Prediksi Risiko Penuaan dari Analisa Gen

Berbagai masalah kulit biasanya diatasi dengan treatment metode observasi klinis oleh dokter atau menggunakan skin analyzer. Namun, ternyata hal tersebut hanya bisa melihat
kondisi kulit secara makro, tidak bisa memprediksi risiko penuaan pada kulit di masa yang akan datang.

Kini, hadir sebuah rangkaian tes yang dilakukan demi mengetahui prediksi resiko penuaan pada kulit di kemudian hari. Dibuat untuk mengetahui seberapa risiko penurunan produksi kolagen kulit, risiko munculnya kerutan, hiperpigmentasi atau flek, jerawat hingga alergi.

Metode perawatan kecantikan kulit terbaru ini disebut dengan dengan Skin DNA Genomic. Ini merupakan cara uji DNA yang menggunakan sampel air liur (saliva) pasien untuk membaca kondisi kesehatan kulit. Informasi genetik dalam DNA diyakini dapat memberi gambaran tentang kondisi kulit secara menyeluruh. Sehingga dari hasil uji tersebut, kemudian kita dapat mengetahui treatment yang tepat sesuai jenis kulit masing-masing.

Saat ini, metode tersebut di Indonesia baru terdapat di Youth & Beauty Clinic. Sang owner dan founder klinik, dr. Gaby Syerly mengungkapkan tahapan tes ini cukup sederhana, hanya dengan mengambil sampel air liur pasien kira-kira 2ml yang kemudian dibawa ke laboratorium di Korea. Hasilnya bisa diketahui pasien dalam tiga sampai empat minggu.

“Ada tes uji coba yang dilakukan sebelum kami me-launching. Keakuratannya kira-kira mencapai 98 persen. Dari pemeriksaan air liur, nanti akan diberikan sebuah hasil berupa buku berisi pemaparan secara jelas yang dibacakan oleh dokter,” paparnya. Tes yang pertama kali diuji coba di Toronto Kanada ini akan menganalisa kurang lebih 13 gen yang berhubungan dengan penuaan kulit. Terbagi dalam enam parameter yaitu sistem antioksidan, pigmentation, inflammation system, collagen regeneration, wrinkle, dan skin cell regeneration.

Dr. Gaby menambahkan, tes ini bisa dilakukan di usia sedini mungkin sebagai upaya pencegahan. “Dengan tes ini kita bisa mencegah tanda-tanda penuaan ke depannya, lalu disarankan treatment apa yang cocok dengan permasalahan tersebut. Kita akan melihat dari tekstur kulit apakah jenisnya normal, kering, atau berminyak. Kemudian, bagaimana resiko inflamasi atau jerawatnya. Apakah ada alergi. Dan misalkan hasil pigmentasinya ternyata very risky, maka disarankan pakai sunblock dengan SPF 50, ataupun treatment lainnya. Dengan demikian, perawatan kulit akan lebih personalized,” tandasnya.

 

Selain Skin DNA Genomic, ada pula Nutrigenomic dengan prosedur Nutrigen-Me yang mengutamakan pada analisa kondisi kesehatan tubuh secara lengkap serta informasi nutrisi yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan

Naskah: Angie Diyya Foto: Fikar Azmy

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here