72 Indonesian Inspiring Women 2017: Dolorosa Sinaga Pematung

Lebih dari separuh usia Dolorosa Sinaga dihabiskan untuk mematung dan menyuarakan hal yang esensial dari sosok perempuan.

Menghilangkan penindasan terhadap kaum Hawa di dunia adalah untaian kata nuraninya. Dia mengartikan seni adalah medium untuk ‘mendesakkan’ perbaikan sosial. Salah satu inspirasinya berawal dari kondisi sosiokultural Indonesia masa kini yang banyak diwarnai pelanggaran hak asasi manusia.

Selain sisi kerapuhan, perempuan memiliki sifat alami yang tangguh dan kuat, seperti tempaan patung dengan media logam. Pemikiran tersebut kian meneguhkannya untuk terus mematung figur perempuan berstruktur kuat.

Diibaratkan perempuan sebagai mata rantai kehidupan di bumi. Maka, dia selalu berharap atas segala bentuk penindasan terhadap kaum perempuan dapat dilenyapkan dari seluruh muka bumi ini.

Keinginan untuk menjadi pematung telah muncul sejak belia. Dia memilih Institut Kesenian Jakarta (IKJ) sebagai wadah untuknya mendalami dunia seni. Kemudian, melanjutkan pendidikan di St. Martin’s School of Art, London.

Dolo sempat mempelajari seni patung melalui berbagai kursus singkat, magang, dan seminar di Kornarija –Lubliyana Yugoslavia, San Francisco Art Institute dan Universitas Merryland, Amerika Serikat (AS). Dia pun pernah mendapat undangan dari USAID mengelilingi galeri dan museum di 9 negara bagian AS.

Pada awalnya, pilihan Dolo tidak mendapat restu sang ayah, karena dunia ini tidak cocok untuk kaum perempuan pada zaman itu. Namun, dia teguh pada pendirian untuk terus ‘bercinta’ dengan seni. Saat kembali ke Tanah Air, dirinya membantu proyek pemugaran situs penempaan perunggu di Trowulan, Jawa Timur pada 1985.

Lalu, aktif menjadi dosen di IKJ untuk mata kuliah seni patung, sejarah seni, seni gambar anatomi, dan tubuh pada 1983. Kekuatan karya-karyanya adalah menciptakan patung dengan ‘gerak membeku’ atau biasa disebut static in motions, misalnya, gerak tubuh seorang penari, olahragawan, bahkan aneka mimik dari wajah seseorang.

Beragam pameran bersama maupun tunggal telah dilakukannya di dalam maupun luar negeri. Sejumlah karya Dolo telah dipajang di galeri internasional, seperti International Monetary Fund Gallery Washington DC, AS, Kantor Bank Indonesia, Kantor Komisi Nasional Anti-Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), dan Sol Art Gallery Chianti, Italia.

Studio seni miliknya yang bernama Somalaing Art Studio juga telah menghasilkan desain piala untuk Penghargaan Festival Film Indonesia 2014, Yap Thiam Hien, dan Kridha Wanadya Tahama. Syifa Evizareta | stimewa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here