Valentina Meiliyana Founder Valentina, Valen Relations │ Jatuh Bangun di Dunia Bisnis Sepatu

Menjalani bisnis di usia yang masih belia tentu bukan perkara mudah. Banyak tantangan muncul, mulai managemen waktu, modal, dan masih banyak lagi lainnya. Salah satu pebisnis muda, yakni Valentina Meiliyana berusaha membangun bisnis sepatu dan managemen artis.

Di usia 23 tahun, dia telah mengalami jatuh bangunnya membangun bisnis. Valentina tidak hanya menjadi namanya, tapi juga nama brand sepatu buatannya. Bakat bisnisnya di dunia ini tidak main-main, sepatu rancangannya pernah digunakan di Jakarta Fashion Week 2011.

Apa yang menginspirasi lahirnya Brand Valentina?

Awalnya saya berbisnis sejak umur 14 tahun. Saat itu saya menjual berbagai barang, salah satunya baju. Saya ambil foto dari luar dan menjadikannya sebagai contoh model kepada para pembeli. Jadi mereka ingin model seperti apa, baru saya buatkan. Untungnya lumayan, walaupun hanya puluhan ribu, namun untuk usia belasan tahun jumlah tersebut sangat berarti. Seiring berjalan waktu, saya juga menjadi reseller sepatu.

Saat itu berpikir sayang sekali jika saya hanya menjadi reseller, sementara banyak permintaan sepatu datang. Saat ada 11 orang pesan sepatu, saya berusaha untuk mencari pembuat sepatu di daerah Depok. Sempat ditolak awalnya, tapi dia berubah pikiran dan mau membuatkan sepatu.

Ternyata kualitasnya sangat memuaskan. Sebelas orang yang tadi memesan merasa senang dan mau order lagi. Dari situlah saya berniat untuk fokus membuat sepatu sendiri. Waktu itu tahun 2011, usia saya 16 tahun dan sudah keliling Tanah Abang untuk mencari bahan yang diinginkan. Saya tidak mau membuat sepatu dengan kualitas barang yang buruk.

Baca juga:

Dita Soedardjo │ Berproses Tanpa Lupa Lingkungan Sekitar

Veronica Frasisca Brand Executive Fine Food & Beverage Diamond Group │Kenalkan Olahan Fine Food

Pengalaman paling menarik saat mengelola bisnis ini?

Pengalaman paling menarik bagi saya justru yang sangat membuat sedih. Saat pada akhirnya bekerja sama dengan salah satu pabrik, ternyata dia tidak bisa mengelola keuangan dengan baik. Uang yang harusnya untuk sepatu saya malah digunakan yang lain dan selalu terjadi lagi. Sampai semua barang pesanan di-delay dan saya harus bertanggung jawab atas pesanan ratusan orang.

Saya mengalami kerugian dengan nilai tidak sedikit. Setelah itu saya memutuskan untuk membuat pabrik sendiri. Itu pun sempat bangkrut dengan kerugian sekitar Rp100 juta, karena pekerja sangat tidak memuaskan. Quality control-nya buruk, pengerjaannya juga sangat lama. Ketika itu usia saya baru menginjak18 tahun.

Indah Kurniasih │ Foto: Fikar Azmy

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan majalah cetak dan digital Women’s Obsession edisi Februari 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here