Jadikan Hobi Sebagai Profesi

Ayu Dyah Andari, Fasion Desainer - Owner Ayu Dyah Andari

Memiliki passion di bidang desain busana muslimah, Ayu Dyah Andari memilih mengikuti kata hati dan keluar dari pekerjaannya di sebuah perusahaan multinasional. Dikenal sebagai perempuan yang ramah dan tidak pelit informasi, Ayu tidak pernah menganggap desainer lain sebagai saingan.

Dia percaya bahwa jika ciri khas dan inovasi terus dilakukan, para pencinta desain buatannya tidak akan lari. Jika sebelumnya memiliki mimpi untuk bisa membuka banyak toko, kini perempuan yang akrab disapa Ayu ini tengah berusaha mengoptimalkan layanan melalui website.

 

Apa yang menginspirasi lahirnya Ayu Dyah Andari?

 

Dari kecil saya tumbuh dengan ibu yang hobi membuat baju-baju cantik seperti gaun. Dia desainer pada masa itu, tapi aksesnya tidak semudah sekarang. Jadi hanya dijual di kalangan terdekat seperti teman teman sekitar. Bahkan dia yang jahit sendiri saat itu. Saya jadi selalu pakai baju cantik di acara spesial, seperti baju princess. Saya pun tumbuh dengan interior bernuansa Eropa kuno, lekat dengan renda-renda. Jadi walaupun menguasai matematika dan kuliahnya di enginering, tetap saja passion saya tidak di sana. Saya sering membuat baju kondangan dan memasang payet baju sendiri.

Sesuatu yang dibuat dengan hati memang bisa ditangkap orang lain. Hingga satu ketika saya yang hobi jualan memanfaatkan kesempatan menerima permintaan membuat baju, sampai kemudian berkembang. Saya akhirnya berpikir kalau fashion bisa menjadi pemasukan, sehingga tidak ada lagi kata mencari ‘kerja’.

Waktu yang dihabiskan saat berkarya pun jadi tidak terasa. Awalnya, label Ayu Dyah Andari kuat di baju wedding dan gaun pesta. Ini secara organik orang-orang pesan ke saya. Lalu, saya sempat endorse baju pengantin selebgram saat itu, Siti Juwariya. Sampai pada akhirnya saya membuat baju pesta siap pakai. Sampai sekarang itu menjadi ciri khas kami. Tapi, Ayu Dyah Andari juga menyediakan ready to wear hingga scarf juga.

 

Tantangan dalam membuat brand fashion busana muslimah?

Saya cenderung sangat detail, tidak bisa membuat baju simpel. Jadi, kadang karyawan yang menahan, bukan jadinya tidak cantik, tapi berpengaruh ke harga. Saya tidak mau kalau terlalu pasaran sehingga tidak spesial lagi. Biasanya dalam hitungan detik baju yang saya buat dengan bordir handmade dengan tiga warna nanti di pasaran bisa jadi 10 warna dengan harga jual hanya 10% dari pada harga kami.

Jadi dengan baju yang sudah dibuat sedetail itu pun sangat mudah bagi pihak-pihak luar meniru. Tapi itu tidak bisa dihindari. Akhirnya bagaimana caranya membuat baju yang semakin inovatif dan bagus. Jadi, sekarang kalau tidak ditiru malah jadi merasa apa bajunya jelek, ya. Jadi tantangannya adalah bagaimana saya terus berinovasi membuat karya bagus yang tidak membosankan dan tetap kuat dengan ciri khas Ayu Dyah Andari.

 

Pandangan dalam menghadapi kompetitor serupa?

 

Saya terus terang tidak menganggap saingan. Bukan terlalu percaya diri, tetapi saya memang tipe yang ‘ayo kita maju bareng bareng’. Hal tersimpel seperti kenal supplier murah itu tidak disimpan sendiri. Teman teman supplier jadi bertambah order-nya, dan bisnisnya semakin bagus. Insya Allah kalau kita mempermudah bisnis orang, Allah juga akan mempermudah bisnis kita. Hal penting adalah menjaga ciri khas, konsisten bikin produk, insya Allah orang akan tetap kenal.

 

Bisa diceritakan tentang pembuatan baju dari kain SISA?

 

Namanya membuat bisnis dari nol, saya itu paling anti buang bahan. Saya selalu mengumpulkan sisa kain perca di workshop. ‘Bagi kalian sampah, tapi dengan sentuhan sedikit seni ini jadi something’. Bahkan banyak kain yang saya buat sendiri desain dan coraknya, jadi kalau terbuang rasanya sayang dengan kerja keras yang dilakukan beberapa bulan. Nah, yang dikumpulkan itu kalau tidak diapa-apakan memang jadi sampah. Padahal bisa dibuat menjadi bunga mawar, dirangkai, apa saja pokoknya jadi aplikasi yang menambah nilai jual.

 

Indah | Foto: Dok. Pribadi