Arifiana Wulandari CEO Jahitan Bunda | Memantik Gairah Hidup Baru

BERBISNIS DARI PASSION, FOKUS PADA TUJUAN, DISIPLIN, DAN TIDAK MUDAH MENYERAH. UNTUK KUALITAS PRODUK JAHITAN BUNDA, SAYA MEMBERLAKUKAN STANDAR PK3, YAKNI PERHATIAN, KETELITIAN, KESABARAN, DAN KEINDAHAN.

 

Memulai dari hal yang disenangi atau passion adalah kunci Arifiana Wulandari merintis bisnis perencana jahitan. Tak sekadar menjadi landasan, passion juga yang membuat karakter Afi, sapaan akrabnya, tangguh menjalani tantangan demi tantangan.

Memasuki tahun keempatnya, Jahitan Bunda sudah banyak menerima pesanan jahitan dari sejumlah klien, seperti Maternel, Sikie Purnomo, Little Pony, dan sejumlah startup di industri mode. Pertumbuhan bisnisnya juga terbilang gemilang, yakni perkiraan pendapatan di nominal di atas empat digit.

Pencapaian-pencapaian tersebut memposisikan Jahitan Bunda terbilang rising star, dibandingkan jasa jahitan sejenisnya. Untuk itulah, Women’s Obsession ingin mengenal lebih dekat perjalanan Fia menyulap bisnis mainstream ini menjadi sumber pemasukan yang fantastis bersama lebih dari 20 orang karyawan di sampingnya.

 

Mengapa Anda memilih untuk menekuni terjun di bisnis jahitan?
Menjahit bisa dibilang hobi yang terinspirasi dari ibu saya. Jauh sebelum memulai bisnis ini, sebenarnya saya sudah berkarier selama lebih dari 20 tahun di bidang IT. Di akhir pekan, saya sering menjahit untuk keperluan suami dan anak-anak saja.

Iseng-iseng unggah karya jahitan ke media sosial, alhamdulillah menerima respon positif dari tetangga atau teman yang minta dijahitkan. Pada 2014, saat berada di titik jenuh pekerjaan, saya bertekad merintis bisnis Jahitan Bunda.

Jenis jahitan apa saja yang selama ini diterima Jahitan Bunda?
Kami melayani sesuai permintaan klien. Mulai dari baju pengantin, mass product, hingga pakaian seragam. Pengawasan secara detail dilakukan untuk menjaga kualitas dan memenuhi tenggat waktu. Tepat di Agustus 2017, saya mengakhiri masa kerja hampir setengah jumlah karyawan dengan etos kerja ‘virus’.

Saya tidak ingin mengorbankan SDM berkompeten demi segelintir orang yang belum terlalu serius menggeluti pekerjaan sebagai pilihan karier. Tersisa sekitar 10 orang dan alhamdulillah tak perlu waktu lama membentuk tim baru. Saat ini, kami dalam proses menyamakan irama untuk ‘berlari’ ke titik tujuan yang sama.

Tantangan yang dihadapi?
Dari sisi internal adalah SDM. Saya terus berkomitmen membentuk mereka sebagai SDM profesional dan disiplin. Ketika melihat tantangan dari eksternal salah satunya perspektif calon konsumen yang menyatakan Jahitan Bunda cukup mahal.

Saya memang tidak menerapkan price list, karena saya menjual jasa. Setiap klien pun memiliki permintaan dan kompleksitas tersendiri. Saya mengibaratkan ketika Anda membangun rumah dengan jasa tukang bangunan atau arsitek, tentu berbeda nominal jasanya. Alhamdulillah, kerja keras dan komitmen adalah bukti nyata yang tak bisa ditutupi. Foto: Fikar Azmy

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan majalah Women’s Obsession edisi September 2018

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here