Inspiring Mother | dr. Enrina Diah, SpBP-RE (KKF): Try to be Supermom

 

Saat masih menjadi anak-anak, gambaran sosok ibu selalu penuh ungkapan kasih sayang dan wujud terima kasih yang tak ternilai. Berbeda kisah ketika sang anak menjadi seorang ibu.

Penilaiannya terhadap figur ibu bertambah menjadi sosok kuat, pantang menyerah, dan selalu menomorsatukan kepentingan sang buah hati di atas kebutuhan pribadinya. Untaian kalimat ini ini yang paling mewakili ekspresi cinta Enrina kepada sang ibunda dan rasa sayang untuk putri tunggalnya, Caca.

Kilas balik masa kecil Enrina, dia mengisahkan sosok ibunda tercinta adalah ibu rumah tangga yang seratus persen mendedikasikan waktu untuk keluarga. Dia dibesarkan dalam pola pengasuhan yang penuh kedisiplinan dan keakraban keluarga besar.

“Masa kecil saya ramai, karena tinggal bersama sepupu-sepupu yang diasuh oleh ibu. Didikan kedua orang tua saya penuh kedisiplinan dan tanggung jawab. Bisa dibilang orang tua saya cukup demokratis di masa itu. Berkat didikan dan pengasuhan mereka, kami, anak-anaknya, merasakan betul manfaat nilai-nilai tersebut hingga sekarang,” ungkap anak kedua dari lima bersaudara ini.

Meskipun dibesarkan dalam pengasuhan orang tua yang demokratis, Enrina menyebut wujud demokratis di tahun 80-an jauh berbeda dengan suasana demokratis di era millenium.

Dia sadar betul tidak bisa menerapkan seratus persen pola pengasuhan ibunda tercinta ke dalam caranya mengasuh Caca. Perubahan zaman dan keunikan karakter masing-masing anak membutuhkan model pengasuhan tersendiri pula.

“Saya membesarkan Caca dalam suasana keterbukaan, demokratis, berlandaskan agama, dan selalu menjadi sahabat nomor satu baginya,” aku perempuan kelahiran 23 Mei 1974 ini.

Jalinan keakraban Enrina dan Caca dipenuhi warna-warni kehidupan. Sebagai orang tua tunggal, Enrina mengaku waktu kebersamaan adalah hal yang ingin ditingkatkannya. Dengan penuh memori dan cerita, Enrina penuh haru saat mengenangnnya kembali.

“Seberat apapun kondisi kami, alhamdulillah, Caca selalu terbuka dan bergantung kepada saya, ketika menghadapi masalah apapun. Ketika kami berbeda pendapat, saya selalu melihat topik masalahnya. Bila itu bukan sesuatu yang prinsip, perlahan-lahan saya memberitahunya. Tapi, lain cerita bila topiknya berkaitan dengan prinsip seperti agama, saya akan tegas kepadanya,” jelas ibu yang senang memasak hidangan Italia ini.

Disinggung soal harapannya kepada Caca, dengan penuh semangat Enrina mengungkapkan agar Caca menjadi penerus bisnisnya.

“Saya selalu mendukung penuh beragam cita-cita Caca selama 17 tahun belakangan ini. Dia mempunyai passion di fashion, saya berikan wadah dengan mendesain seragam karyawan dan perawat di klinik. Namun, saya menitip pesan kepada Caca bahwa profesi dokter akan mendapat kebahagiaan dunia akhirat. Memang tidak akan sekaya pengusaha, tetapi ibarat bekerja sambil beribadah, karena membantu sesama. Lebih bahagia lagi, bila Caca memilih spesialis bedah dan meneruskan bisnis ini,” harap Enrina sembari tertawa. Silvy Riana Putri | Fikar Azmy

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Desember 2015

 

 

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here