Orang tua mulai sibuk mencari sekolah yang sesuai untuk anak menjelang akhir tahun. Namun, di tengah banyaknya pilihan sekolah, ada satu pertanyaan yang tak kalah penting, apakah anak sudah siap memasuki jenjang sekolah? Menurut Diah Cahyaningrum, S.Psi., M.Psi., Psikolog dari Atelier of Minds, kesiapan sekolah tidak hanya soal usia atau calistung, tetapi mencakup perkembangan kognitif, fisik, sosial, dan emosional anak.
“Kesiapan anak untuk bersekolah tidak hanya ditentukan oleh usia. Setiap tahapan memiliki tugas perkembangan masing-masing, dan ketika anak dipaksa sebelum waktunya, hal ini dapat berdampak pada kesiapan mereka saat bersekolah,” jelas Diah.
Diah menambahkan, kesiapan transisi sekolah merupakan tanggung jawab anak, keluarga, dan sekolah. Mengacu pada Ecological Model of School Readiness dari Urie Bronfenbrenner, kesiapan anak dipengaruhi oleh karakteristik anak, pola asuh keluarga, dan lingkungan sekolah. “Kesiapan sekolah bukan hanya tentang seberapa cepat anak menguasai calistung, tetapi terkait fondasi perkembangan yang membantu anak beradaptasi dan belajar secara berkesinambungan,” tegasnya.

8 Fondasi Penting untuk Kesiapan Sekolah
Menurut Diah, ada delapan fondasi perkembangan yang penting dipersiapkan sebelum anak memasuki dunia sekolah:
Kemandirian: mampu mengelola tugas sehari-hari, membuat pilihan, mengikuti rutinitas, dan mencoba hal baru sesuai usianya.
Keterampilan Sosial: mampu berinteraksi, berbagi, bekerja sama, mendengarkan, menunjukkan empati, dan menyelesaikan konflik sederhana.
Pengelolaan Perilaku: mampu mengikuti instruksi, menjaga fokus, menunggu giliran, dan menghadapi rasa frustrasi.
Kemampuan Bahasa: mampu memahami instruksi serta menyampaikan kebutuhan, pikiran, dan perasaan.
Regulasi Diri: mampu mengelola emosi, impuls, dan kondisi tubuh agar siap mengikuti aktivitas belajar.
Fungsi Eksekutif: mencakup kemampuan mengingat informasi, mengendalikan diri, berpikir fleksibel, merencanakan, dan menyelesaikan tugas.
Sensorimotor dan Motorik Halus: mendukung keseimbangan, kesadaran tubuh, koordinasi, serta kemampuan melakukan aktivitas seperti menulis, menggunting, dan mengancingkan baju.
Persepsi Visual: membantu anak mengenali bentuk, mengolah informasi visual, menyalin tulisan, dan memahami posisi serta ruang.
Tidak Harus Selalu Duduk Belajar
Untuk membangun fondasi tersebut, orang tua juga tidak perlu memberikan stimulasi yang kaku atau terasa seperti belajar formal. Dwi Ayu Nur Komariyah, M.Sc.OT, Occupational Therapist Atelier of Minds, mengatakan bahwa aktivitas sehari hari dan bermain dapat menjadi cara yang efektif untuk melatih berbagai kemampuan tersebut.
“Pendampingan praktis di rumah dapat dilakukan melalui pendekatan bermain (play based learning). Misalnya, mengajak anak bermain peran (role play), bermain board game untuk belajar mengikuti aturan dan menunggu giliran, serta bermain puzzle untuk melatih kemampuan memecahkan masalah dan kelenturan berpikir.”
Mendukung Anak Sebelum Masuk SD
Melihat pentingnya kesiapan sekolah yang menyeluruh, Atelier of Minds menghadirkan School Readiness Program, yang dirancang untuk membantu anak membangun fondasi sebelum memasuki jenjang SD.
Program ini mencakup penguatan akademik dan fungsi eksekutif, kemandirian, kemampuan sosial dan emosional, rutinitas harian, serta kemampuan beradaptasi dengan lingkungan belajar. Program diawali dengan baseline assessment untuk memahami kebutuhan anak, dilanjutkan dengan rencana pembelajaran individual dan pemantauan perkembangan secara berkala. Surat rekomendasi psikolog juga dapat diberikan apabila diperlukan.
Sebagai student care dan enrichment center inklusif, Atelier of Minds menggabungkan perspektif psikologi, occupational therapist, pendidikan, dan experiential learning untuk mendukung perkembangan anak secara menyeluruh.
Pada akhirnya, kesiapan sekolah bukan tentang membuat anak belajar lebih cepat, tetapi memastikan anak memiliki fondasi yang cukup untuk memasuki sekolah dengan percaya diri, mandiri, dan siap belajar. (Foto: Atelier of Minds)





