Bank DBS Indonesia Berbagi Kiat Startup

Dunia startup di Indonesia telah menarik perhatian banyak investor internasional dan perusahaan, karena banyak peluang besar yang tersedia di pasar Indonesia.

Tech in Asia sebagai ekosistem startup terbesar dan paling menjanjikan di Asia Tenggara tahun ini hadir dengan konferensi ‘Tech in Asia Jakarta 2018’ yang akan membuka kesempatan bagi wirausaha Indonesia dalam memperluas jaringan, memperoleh insight dan tren baru di dunia bisnis Internasional.

Pada kesempatan tersebut, Bank DBS Indonesia pun ikut serta sebagai salah satu pembicara utama di dalam sesi ‘Make Your Revenue Forecasting Reliable’.

“Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh penggiat startup dalam memprediksi pendapatan yang akan diperoleh secara akurat adalah dengan mengelola pengeluaran melalui efisiensi biaya. Salah satu contoh yang dapat diambil adalah penggunaan co-working space yang lebih efisien secara biaya dibandingkan menyewa satu ruangan kantor dalam suatu gedung perkantoran.

Selain efisiensi biaya, menggunakan co-working space juga bermanfaat dalam membuka kesempatan bertemu dengan pebisnis lainnya demi memperluas jejaringan,” ujar  Rudy Tandjung, Director PT Bank DBS Indonesia.

Indonesia menempati urutan keenam dalam daftar negara di dunia dengan jumlah startup terbanyak menurut website Startup Ranking. Data terbaru (Oktober 2018) menunjukkan, tercatat total startup Indonesia mencapai 1.923 startup, menempatkan Indonesia di urutan keenam di bawah Amerika Serikat (45.759 startup), India (5.710 startup), Inggris (4.812), Canada (2.397) dan Jerman (1.942).

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mengatakan bahwa perkembangan start-up yang pesat itu juga mendorong perekonomian dan keuangan negara.

Bank DBS telah bekerja sama dengan berbagai startup di Asia dan memahami beberapa tantangan terbesar yang dihadapi startup dalam mengelola bisnis. Di antara tantangan tersebut, adalah terkait prediksi yang akurat akan arah bisnis dan memastikan startup menemukan praktik terbaik dalam mengatasinya.

Sedikit berbeda dengan dunia usaha pada umumnya, para penggiat startup seringkali lalai membuat prediksi yang akurat dan dapat diandalkan dalam mengelola pengeluaran agar keuntungan meningkat. Melalui sesi seminar yang bertemakan ‘Make Your Revenue Forecasting Reliable’, Rudy Tandjung selaku Director PT Bank DBS Indonesia menyampaikan upaya menekan pengeluaran yang sejalan dengan perkiraan bisnis secara akurat.

“Produktivitas dan efisiensi sumber daya manusia pun harus diperhatikan. Sebagai contoh, apabila suatu startup memiliki lima anggota tim maka peran akuntan tidak begitu diperlukan dan dapat mempertimbangkan menggunakan accounting software.

Upaya yang dapat dipertimbangkan adalah bekerja sama dengan perusahaan atau institusi perbankan besar  untuk keperluan finansial perusahaan. Penggunaan digital banking untuk perusahaan dapat menghemat biaya dan waktu, yang sepantasnya dicurahkan dalam membangun startup.

Pemilihan mitra perbankan juga patut diperhatikan, tidak hanya mitra perbankan yang dapat memberikan manfaat transaksional, tetapi juga mampu memberikan akses dalam mengembangkan bisnis, memperluas jaringan, serta mampu memberikan insights terkait industri dan bisnis, seperti platform yang disediakan oleh Bank DBS yaitu, DBS Business Class.” tambah Rudy Tandjung, Director PT Bank DBS Indonesia.

DBS Business Class adalah platform yang membantu wirausahawan dalam mengembangkan bisnis dan jaringan, menerima tren pasar terbaru, dan mendapatkan akses eksklusif ke komunitas ahli bisnis Asia yang berpengetahuan luas.

Terhubung dengan penasihat bisnis DBS dan menghadiri networking event untuk bertemu dengan influencer utama dalam bisnis, termasuk pemodal venture, DBS SME specialist, dan rekan industri dari seluruh Asia. Informasi mengenai DBS Business Class bisa diakses di go.dbs.com/businessclassid.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here