My Journey | Debaran Sumba

Keluarga kami menggagas liburan menjadi suatu kegiatan yang penuh tradisi. Kali ini, berwisata ke Indonesia Timur di penghujung tahun kemarin. Di sana, kami dapat mengalami langsung keberagaman Indonesia, mengingat masyarakat Indonesia Timur belum terwakili secara menyeluruh ke dalam media, wisata, hingga tersentuh budaya pop Indonesia.


Setelah Maluku dan Manado, hati kami terpaku di Sumba. Pesona keunikan alam yang fotogenik disertai kecanggihan kesenian tenun mereka tiada duanya. Dunia fotografi dan kain tradisional sudah lama menjadi passion keluarga, selama enam hari di sana benar-benar memuaskan eksplorasi.

Selain berkesempatan menghabiskan kebersamaan berkualitas, kami pun bersemangat untuk meningkatkan kesadaran mengenai budaya Indonesia Timur yang eksotik, melalui dokumentasi liburan keluarga dalam media video, tulisan, dan akun media sosial kain tradisional kami @tentangkain.

Transportasi Terefektif?

Berwisata ke daerah-daerah yang belum memiliki infrastruktur wisata yang maksimal, seperti Sumba mengharuskan kami pergi dengan seorang tour guide local dan supir. Namun, kesempatan berinteraksi langsung dengan masyarakat lokal, justru memberi kesan yang tidak terlupakan.

Perjalanan kami menuju berbagai tempat wisata diwarnai dengan cerita-cerita mengenai kebudayaan Sumba maupun gaya hidup mereka. Begitu banyak pemandangan yang tidak bisa ‘dicerna’ hanya dengan dipandang oleh mata, misalnya kebiasaan masyarakat Sumba membawa parang atau pengaruh gereja dalam pembangunan. Oleh karena itu, peran pemandu sangat penting untuk memahami dan menghargai perbedaan serta keberagaman.

 

Tempat menginap nyaman?

Sumba timur dan barat memiliki banyak pilihan tempat menginap yang sesuai untuk ragam kebutuhan setiap wisatawan. Kami menginap di sebuah hotel yang cukup nyaman dengan pemandangan menghadap pantai di Sumba timur. Untuk pergantian suasana, sekaligus mendukung bisnis lokal yang memiliki misi pembangunan, kami menginap di Sumba Cultural Research and Conservation Institute atau Rumah Budaya di Sumba Barat.

Meski tidak semewah hotel, penginapan ini memiliki daya tarik tersendiri, yakni arsitektur tradisional rumah adat Sumba, museum mini berisi pernak-pernik antik dan tradisional Sumba, serta cerita-cerita mengenai kebudayaan yang bisa didapat dari keramahan staf lokal, yakni Rince dan Romo sebagai pengelola penginapan tersebut.

Kuliner lokal pilihan?

Makanan laut yang dimasak dengan tomat, bawang, dan jeruk limau. Kemudian diolah menjadi sup, dipanggang atau disajikan dengan sambal, bahan-bahan di atas menjadi highlight kuliner bagi kami. Juga makanan tradisional, seperti daun singkong tumbuk. Kelezatan cita rasa dan kesegarannya juga menjadi primadona hidangan.
Naskah: Natasha Clarita Mahasiswi University of Warwick, UK | Foto: Eli Djohan

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession Edisi Februari 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here