Enny Sukamto | Lepas dari Jeratan Kanker Usus

0
5
Enny Sukamto

Perempuan berparas manis yang senang merawat kecantikannya ini harus menerima  kenyataan pahit akibat kemoterapi. Rambutnya rontok, kuku menghitam, bulu mata dan alis pun ikut runtuh.

 

Kehidupan memang ibarat roda atau jam yang terus berputar. Suka dan duka akan bergantian mengisi perputaran roda hidup manusia. Tak ada seorang pun di dunia yang luput dari hal tersebut. Begitupun dengan seorang Enny Sukamto-Hehuwat.

Berbagai cobaan singgah pada dirinya. Perempuan yang pernah menjadi top model era tahun 1980-an ini divonis menderita kanker usus stadium 3B.

Saat ditemui di rumahnya yang asri dengan dominasi warna putih menenangkan, Enny masih terlihat cantik dan langsing di usianya yang tak lagi muda.

Awalnya, dia memang tidak merasa seperti tengah mengalami penyakit yang berat, karena anak sulungnya, Ratih Putri pernah menderita kanker limfoma pada tahun 2004 sampai 2005.

Dirawat di rumah sakit yang sama dengan Enny di Melbourne. “Putri saya  berhasil sembuh dari penyakit tersebut. Itulah sebabnya, saya percaya pasti bisa sembuh juga, meskipun tidak mudah.

Dulu saya sampai meninggalkan semua pekerjaannya demi mendampingi anak saya  berjuang melawan kanker. Saya ingin selalu ada untuknya dan bersyukur sekali,  akhirnya dia bisa sembuh,” ujar Enny dengan nada optimis.

Sebelum memeriksakan diri ke dokter, dia memang kerap kesulitan dan merasa sakit ketika buang air besar atau (BAB).  Enny saat itu tidak segera langsung memeriksakan diri ke dokter, meskipun sudah dinasehati oleh anaknya.

“Pendarahan pun terjadi, lalu saya diterbangkan ke Melbourne. Kebetulan anak-anak sekolah di sana. Setelah diperiksa dokter, saya dinyatakan menderita kanker  usus. Saya sempat shock dan bertanya-tanya kepada Tuhan, mengapa bisa terkena penyakit ini.

Padahal, saya termasuk orang yang menjalankan hidup sehat, masih ingin hidup lebih lama dan bisa berkumpul bersama keluarga,” papar Enny dengan nada sedih.

enny.ok.suamiDia pun harus berjuang melawan kanker usus sendirian di di negeri orang selama setahun. Ususnya mesti dipotong sekitar 40 centimeter pada 2006.

Sementara, suaminya Micky Hehuwat tak bisa mendampingi, karena kesibukannya bekerja di Jakarta.

Dia melanjutkan, “Saya merasa kecewa dan frustasi. Di saat memerlukan support dan perhatian dari suami, ternyata tidak saya dapatkan. Saya hanya bisa menangis dan pasrah meminta kekuatan dari Tuhan.

Setelah berkontemplasi, kekuatan datang dari-Nya. Saya merasa bersyukur masih bisa mendapatkan perawatan terbaik di rumah sakit bagus dan anak-anak ikut memberikan semangat.”

Enny pun tersadar bahwa dalam memerangi kanker, dia tidak boleh bertumpu kepada orang lain, tapi harus ada spirit dari dalam diri sendiri, agar bisa sembuh dan banyak berdoa.

Perempuan berparas manis yang senang merawat kecantikannya ini harus menerima kenyataan pahit. Akibat kemoterapi rambutnya pun rontok, kuku menghitam, bulu mata dan alis pun ikut runtuh.

Di sela-sela jadwal kemoterapi, untuk menghibur hatinya Enny tetap melakukan kegiatan yang disukainya, seperti shopping, melukis, berdansa maupun memasak. Meskipun memakai kursi roda, topi untuk menutup kepalanya yang botak, dan hot pants, dia tetap semangat pergi berbelanja bahan-bahan masakan.

Rasa tidak enak paska menjalani kemoterapi dilalui dengan ketabahan hati, seperti rasa mual, lidah seperti mati rasa, dan setiap memegang sesuatu seperti tersetrum. Tanpa ditemani suami Enny menjalani 12 kali kemoterapi.

Masa-masa berat selama setahun di Melbourne  dijalaninya dengan pasrah. Namun yang menyedihkan, setelah berhasil melewati masa pengobatan, cobaan baru menghadangnya: ibu Enny meninggal dunia. Dia berusaha menguatkan diri menghadapi kenyataan ini.

“Syukurlah pada tahun pada 2007 dokter memberikan kabar baik saya sembuh dari penyakit kanker. Banyak sekali hikmah yang dapatkah selama mengalami cobaan tersebut. Selama ini saya hanya terhanyut kesibukan duniawi.

Sejak sakit saya disadarkan untuk siap dengan kematian. Saya berterima kasih kepada Tuhan masih bisa diberikan nafas kehidupan kedua dan mesti saya jalani dengan sebaik-baiknya,” papar Enny dengan sungguh-sungguh.

enny.ratihTak disangka kanker ternyata tak hanya menyerang Enny dan putrinya, tapi juga sang suami tercinta. Micky pun segera diperiksaan secara seksama dan menyeluruh. Hasilnya, sungguh membuat Enny terhenyak, suaminya ternyata mengidap kanker tonsil di leher dan sudah menyebar sampai ke ketiak.

Kesehatan suaminya yang terus memburuk, membuat Enny berhati-hati menjaga kesehatannya.

“Ketika suami sakit, saya mesti kuat dan harus dijaga jangan sampai saya ikut-ikutan sakit. Nanti siapa yang akan menjaga dan mendampingi Micky? Saya harus menebarkan aura positif, rasa optimis, dan kekuatan kepada orang-orang terdekat saya,” ungkapnya kepada Women’s Obsession.

Namun, setelah bertahan selama dua tahun memerangi kanker tonsil, nyawa Micky tak bisa bertahan dan tertolong lagi. Dia meninggal di usia 66 tahun pada 18 Mei 2014.

Kankernya sudah tak bisa dikendalikan penyebarannya. Meskipun, Enny sudah pernah membekali diri menghadapi kematian, namun dia tak siap ketika sang suami meninggalkannya untuk selamanya.

Dengan suara sendu dia berkata, “Micky adalah seorang suami dan ayah yang baik. Selalu memanggil saya dengan kata love. Ada rasa rindu ingin kembali mendengar suaranya. Kami sudah 30 tahun hidup bersama, melewati jalan panjang berliku dan tetap selalu bersama meskipun tak mudah dilalui. Saya benar-benar merasa kehilangan.”

Dalam sebuah perkawinan dia mendapati kesimpulan yang paling penting untuk mempertahankan pernikahan harus ada komunikasi yang baik antara suami istri. Bila komunikasi terjalin dengan baik, orang ketiga sulit masuk di dalam kehidupan rumah tangga.

Selain itu, perlu saling percaya dan menjaga privasi masing-masing. Enny  sendiri pernah mengalami perceraian  dengan suami pertamanya pada usia 27 tahun pada 1981, saat dirinya menjadi peragawati terkenal.

Pengalaman tersebut sangatlah menyakitkan, apalagi anaknya diasuh  oleh mantan suaminya. Dua tahun kemudian dia menikah dengan Micky dan dikaruniai tiga anak.

Dia berpesan kaum muda sekarang sebaiknya jangan mudah menyerah dalam mempertahankan perkawinan. Kalau memang masih bisa dilanjutkan, sebaiknya jangan langsung bercerai.

Perempuan yang cinta kain-kain Indoensia ini hingga sekarang berusaha tetap bersemangat meneruskan kehidupannya. Masa-masa berkabung kehilangan suami tercinta mulai ditinggalkan.

“Saya tidak mau terus berlarut-larut dalam suasana duka. Apalagi, saya masih mempunyai tanggung jawab sebagai ibu mengurus anak-anak dengan enam cucu yang menjadi penghibur hati.

Agar kehidupannya lebih bervariasi, saya kembali menjalankan berbagai aktivitas dan berkumpul bersama sahabat lama,” lanjutnya. Elly Simanjuntak | Dok. Pribadi

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Mei 2015

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here