengunjungi suatu daerah, saya selalu mencari tahu apa yang menjadi ciri khas daerah setempat, terutama home industry-nya.

Di Jawa terkenal dengan batiknya, sedangkan daerah-daerah lain adalah tenunnya. Walaupun sama-sama kain tenun, tetapi corak di setiap daerah itu berbeda-beda.

Saya pun tertarik untuk memiliki, sehingga secara tak langsung saya jadi mengoleksi,” tutur wanita kelahiran 27 Januari 1951 ini.

DSC_0149

Hingga saat ini jumlah koleksi kain tenun yang Melani miliki terhitung lengkap mulai dari wilayah Timur hingga Barat Indonesia hampir. Mayoritas kain tenunannya berasal dari NTT dan Bali.

“Koleksi saya lebih banyak didapat dari NTT. Di sana terdapat suatu kawasan yang memang khusus memproduksi tenun, saya leluasa memilih variannya. Tenun Bali juga favorit saya karena motifnya indah, kainnya ringan sehingga nyaman dikenakan,” tambahnya

Untuk menjaga keindahan kain tenunnya, dia mempunyai kiat perawatannya.

“Beda bahan, beda perawatannya juga. Selain diangin-anginkan, ada kain tenun yang dicuci memakai sampo. Tetapi, sebenarnya dengan dry clean juga cukup, agar bentuknya tidak berubah dan warnanya tak memudar.

Kain tenun pun harus dijaga jangan sampai ketumpahan teh atau kopi, karena akan meninggalkan bekas noda, walaupun sudah di dry clean.

Untuk tempat penyimpanan, cukup diletakkan di lemari tanpa perlu digulung. Tenun-tenun yang saya koleksi ringan dan halus sehingga tidak akan bekas tekukannya,” papar Melani.

Di tengah kesibukannya mengemban tugas negara, wanita berlesung pipi ini tetap menyempatkan diri untuk mengunjungi pengrajin-pengrajin di daerah.

“Hal itu saya lakukan untuk mendukung program pemerintah dalam mengembangkan industri kreatif. Saat kunjungan, saya tidak akan sungkan memberikan usulan atau arahan untuk kemajuan usaha kreatif mereka,”ujarnya

Baginya ada beberapa poin yang perlu diperhatikan untuk mengembangkan industri kreatif.

“Pertama adalah memberikan bantuan modal untuk meningkatkan gairah pengrajin dalam memproduksi. Kedua, perlunya konsultan desain untuk pemasaran. Contohnya, kain Songket Sumatera yang asli itu cukup berat.

Tetapi, saat ini sudah banyak pengrajin yang berkolaborasi dengan desainer, sehingga menghasilkan kain Songket yang ringan dan nyaman dikenakan sehari-hari.

Konsultan desainer juga bisa mendorong pengrajin berinovasi pada corak tidak monoton, menyesuaikan dengan perkembangan zaman agar permintaan pasar melonjak.

Ketiga adalah diperlukannya konsultan keuangan untuk me-manage keuangan mereka, agar antara uang pribadi dan usaha tidak tercampur.

Terakhir, Indonesia perlu membudidayakan bahan baku untuk membuat kain tenun sendiri, sehingga tidak perlu mengimpor dari Cina atau India,” pungkas Melani.

Istri dari Muhammad Suharli ini memiliki obsesi untuk menjadikan kain tenun sebagai warisan dunia yang diakui oleh UNESCO.

Menurutnya, hal tersebut bisa terlaksana kalau masyarakat Indonesia membudayakan memakai tenun seperti batik. Dia juga berharap adanya regenerasi dari pengrajin-pengrajin di daerah. Giattri Fachribillian Putri | Dok. Men’s Obsession

 

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here