Iriana Joko Widodo: Ibu Negara

Ketika kesederhanaan kian langka di negeri ini, Iriana Joko Widodo membuka mata khalayak luas bahwa seorang Ibu Negara sekalipun bisa tampil sederhana. Sebuah teladan yang patut ditiru.

 

1-iriana-jokowi2edit

 

Iriana mampu menunjukkan bahwa jabatan dan kelas sosial bukanlah alasan untuk bermewah-mewahan. Sejak suaminya menjabat Walikota Solo, kemudian melesat kariernya sebagai Gubernur DKI Jakarta, dan akhirnya berhasil melangkah ke istana sebagai orang nomor satu di negeri ini, dia tetaplah Iriana yang dulu.

 

Saat mendampingi suaminya dalam prosesi pelantikan Presiden RI terpilih, 20 Oktober 2014, Iriana tampil dengan balutan kebaya kutu baru oranye terang yang “tidak baru.” Foto-foto hari pertama Iriana sebagai ibu negara di Istana Merdeka, dimuat besar di berbagai koran nasional hanya mengenakan pantalon. Iriana pun tak canggung ketika menjinjinga tas daur ulang pemberian Veronica di acara kenegaraan.

 

Dalam beberapa kali kesempatan bepergian sendiri, Iriana juga tidak menggunakan pengawalan protokoler super ketat. Sebuah tulisan dari wartawan senior Seno Gumira Ajidarma mengungkapkan hal itu. Ia menyinggung pengalamannya menyaksikan Ibu Negara yang baru, di Bandara Adisoemarmo, Surakarta. “Saya saksikan banyak orang meminta ber-selfie-ria dengannya, dan semua dilayani dengan senyum cemerlang yang sama seperti yang juga telah disaksikan ratusan juta orang empat hari sebelumnya (saat pelantikan presiden terpilih, red),” demikian tulis Seno.

 

“Namanya Ibu Negara, tidak keliru jika duduk di kelas bisnis. Tapi ternyata tidak! Iriana, first lady kita, duduk di kelas ekonomi! Masih saja tersenyum manis melayani para peminat selfie yang bagai tiada habisnya,” begitu Seno menulis.

 

Adagium yang menyatakan “Behind a great man, there’s a great woman” rasanya bisa berlaku Iriana. Di balik perjalanan karier Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang fenomenal dan meroket dalam waktu relatif singkat, Iriana selalu berada di sisinya.

Sebagai first lady, Iriana memang menjadi sangat sibuk, namun keluarga tetap menjadi prioritasnya. Dia mendidik putra dan putrinya hidup sederhana, mandiri, dan tidak bergantung kepada orang tua. Putra-putrinya, Gibran Rakabuming Raka, Kahiyang Ayu, dan Kaesang Pangarep dikenal sebagai sosok mandiri yang anti memanfaatkan posisi orang tua. Gibran dan Kaesang memilih hidup mandiri dengan bersekolah di luar negeri. Kemudian, Gibran sukses menjadi pengusaha katering terkenal di Kota Solo meski usianya belum genap 25 tahun saat itu.

 

“Kartini modern jangan sampai meninggalkan kodratnya sebagai seorang istri, ibu, dan bagian dari anggota masyarakat,” seru pengagum RA Kartini.Dia membuktikan hal itu. Setiap akhir pekan, sejak masih menjadi istri Gubenur DKI Jakarta hingga menjadi Ibu Negara, dia menyempatkan diri pulang ke Solo untuk melihat Gibran dan Kaesang yang lebih memilih berada di sana. Iriana pun tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang istri di antaranya. Menyiapkan sendiri jamu racikan untuk sang suami. Andi Nursaiful | Istimewa

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here