Menurutnya, perempuan bukan hanya berperan dalam keluarga, tetapi juga pilar penting dalam masyarakat. Dengan semangat belajar dan berkarya, perempuan bisa membawa perubahan besar.
Perempuan memiliki ketangguhan yang luar biasa, terutama dalam menghadapi perubahan zaman. Hal itu diakui Dewi Tenty Septi Artiany, pemerhati koperasi UMKM dan notariat, yang percaya bahwa perempuan bisa berdaya di mana saja, termasuk dari rumah dengan memanfaatkan teknologi. Baginya, dunia digital membuka peluang besar bagi perempuan untuk berkarya, berbisnis, dan memberi manfaat bagi sesama.
“Inspirasi saya adalah pemimpin hebat seperti Cut Nyak Dhien. Dari beliau saya belajar bahwa perempuan adalah karang dalam rumah tangga dan bisa menjadi penopang kesuksesan di sekelilingnya,” ujar perempuan yang biasa dipanggil Dete. Di keluarga, seorang ibu mengasuh anak bukan sekadar tanggung jawab, tetapi perjalanan emosional yang memperkaya kehidupan. “Menjadi ibu itu seperti roller coaster. Penuh tantangan, tapi juga penuh harapan dan kebahagiaan,” lanjutnya.
Membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan memang tidak mudah, tetapi baginya yang terpenting adalah kualitas kebersamaan. Rutinitas sarapan bersama setiap pagi menjadi momen untuk berbagi cerita sebelum semua kembali beraktivitas. Akhir pekan pun dimanfaatkan untuk mempererat hubungan dalam keluarga. Tantangan terbesar seorang ibu, menurutnya, adalah membuat anak-anak memahami bahwa keberadaan ibu tidak hanya dibutuhkan oleh mereka, tetapi juga oleh orang lain di lingkungan kerja atau komunitas. Awalnya, anak mungkin merasa bingung, namun dengan memberikan contoh hasil kerja sang ibu, anak-anak justru menjadi semangat bahkan ingin terlibat dalam kegiatan tersebut. Dete mengungkapkan hal tersebut dapat mengasah kemampuan mereka dalam bersosialisasi dan menumbuhkan rasa tanggung jawab untuk bermanfaat bagi sesama.
Sebagai sosok yang aktif di dunia koperasi dan UMKM, Dete melihat tantangan besar dalam cara berpikir masyarakat, termasuk dalam memperoleh informasi. Pendiri komunitas UMKM Alumni dan Perkumpulan Bumi Alumni (PBA) ini mengingatkan pentingnya membaca buku daripada sekadar mengandalkan media sosial yang serba instan. Hal ini berkaitan juga dengan salah satu tantangan terbesar dalam merek kolektif, yakni pola pikir masyarakat yang masih cenderung individualistis.
Dalam dunia usaha, Dete melihat bahwa UMKM bisa berkembang lebih pesat jika mampu berkolaborasi. Banyak pelaku usaha kecil ragu untuk bergabung karena khawatir kehilangan kendali atas produk mereka. Dia pun mendorong konsep merek kolektif, yakni para pelaku usaha kecil bersatu membangun brand bersama. “Di negara lain, koperasi dan merek kolektif mendapat dukungan besar dari pemerintah. Inilah yang perlu kita dorong agar UMKM kita bisa lebih kuat,” jelasnya.
Salah satu contoh yang disebutkannya adalah keterlibatan UMKM dalam program makan siang gratis untuk sekolah. Kolaborasi antar-UMKM melalui wadah seperti paguyuban, kelompok usaha, atau koperasi diperlukan agar mampu memenuhi kebutuhan program secara kolektif. Penyediaan bahan-bahan seperti beras, sayur, dan telur dapat dikelola bersama oleh koperasi atau kelompok UMKM, begitu pula dengan pengerjaan katering yang tidak harus berbadan hukum PT, tetapi bisa dijalankan oleh koperasi atau kelompok usaha bersama. Dalam pandangannya, ke depan inisiatif ini idealnya dapat dinaungi oleh merek kolektif agar lebih terorganisir. Namun, dia juga menekankan perlunya dukungan dari pemerintah agar gerakan merek kolektif ini dapat berkembang dan berjalan dengan optimal.
Program ini harus berbasis kerja sama dan bukan beban tambahan bagi usaha kecil. Dete juga terus mendorong regulasi yang lebih jelas untuk memastikan UMKM mendapat dukungan yang layak. “Masa depan UMKM ada di tangan mereka sendiri. Tapi untuk berkembang, mereka harus berani melangkah keluar dari pola lama dan mulai membangun kekuatan bersama. Tidak ada usaha kecil yang benar-benar kecil kalau dikelola dengan strategi yang tepat. Tantangannya adalah bagaimana kita bisa bergerak bersama, bukan hanya sekadar bertahan,” katanya.
Naskah: Angie Diyya | Foto: Fikar Azmy
Baca selengkapnya di e-magazine Women's Obsession edisi 123