Festival Lima Gunung

Dikelilingi gunung-gunung yang menjulang tinggi, tidak heran jika tanah Magelang terbilang sangat subur. Beragam jenis perkebunan terlihat di berbagai penjuru. Aneka lokasi wisata alam pun siap memanjakan mata. Terletak di antara lima gunung yakni Merapi, Merbabu, Sindoro, Andong, dan Menoreh, Festival Lima Gunung mulai digelar sejak tahun 2002 dan menjadi ajang tahunan yang masih berlangsung hingga saat ini.

Mensyukuri nikmat alam yang telah diberikan adalah ruh terselenggaranya Festival Lima Gunung. Di awal kemunculannya, pihak penyelenggara terinspirasi untuk mengadakan acara ini dari prasasti yang ditemukan di Candi Gunung Wukir. Situs sejarah tersebut ialah Prasasti Canggal yang bertuliskan tahun 654 Saka atau sekitar 732 Masehi. Tahun tersebut adalah masa kepemimpinan Raja Sanjaya, keturunan Ratu Shima (674-689 Masehi). Terdapat juga catatan tentang masyarakat yang hidup makmur, tenteram, patuh terhadap aturan, dan kepemimpinan yang bermartabat pada masa tersebut. Mengandung filosofi bahwa nilai-nilai hidup kebersamaan dan masyarakat yang sejahtera pada masa lalu yang kini telah lama terpendam, meskipun tidak mati. Masyarakat di sana menemukan makna dalam simbolisasi tanaman pertanian mereka “pala kependhem” yang hidup, tumbuh, dan berbuah di dalam tanah hingga siap dipetik, menjadi suri teladan kehidupan di zaman sekarang. Mengadopsi prinsip tersebut, acara ini diharapkan mampu menyatukan masyarakat dari berbagai lapisan, sepeti seniman, artis, pendidik, akademisi, dan tetua setempat. Tidak hanya itu, para penyelenggara juga berharap melibatkan warga setempat dalam persiapan festival berasaskan kerja gotong royong.

Acara ini akan dibuka di Candi Gunung Wukir, dusun Canggal, desa Kadiluwih, Magelang pada 20-22 Juli 2018. Kirab budaya dan berbagai pagelaran seni akan belangsung di dusun Keron, desa Krogowanan. Para seniman, komunitas, dan masyarakat mengadakan pawai keliling mengenakan pakaian adat. Selain itu, berbagai perlengkapan seperti alat bertani juga turut dibawa untuk menggambarkan keanekaan budaya yang ada di sana. Sedikitnya ada 20 orang pelukis turut andil dalam pagelaran tahun lalu. Mereka mengadakan pameran bertajuk “Pascamikir” selama Festival Lima Gunung XVI/2017 di kawasan Gunung Merbabu. Ada pula penampilan seni tari tradisional yang turut mempromosikan budaya Magelang. Beragamnya kebudayaan yang ditampilkan membuat festival ini ramai dikunjungi para wisatawan. Selain untuk mengikuti rangkaian acara Festival Lima Gunung, para wisatawan baik domestik hingga mancanegara juga bisa menikmati panorama alam menawan. Mulai dari hutan pinus, pendakian gunung, hingga situs dunia, Candi Borobudur.

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Juli 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here