RITA WIDYASARI | ‘True Love’ Never Ends Part 1

Sukses seorang perempuan akan lebih indah, jika diiringi dengan keberhasilan dalam rumah tangga. Tak semua orang bisa mendapatkan dua hal ini. Diperlukan perjuangan dan kompromi yang tak pernah ada habisnya. D

emi menggapai keduanya, Rita Widyasari menghargai dan menghormati keputusan sang suami, Endri Elfran Syafril yang rela mengurus anak-anak, selama dia menjabat sebagai Bupati Kutai Kartanegara (Kukar).

‘TANGAN KANAN’ TUHAN

Mencintai keluarga dengan tulus berusaha diajarkan dan ditularkan Rita kepada anak-anaknya sejak kecil. Jiwa kekeluargaan sangat penting ditanamkan kepada mereka, karena yang akan menjaga dan menolong saat susah tak lain adalah keluarga. Bahkan, kakek, nenek, maupun saudara yang tak sekandung mesti diperhatikan.

“Saya rajin menerangkan kepada anak-anak mengenai silsilah keluarga. Kita bisa saja mempunyai sahabat seperti saudara. Namun, saudara dekat yang sedarah perlu dipupuk maupun dijaga kekerabatannya. Saya pun memberikan contoh kepada keluarga sampai sekarang masih menjaga ibu dan nenek saya yang tidak lagi muda.

Kasih ibu memang sepanjang masa, namun kasih anak janganlah sepanjang galah. Kita harus terus mengasihi keluarga sampai akhir hayat. Berbuat kebaikan di dunia ini tak boleh terputus dan harus tanpa pamrih,” ungkap perempuan kelahiran 7 November 1973 ini sungguh-sungguh.

Rita merasa dirinya bisa sukses menjadi seorang bupati, tak lain juga karena berkat dukungan keluarga. Itulah sebabnya, dia merasa perlu untuk me-manage keluarganya dengan baik, tak hanya pekerjaan saja yang menjadi perhatian dirinya.

Mengenai adanya pepatah bahwa surga ada di telapak kaki ibu bukan bapak, dengan mimik muka tersenyum dia pun menyetujuinya. Dia berkomentar, “Kita tidak bisa lahir tanpa ibu dan memang peran maupun kontribusi bapak ada, tapi yang merasakan sakitnya adalah ibu.

Keinginan anak-anak terdalam biasanya lebih dahulu diketahui ibu. Dia menjadi guru dan dokter pertama bagi anak-anaknya, saat mereka demam dan bertanya berbagai hal. Saat anak sakit yang paling merasa was-was dan repot juga ibu.

Tak heran, sosok ibu menjadi ‘tangan kanannya’ Tuhan.” Itulah sebabnya, kadang saat melepaskan anak-anak menikah dan hidup mandiri, kadang orang tua sulit merelakanya. Namun, bagi Rita kita mesti mengikhlaskannya, karena itu merupakan konsekuensi sebagai orangtua.

Menurutnya, saat anak-anak telah berkeluarga, inilah waktu yang tepat untuk orang tua bisa kembali dekat dan ‘berpacaran’ lagi, karena ada banyak waktu untuk berdua. Jika kita berhasil selalu bersama sampai akhir hayat dan mampu bertahan di dalam suka dan khususnya duka, itulah yang dinamakan soulmate atau cinta sejati.

LIFE BEGINS AT 40

Untuk menyiasati agar tubuhnya tetap fit dan bugar, Rita rajin melakukan treadmill atau senam setiap hari sebelum berangkat bekerja. Kalau sudah berkeringat, barulah tubuh dan pikirannya menjadi fresh kembali dan siap untuk beraktivitas.

Apalagi, ketika usainya sudah memasuki 40 tahun, dia merasakan badannya cepat merasa lelah dan mata pun jadi plus, susah membaca untuk jarak dekat. Itulah sebabnya, olah raga menjadi salah satu solusi, agar dirinya tetap sehat di usia paruh baya.

Rita merasa beruntung di usia 42 tahun, dirinya tidak memiliki penyakit khusus yang berbahaya. Padahal, berbagai jenis makanan kerap dilahapnya dan tak pernah melakukan diet apapun untuk melangsingkan tubuh. Namun, Rita rajin minum vitamin C dan jamu herbal, agar tubuhnya tetap sehat.

Dia menyadari bahwa ternyata benar kehidupan seseorang akan dimulai kembali saat usia 40. “Saya seperti diberi batas, karena sudah tidak muda lagi. Harus berbuat banyak kebajikan, tapi tidak boleh merasa cepat tua, itulah yang saya rasakan.

Namun, hikmahnya adalah saya jadi semakin bertambah dewasa dan sabar. Tapi, ada banyak juga hal yang terlupakan, itulah sebabnya saya tertarik kembali membaca buku-buku saat kuliah dulu, agar ilmu yang dipelajari tetap bisa diingat dan jadi tidak cepat pikun,” tambahnya. Elly Simanjuntak | Fikar Azmy

 

Untuk mendapatkan artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Februari 2016

 

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here