Srikandi Pendidikan | Maya Miranda Ambarsari

Mendidik dengan Amanah

Mungkin sekarang mereka bebek hitam, one day mereka akan menjadi angsa. Jangan takut bercita-cita.

 

Berawal dari pesan terakhir sang ibunda untuk melanjutkan majelis taklim, Maya mengembangkan amanah mulia ini ke aspek yang lebih besar, yaitu kegiatan sosial untuk pendidikan anak-anak sekaligus pemberdayaan maupun perawatan kesehatan bagi wanita kurang mampu. Baginya, tugas ini adalah kesempatan emas yang sudah disiapkan oleh keluarga.

“Ketika membangun Rumah Belajar Miranda, saya sudah siap secara spiritual, moril, maupun finansial. Hingga saat ini, kami belum pernah meminta bantuan kepada siapapun. Saat kita melakukan kebaikan, janganlah menjadikan beban untuk orang lain. Bila ada yang ingin memberi, kami menerima dengan senang hati. Bila tidak ada, Rumah Belajar Miranda (RBM) tetap berjalan seperti biasa,” tegasnya.

Keteguhan srikandi kelahiran Palembang 1973 ini merupakan hasil kristalisasi arti hidup manusia sesungguhnya di dunia. Dia berusaha menyeimbangkan kehidupan di dunia dan akhirat nantinya. Tidak menutup-nutupi hasil yang diperoleh dari berbagai bisnisnya, namun tak segan pula mengalirkan hasil tersebut untuk menghidupkan asa bagi banyak orang.

 

_DSC1638_DSC1689

Meski usia RBM terhitung muda, baru memasuki tahun kedua, Maya menerima atensi positif dari masyarakat sekitar Kebayoran, lokasi RBM. Alhamdulillah, awalnya 50, bertambah menjadi 100, hingga membludak 600 orang.

Di RBM tidak mengejar kuantitas, melainkan kualitas. Kuantitas yang tidak diiringi dengan optimalisasi ilmu kepada anak-anak dan kedekatan dengan para ibu-ibu yang kurang beruntung, it comes gonna be wasted.

“Oleh karena itu, satu kelas hanya diisi 15 murid yang didampingi oleh dua guru. Kami menerapkan pola belajar dialog, bukan monolog. Tujuannya agar anak-anak bebas berekspresi, mendapatkan perhatian penuh, dan senang menjalani proses pendidikan ini.

Kami ingin mereka pulang dengan bahagia dari RBM dan merindu keesokan harinya. Dan, pola ini berhasil karena anak-anak selalu bersemangat untuk kembali. Jam pelajaran dimulai pukul 2 siang, mereka sudah stand by dari jam 1 siang. Mereka datang lebih awal untuk membaca atau menghabiskan waktu di media library,” tutur Owner Elliotti Residence (guest house) di Jakarta dan Puncak ini.

Saat ini, RBM dikelola oleh 17 pengajar dan pengelolaan manajemen secara profesional. RBM buka dari Senin hingga Sabtu. Hari minggu diperuntukkan untuk waktu liburan para pengajar dan pegurus RBM.

Kebanyakan dari pengajar adalah anak muda inspiratif yang tidak menyerah dengan keterbatasan finansialnya. Mereka sosok nyata yang didorong Maya untuk tampil dan menginspirasi.

Berbagai kegiatan RBM dilandaskan nilai agama mulai dari Taman Pendidikan Al Quran Ummul Choir, kursus matematika, kursus English Education Programme, kursus Calis (Baca Tulis), Taman Bacaan, dan Media Library.

Ibu dari Muhammad Khalifah ini membeli franchise untuk tiga studi, yaitu pelajaran matematika, bahasa Inggris, dan Calis. Dia ingin materi pelajaran yang diikuti oleh anak-anak sama dengan sekolah berstandar internasional.

Ke depannya, dia menginginkan RBM merambah ke panti jompo maupun layanan kesehatan gratis lainnya. I do my best. Man Jadda Wajada. One day, RBM bisa ada di semua provinsi. Bahkan, ada mantan staf RBM yang telah membuka rumah belajar sendiri di Bogor. Silvy Riana PutriFikar Azmy

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi Mei 2016

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here