Valencia Mieke Randa: Ketulusan Merangkul Anak Kanker

Matahari bersinar cerah menerangi sebuah rumah di sudut jalan Tebet Utara 2C No.  1 Jakarta Selatan. Rumah tersebut terlihat hangat dengan warna kuning dan oranye mendominasi. Begitu memasukinya, Women’s Obession segera disambut hangat Valencia Rhanda yang akrab dipanggil Silly. “Selamat datang di Rumah Harapan,” ungkapnya dengan gembira.

Dia memperkenalkan para volunteer yang hadir siang itu dan beberapa adik asuh yaitu Tiyas, Erika, Okta dan Randy. Keempat adik asuh tersebut sudah beberapa waktu ditampung Rumah Harapan, karena mengalami penyakit serius.

Rumah ini merupakan salah satu mimpi besar Silly untuk menolong anak-anak penderita kanker yang membutuhkan bantuan. Sudah berdiri sejak April 2014, namun baru dapat menampung anak penderita kanker sejak November 2014.  “Di sini bisa ditampung 36 anak penderita kanker untuk tidur di kamar yang nyaman, tersedia pengobatan, transport pulang pergi ke rumah sakit, pampers, susu, makanan, dan kebutuhan lainnya. Semuanya free,” jelas Silly pendiri Rumah Harapan Valencia Care Foundation (RHVCF).

“Sebetulnya ide membuat rumah singgah ini sudah sejak tahun 2011. Saya sering melihat banyak anak-anak yang sakit dan keluarganya di selasar rumah sakit. Ternyata, mereka datang dari daerah. Untuk berobat kadang kamar rumah sakit penuh. Di Jakarta  mereka tidak mempunyai keluarga untuk menumpang dan perlu menunggu untuk mendapatkan kamar. Di situlah saya tergerak berusaha menampung mereka dalam sebuah rumah singgah,” tambah perempuan lulusan Teknik Mesin Universitas Indonesia ini.

BERAWAL DARI DONOR DARAH

Silly pun bercerita awal mulanya dia tergerak terlibat dalam bidang sosial.  “Hati terketuk ketika tahun 2009 ibu saya perlu menjalani cuci darah setiap dua hari sekali. Waktu itu saya mendirikan Blood for Life, tapi memang belum besar dan aktif. Lalu, tahun 2010 saya masih bekerja dan termasuk tipe orang yang menjalankan hidup secara maksimal. Saat jadi ibu rumah tangga harus dikerjakan sebaik-baiknya, demikian juga dalam bekerja. Namun, saya memang belum aktif full di kegiatan sosial,” jelasnya.

Saat itu di benaknya hanya dipenuhi keinginan untuk mencapai sukses setinggi-tingginya, yaitu karier dan uang. Dia bekerja hingga lupa waktu dan tidak dapat mengurus anak dengan baik. Sampai suatu ketika ada orang yang meneleponnya.

Dia bercerita, “Karena nomornya tidak dikenal dan saya sedang meeting, jadi saya diamkan saja.  Orang itu SMS kalau ibunya sedang membutuhkan darah. Namun, karena sibuk jadi terabaikan. Setelah saya pulang entah mengapa saya tergerak SMS  bapak itu untuk menanyakan apakah sudah mendapat donor darah.

Dia balas SMS dan mengatakan, ”Ah telat, Ibu saya sudah mati’.” Saat itulah hatinya seperti ditikam pisau. Teguran yang begitu keras dan Silly seperti robot yang tidak punya perasaan.  Di otaknya hanya memikirkan uang saja.

KESADARAN MENOLONG

Dua bulan berikutnya kemudian ibu Silly anfal, muntah darah, dan tidak ada kesempatan buatnya untuk mencari darah. Akhirnya beliau meninggal. Dia berkata, “Saya merasa nelangsa, begitu rapuh, apalagi saya sangat sayang dan dekat dengannya.

Perlahan saat itu juga saya baru mulai menyadari, apapun yang kita cintai di dunia ini adalah titipan Tuhan. Semua kalau sudah waktunya, ya akan diambil. Baik itu harta, anak, atau apapun yang kita miliki. Yang akan dibawa pulang hanya amal perbuatan baik. Lalu, saya terpikir apa yang sudah saya  persiapkan kalau dipanggil Tuhan…?”

“Ibu saya melayani Tuhan dan membantu sesama ketika dia divonis kanker. Muncul kesadaran dalam diri, saya tidak mau seperti ibu, menunggu tua dan sakit baru berbuat baik. Saya berpikir justru saat muda dan sehat harus beramal dengan maksimal. Dari pemikiran ini, akhirnya saya mengajukan resign, tapi perlu watu dua tahun untuk diizinkan,” tambahnya.

Tak hanya sampai di situ,  pada tahun 2011 dia membentuk 3Little Angles. Ini merupakan upaya meringankan beban anak-anak kecil yang sekarat dan dirawat di rumah sakit. Dia melanjutkan, “Saya datang menanyakan kabar, mengobrol, memberikan usapan-usapan, dan membacakan buku cerita. Di sinilah saya bertekad lebih ingin membantu anak-anak dengan menampung mereka yang harus menunggu saat ingin berobat dan datang dari keluarga  tidak mampu.”

Akhirnya, dia berhenti bekerja dan  full di bidang sosial. Saya sadar ada orang yang curiga kalau saya mencari popularitas atau mencari uang dari sini. Padahal, justru hasil tabungannya yang digunakan untuk kerja sosial ini. Saya bersyukur keluarga mendapat rezeki yang cukup dari Tuhan dari hasil kerja suami saya. Dia pun mendukung kerja sosial saya selama tetap  ada waktu untuk mengurus ketiga anak saya,” tambah ibu tiga anak ini.

Silly bercerita dalam aksi sosialnya dia banyak mendapat dukungan dari sosial media, baik itu facebook, twitter, instagram. “Followers @justSilly di twitter sekarang ini sudah lebih dari 62.000. Saya bisa mudah menjangkau banyak orang untuk dibantu. Mereka ingin menolong tetapi tidak tahu caranya. Sosmed bisa menjadi semacam penghubung,” tambahnya. Aryani Indrastati | Edwin Budiarso

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Juli 2015

Share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here