Dayu Dara Permata Head of Go-Life ǀ Kembangkan Kompetensi Mitra

Menjadi pemimpin muda di salah satu unit usaha GO-JEK Indonesia, Dayu Dara Permata ingin membuat GO-Life semakin berkembang dengan menghadirkan berbagai layanan baru yang berdampak positif bagi para mitra maupun konsumen di Indonesia. Telah hadir di 34 kota dan 60 Kabupaten, GO-LIFE diharapkan mampu eksis di seluruh pelosok Tanah Air. Mengisi me time dengan travelling, wanita pecinta kucing ini juga gemar membaca untuk terus meningkatkan kemampuan diri.

Apa saja pencapaian yang telah diraih selama di Go Life?

Sejak saya bergabung hingga hari ini yang telah dicapai adalah memunculkan layanan on demand professional services yang pertama di Indonesia. Saat ini kami sudah memiliki delapan layanan, di antarany on demand massage service, on demand beauty service, on demand laundry service, on demand cleaning service. Juga ada satu layanan yang akan diluncurkan dan menjadi kejutan. Tapi masing-masing layanan sudah menjadi market leader di bidangnya.

GO-Massage sudah the large massage provider di Indonesia dengan melayani jutaan permintaan pijat bagi konsumen Indonesia. Pengukuran keberhasilannya adalah jumlah lapangan pekerjaan yang dapat dihasilkan dari platform tersebut, yakni sudah lebih dari 60.000 mitra yang terdaftar. Dari himpunan data tersebut, kami terus giat menciptakan dampak yang lebih besar lagi untuk masyarakat.

Tantangan apa saja yang dijalani mengemban amanah ini?

Tantangan pasti banyak, di setiap lini dan aspek pasti ada. Saat tantangan datang, langkah kami adalah bagaimana menelaah masalah secara riil dan buat solusinya. Mungkin mudah terucap, namun mendapatkan solusi juga menjadi hal terpenting dalam membangun produk teknologi. Mendapatkan SDM berkualitas dan kapabilitas dalam mengeksekusi ide secara cepat juga poin tantangan tersendiri.

Bagaimana perspektif Anda dalam menghadapi layanan serupa yang lebih dulu eksis dan kompetitif?

Kami mencintai iklim kompetisi untuk bisa membangun lebih baik. Kalau ingin berbisnis tanpa mau berkompetisi rasanya seperti wrong mindset. Kami akan selalu berusaha mengalahkan pesaing dengan menjadi lebih cepat dan terjangkau. Kalau berkompetisi dengan pemain yang biasa saja, maka performa yang dihasilkan standar juga. Tapi bila berkompetisi dengan lawan kelas dunia dan market leader, tentu akan mendorong potensi lebih all out dan jauh lebih baik lagi.

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan majalah Women’s Obsession edisi September 2018

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here