Dita Soedardjo │ Berproses Tanpa Lupa Lingkungan Sekitar

“Menghadapi para pesaing, jujur saya merasa excited. Pesaing pasti banyak dan akan selalu ada, jadi harus dihadapi dengan positif. Kompetisi jangan malah membuat stres.”

Bagi para pencinta ice cream, nama Häagen-Dazs tentu sudah tidak asing lagi. Selain Soetikno Soedarjo ternyata ada sosok sang putri bungsu Dita Soedarjo yang turut bergelut di bisnis ini sejak tiga tahun lalu. Tidak main-main dengan dunia bisnis yang dijalaninya sekarang, dia mampu membuktikan kemampuannya dengan melahirkan perusahaan-perusahaan miliknya sendiri, seperti Virgin Villains, Dignity Woman, dan D’licate Eyelashes.

Tak hanya terjun ke dunia bisnis, wanita berusia 26 tahun ini juga tengah disibukkan dalam proses penulisan buku. Kecintaannya dengan dunia sosial juga terlihat dari adanya organisasi Let’s Share dan Dignity Woman.

Apa alasan mau menjalani bisnis Häagen- Dazs mengingat sudah memiliki tiga bisnis yang didirikan secara pribadi?

Saya selalu ingat apa yang ditanamkan oleh ayah saya. Bahwa hidup
mesti berproses. Harus sabar terutama dalam berbisnis. Selain itu, saya juga diajarkan untuk tidak mengikuti sifat kaum milenial yang hanya ingin segala sesuatu serba instan tanpa melalui proses terlebih dahulu.

Hidup di era digital dan media sosial, kita mungkin sering melihat kesuksesan orang lain yang tampak sekejap mata. Tapi sebenarnya tidak demikian. Saya juga diajarkan untuk memosisikan diri sebagai orang yang tidak memiliki kesempatan untuk sukses secara kilat. Perlu menjalani semua dari nol, sebab sukses tanpa tahu proses pun memiliki risiko sangat besar.

Cerita singkat di balik bisnis Virgin Villains, Dignity Woman, maupun D’licate Eyelashes?
Dignity Woman adalah bisnis yang menjual baju-baju dress dan dipasarkan secara online. Belum masuk ke butik-butik dan rencananya baru dimulai tahun ini. Hal istimewa dari bisnis ini adalah 20% dari keuntungan akan digunakan untuk training para janda, wanita-wanita mantan pekerja asusila, dan mantan tenaga kerja wanita (TKW). Bisnis Virgin Villains juga menyediakan dress.

Bedanya Dignity Women menawarkan dress simple, sementara yang satu ini lebih ke lace. Untuk D’licate Eyelashes tidak hanya memproduksi bulu mata. Ada sponge, wadah untuk makeup, dan kontur pipi maupun hidung. Untuk yang satu ini dibuat karena, saya sangat menyukai dunia kecantikan.

Selain tiga bisnis itu, ada pula organisasi Let’s Share. Jika Dignity bergerak untuk wanita dewasa, organisasi tersebut didirikan untuk membantu anak-anak dalam dunia pendidikan. Rumah singgah Let’s Share Health Care juga menjadi fokus saat ini. Digunakan untuk menampung bayi telantar dan para pasien yang membutuhkan tempat bernaung.

Selain itu, para ibu yang mengalami tekanan atau trauma juga bisa berkunjung untuk konseling agar tidak berjuang sendirian. Jadi, selain bisnis, saya ingin membawa harapan bagi mereka.

Ada kah pengalaman menarik selama bekerja di Häagen-Dazs?

Kerja sama dengan para principal merupakan salah satu pengalaman paling menarik. Bagaimana berdiskusi untuk menemukan keputusan terbaik juga menjadi salah satunya. Selain itu, ketika kita saling komunikasi juga menjadi pengalaman berharga, terpaut jarak dan waktu, hal itu memang terbilang tidak mudah dilakukan. Saat melalui proses pengajuan keputusan atau ide juga kerap membuat saya merasa waswas.

Apakah akan diterima atau ditolak. Berusaha menerima sudut pandang dari mereka yang terbilang sangat jauh berbeda dengan saya juga menjadi tantangan. Belajar sabar dan bernegosiasi juga ternyata menarik, karena itu termasuk learning by doing. Tidak bisa seperti buku yang hanya dibaca.

Pandangan dalam menghadapi pesaing dari perusahaan serupa?

Menghadapi para pesaing, jujur saya merasa excited. Pesaing pasti banyak dan akan selalu ada, jadi harus dihadapi dengan positif. Kompetisi jangan malah membuat stres. Kalau demikian, belum apa-apa kita justru bisa kalah. Jika bagi orang lain, kompetitor adalah orang yang harus dijauhi, kalau saya sendiri lebih suka berteman dengan mereka. Lewat kompetisi yang sehat kita bisa menambah pengalaman dan menjadikannya pelajaran terbaik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here