Thea S Gunardhi: Jatuh Cinta pada Koleksi Vintage

Mengisi waktu luang bagi beberapa orang bisa dilakukan dengan berbagai cara. Seperti halnya yang diminati oleh Thea S Gunardhi, director of sales marketing Hotel Ciputra, Jakarta. Dia memiliki hobi berburu beragam furniture dan barang vintage (kuno).

“Bagi saya setiap benda kuno itu sepertinya mempunyai kisah menarik. Saya sudah  hampir 20 tahun mengoleksinya.

Awalnya, memang tidak sengaja. Ketika itu saya menemukan sebuah kursi putar jati milik keluarga besarnya. Namun, kondisinya kurang baik, sandaran kursinya pecah dan besi gir-nya berkarat. Saya merasa begitu ingin memperbaikinya,” jelas Thea.

Kursi tersebut kemudian diperbaiki dengan mengganti gir dan berfungsi seperti sedia kala. Ternyata, pengalaman ini berhasil memberikan rasa puas tersendiri.

Thea kemudian tertarik ingin mengoleksi berbagai furniture antik secara keseluruhan dalam nuansa sama. “Memang untuk mendapatkan beragam barang vintage, saya harus merogoh kocek lebih dalam dibandingkan membeli furniture baru,” ungkap perempuan kelahiran 18 April 1968 ini ramah.

 

Jam-SingaporeJam-Listrik

BERSAMA SUAMI

Seiring berjalannya waktu, ternyata hobi mengoleksi barang kuno ini tidak memudar. Justru sebaliknya. Malah menjadi begitu kuat ketika dia bertemu calon suami yang telah menjadi pendampingnya sekarang.

“Tidak tahu mengapa kami sepertinya klop, sama-sama menyenangi beragam benda antik. Sejak itu kami menjadikan kegiatan ‘berburu’ barang vintage bersama. Tak heran  furniture di rumah menjadi lengkap dengan beragam furniture kuno,” ungkapnya seraya tertawa ramah.

Bagi mereka ketika mencari beragam barang menjadi salah satu kegiatan paling mengasyikkan.

“Saya sering mendapatkan barang-barang dari blusukan ke pasar-pasar tradisional baik di Jakarta maupun berbagai daerah Indonesia lain dan luar negeri. Mata saya biasanya juga akan semakin tajam dalam memperhatikan berbagai furniture kuno saat bepergian ke luar negeri,” tambahnya.

 

Toples 1 newToples green 2 new

RAGAM BARANG KUNO

Hingga sekarang Thea tetap aktif  menambahkan koleksi furniture dan barang kunonya. “Ada berbagai pernak-pernik rumah dari Stanley Market Hong Kong, piring maupun mangkuk enamel lama ditemukan di pasar lokal Kuching, Malaysia.

Sementara, plat dinding enamel berlukiskan Audrey Hepburn dan jam retro ditemukan di Dubai Mall. Benda-benda tersebut buat saya mempunyai kisah tersendiri dan menjadi kenangan tak terlupakan,” paparnya senang.

Selain itu, ada juga termos tempo doeloe dari Russian Market Phnom Penh, lampu semprong Pasar Beringharjo Yogyakarta, nampan & teko perak dari Mirota Serpong, toples lama di Toko Antic  Bandung, alat cukur kuno di Fiday Market Kuwait.

Lalu, post card tempo doeloe didapatkan di Yuyuan Market Shanghai, nampan lawas dari Pasar Malam  Johor Baru dan bedak nuansa jadul di Souk Wakeef Doha.

Apa pengalaman yang paling membuatnya berkesan?

“Saya merasa begitu senang, kalau tanpa rencana dapat menemukan items yang  sama dengan model berbeda di tempat berlainan.

Contohnya alat cukur kuno yang saya temukan di flea market Singapura, ternyata ada juga di Friday Market  Kuwait. Lalu, bedak Tibet nuansa jadul diperoleh dari Doha dan ukuran kecilnya ditemukan di Toko Pakistan di Dubai.

Namun, sampai saat ini saya masih inginkan adalah mendapatkan lampu duduk dari material kaca yang pernah saya  miliki di masa kecil dahulu,” ungkapnya.

Dari sekian banyak koleksinya, guci peninggalan almarhum kakeknyalah  yang menjadi benda antik tersayang Thea.

“Saya urus langsung pengirimannya dari Belitung ke Jakarta. Tiga bulan kemudian, rumah beliau habis terbakar berikut meja makan marmer antik berdiameter 1,5 meter yang belum sempat dikirim ke Jakarta.

Saya merasa bersyukur masih bisa merawat sisa kenangan yang ada,” kisahnya. Aryani Indrastati | Fikar Azmy

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here