Prita Kemal Gani: Membuka Toko Bunga dan Berjualan Frame Foto

Menjelang hari ulang tahun Prita di 23 November, kami pun penasaran tentang perayaan dan doa yang dipanjatkan olehnya. Dia pun menyampaikan tidak ada acara khusus hanya dengan keluarga tercinta.

Doa yang dihaturkannya terbilang sederhana, yaitu diberi kesehatan sekeluarga dan ketiga anaknya bahagia dan hidup mandiri. Dia pun menyelipkan doa lain, yaitu salah satu dari ketiga anaknya akan menjadi penerus apa yang telah dirintisnya.

Kemudian kami pun merambah ke persiapan masa-masa pensiunnya, lebih tepatnya romansa sejoli Prita dan Kemal yang selalu mesra di setiap pertemuan. Keduanya aktif berkarya di bidang masing-masing, tentu menarik menelisik gambaran pensiun keduanya. Perempuan yang gemar berolahraga jalan kaki di sekitar jalan Sudirman ini mengatakan akan membuka toko bunga dan berjualan frame foto.

“Saya senang merawat bunga. Jadi, di masa pensiun akan jualan bunga. Bukan cuma itu, saya juga senang menata rumah dan membeli peralatan makan unik dari berbagai tempat. Hobi saya itu juga bisa saya kembangkan nanti. Satu lagi, saya senang koleksi frame foto. Semua frame yang ada di LSPR-Jakarta itu dari saya. Kesenangan suami saya juga tidak jauh berbeda. Beliau senang fotografi dan berkebun. Kami berdua sudah memiliki bayangannya untuk nanti, yaitu mengerjakan apa yang kami senangi,” kisahnya.

 

MEYAKINI INTUISI & PENGALAMAN ORANG TUA
Ketika perbincangan mengarah ke sosok inspiratif bagi Prita, tergambar raut wajah dan pancaran mata mengenang memori yang berkesan di setiap lembar kehidupan. Mendiang ibunda tercinta atau yang disapa mami merupakan salah satu inspiratornya, termasuk pendorong utama berdirinya LSPR-Jakarta.

Sebagai anak kedua dari lima bersaudara asal Minang, dia dibesarkan dalam nilai-nilai matriakat. Prita remaja mengerjakan semua tugas yang diberikan oleh maminya tanpa mengeluh. Mulai dari memasak, mencuci, belanja ke pasar, hingga memompa air. Ketika beranjak dewasa, dia merasakan hikmah didikan tersebut bahwa perempuan itu harus kuat secara fisik dan mental.

“Saat saya kuliah di Filipina, teman saya sakit. Saya sempat membantu mengangkat beras yang dibelinya,” kenangnya diikuti derai tawa kecil.

Kemudian dia mengenang momen-momen awal menyikapi anugerah yang diberikan Allah lewat putri ketiganya yang autis non-verbal, Raysha Dinar Kemal Gani. Dia beserta suami tercinta, Kemal Gani berjibaku membawanya ke sejumlah ahli tumbuh kembang anak, neurolog, spesialis saraf baik di Jakarta, Singapura, Australia hingga negara lainnya untuk mendapatkan hasil yang menyatakan anaknya tidak autis.

Di saat itu pula, maminya menyatakan untuk intropeksi. “Jujur saja, sebelumnya saya tidak pernah tersinggung ketika diingatkan oleh mami. Tetapi kali itu, saya sempat jengkel. Mengapa mami berkata seperti itu dan mulai timbul pikiran negatif di kepala saya,” tukasnya.

Meski di tengah perasaan jengkel, Prita tetap instropeksi yang kemudian menghasilkan keputusan sementara saat itu, yaitu memfokuskan diri pada perawatan Raysha dan lepas dari LSPR-Jakarta. Maminya pun mendukung sembari mengingatkan, bila apa yang kita kerjakan bermanfaat kepada banyak orang, maka Allah juga akan memberikan lebih banyak berkah kepada keluargamu, termasuk Raysha.

“Jawaban orang tua mungkin is not the best, tapi one of solution,” pesan salah satu pendiri ASEAN Public Relations Network (APRN) ini dengan nada serius.

 

Untuk membaca artikel selengkapnya, dapatkan Women’s Obsession edisi November 2018

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here