72 Indonesian Inspiring Women 2017: Dewi Muliaty Direktur Utama Prodia

 

Menginjak usianya yang ke-44 tahun, Prodia kini kian melambung dan bisa dibilang menjadi laboratorium dan pusat rujukan diagnostik terbaik di Indonesia.

 

Prestasi dan keberhasilan PT Prodia Widyahusada Tbk (Prodia) tidak lepas dari kerja sama semua tim yang dipimpin oleh Direktur Utama Prodia Dewi Muliaty. Hal ini juga dibuktikan dengan perolehan akreditasi dari laboratorium medis paling bergengsi di dunia, College of American Pathologists. Dewi sendiri bukanlah orang baru di Prodia, dia
ikut membangun perusahaan ini sejak awal dari posisi asisten manajer Teknis-QC bersama Andi Wijaya (pendiri) hingga sekarang.

Dari perjalanan panjang ini, Prodia telah berevolusi menjadi pemain besar di industri laboratorium klinik. Penyebaran jumlah cabangnya telah menjangkau hampir seantero Nusantara. Seluruh laboratorium klinik ini dikelola sendiri–bukan waralaba, tak lain demi mempertahankan kualitas layanan. “Sebagai Centre of Excellence dalam mengembangkan perusahaan, saya berusaha melakukan berbagai inovasi. Misalnya, saat ini, Prodia sudah memiliki klinik khusus untuk perempuan di Jakarta, yakni Prodia Women’s Health Centre. Selain itu, perusahaan juga telah membuka Prodia Children’s Health Centre di Jakarta dan Surabaya. Untuk Prodia Senior Health Centre rencananya kelak akan dihadirkan,” lanjutnya.

Setelah melantai di bursa efek, kesuksesan Prodia juga dibuktikan dengan mendapatkan laba bersih sebesar Rp58,75 miliar pada semester I 2017. Laba perusahaan farmasi berkode saham PRDA tersebut meningkat 50,28%, dibandingkan semester I 2016 yang mencapai Rp39,09 miliar. Adapun pendapatan Prodia pada semester I 2017 mendapat Rp 672,61 miliar dengan total aset sebesar Rp1,83 triliun.

Dewi selalu menekankan, “Meskipun perekonomian di tingkat nasional maupun global masih bergejolak. Semangat bekerja dan inovasi tidak boleh kendor untuk menciptakan peluang baru. Hingga kini, Prodia telah mengoperasikan 273 outlet layanan yang terdiri dari 131 laboratorium klinik, satu Prodia Health Care atau PHC stand alone, tiga klinik khusus, 12 laboratorium rumah sakit, dan 126 Point of Care Service di klinik dokter di 31 provinsi. “Selain itu, berbagai jenis pemeriksaan baru ditambahkan, yakni delapan jenis tes pemeriksaan dan tiga panel wellness check up. Salah satu tes baru adalah Pemeriksaan Warfarin IndivTest (CYP2C9 & VCORC1 genotipe) untuk penentuan dosis Warfarin. Selama lima tahun ke depan, Prodia pun berencana membangun klinik khusus pasien-pasien tertentu dan menargetkan pada 2020 akan membangun tambahan 34 laboratorium klinik,” tambah lulusan S3 Biomedik – Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin ini. Elly Simanjuntak |Dok. Pribadi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here