Berkarya Melestarikan Wastra Nusantara

Novita Yunus, Owner & Creative Director Batik Chic

Berkarya sebagai desainer dengan basis wastra Nusantara yang fokus mengangkat kain batik menjadi second act Novita Yunus. Adalah sang bunda tercinta, sosok pendorong dirinya untuk menekuni kegiatan kebudayaan sejak kecil. Dibesarkan di kota seni Yogyakarta, dia sudah sangat dekat dengan dunia batik, bermain gamelan, menari tarian Jawa maupun Bali. Tak heran, setelah berkarier di dunia perbankan selama 13 tahun, dia memutuskan banting setir untuk bergelut di bidang fashion, sekaligus melestarikan kain-kain tradisional Nusantara yang sarat makna.

Awalnya dia hanya iseng saja membuat tas dari bahan batik, kemudian memajangnya di laman media sosial. Tak disangka kreasinya diminati teman-teman dan kenalannya. “Saya pun semakin mantap untuk beralih profesi dan terjun berbisnis sendiri. Kebetulan saya adalah seorang single parent dengan tiga anak, kali ini saya harus memilih pekerjaan yang bisa memiliki waktu luang untuk mereka. Saya pun bertekad harus berhasil dan anak-anak menjadi motivatornya. Mengingat ini bukan pekerjaan yang mudah. Sebagai entrepreneur jelas berbeda dengan pengalaman saya sebelumnya yang bekerja sebagai pemimpin di salah satu cabang bank asing di Jakarta. Ya, mau tidak mau saya memang harus nekat,” ujarnya sambil tersenyum mengenang saat masa-masa awal dirinya mulai berbisnis dahulu.

BERBAGAI KENDALA MENERPA

Setelah tas kreasinya booming di pasaran, bukan berarti perempuan yang biasa disapa Novi ini menjadi tenang dan bisnis berjalan lancar. Dia malah stres karena banyak orang mengikuti jejaknya dan meniru tas-tas buatannya. Adalah seorang Anne Avantie yang kemudian memberinya kekuatan untuk tidak patah semangat. Dia kemudian mengundang Novi untuk datang ke Solo.

“Saya pikir ada apa ya, di sana. Ternyata saya melihat dia mengajari 1000 perempuan bagaimana menjahit kebaya dengan benar, termasuk juga memberi informasi tempat membeli kain brokat dan payetnya. Lalu, murid-muridnya ada yang berkomentar, mereka sudah melakukan semua yang diajarkan Anne, namun hasilnya tidak bisa sama dan berbeda. Jadi, saya diajarkan untuk tidak perlu takut, jika ada banyak orang meniru hasil kreasi kita, karena mereka hanya bisa berbuat sebatas itu saja. Teruslah berkarya dan berinovasi, tanpa harus mendengarkan ‘kanan dan kiri’ kita,” papar Novi yang kemudian kembali bersemangat setelah mendapat pencerahan tersebut.

Tak hanya itu saja, seiring berjalannya waktu ada banyak hal di awal yang membuat dirinya terkaget-kaget. Jika dulu sewaktu bekerja dia lebih mudah berinteraksi dengan sesama karyawan, karena latar pendidikan minimal S1. Kini karena mesti bergelut dengan banyak penjahit yang pendidikannya berbeda, dia harus mengubah cara berkomunikasi, agar tidak frustrasi. Lalu, ada hal-hal lainnya yang terpaksa dia kerjakan sendiri dan harus menjadi tanggung jawabnya. Seperti target kerja, strategi bisnis, sumber daya manusia, quality control, kreativitas maupun inovasi baru dan lain-lainnya. Ini semua sangat berbeda dengan kondisi sebelumnya, saat dia berada di posisi menjadi seorang karyawan.

Untungnya, Novi sudah terbiasa bekerja di dunia perbankan yang harus memenuhi target secara jelas. Dia juga sangat disiplin dan membiasakan karyawan belajar mengikuti gaya mengelola perusahaan, agar semua rencana terwujud sesuai target. Jam dan irama kerjanya pun berubah. Bahkan, kadang-kadang dia bisa 24 jam di galeri. Novi merasa bersyukur bidang bisnis yang dijalani sudah sesuai passion, sehingga waktu berjalan tidak terasa baginya.Setiap ada tantangan perempuan lulusan Universitas Padjajaran ini selalu berusaha menghadapinya dengan kepala dingin. Termasuk saat cash flow merah pernah menerpanya, meskipun sempat merasa desperate, Novi berusaha ikhlas dan menyerahkannya kepada Yang Maha Kuasa.

“Di tengah kesusahan masih ada orang yang lebih menderita, itulah sebabnya saya tetap berikhtiar dan bersedekah. Alhamdulillah, ada saja jalan terbuka dan pertolongan datang. Saya percaya itu semua sudah diatur oleh Allah SWT. Kita sebenarnya tinggal menjalaninya saja, sambil terus berusaha sebaik-baiknya dan pantang menyerah.”

TERTANTANG GO INTERNATIONAL

Novi menyadari bahwa dia tidak dapat mengurus semuanya sendiri. Beruntung dia memiliki kakak dan adik yang mau membantu. Adiknya yang ketikaitu kuliah di Prasetya Mulia Business School diserahi tugas untuk menyusun business plan, sementara dia sendiri bertanggung jawab sebagai creative director. 

Sementara, urusan keuangan diserahkan kepada sang kakak yang merupakan lulusan S2 di bidang finance. Dengan demikian, dia pun bebas berkreasi menghasilkan berbagai produk. Kini, Novi tidak hanya memproduksi tas saja, melainkan juga berbagai busana, kain, selendang, tas, dan aksesori lainnya. Nama Batik Chic pun kian melanglang buana, sampai ke mancanegara. (Elly | Fikar Azmy)

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Women's Obsession edisi November.