Seiring dengan berkembangnya dunia fashion ke arah yang lebih inklusif, dunia modeling pun perlahan ikut berubah melampaui standar fisik yang selama ini lekat dengan profesi model, yaitu inggi badan, usia, hingga warna kulit. Kini, karakter dari model dapat hadir lebih beragam di runway, seiring dengan semakin luasnya kebutuhan industri fashion terhadap representasi dan karakter yang berbeda.
Tak hanya itu, kehadiran model juga tidak lagi sekadar diposisikan sebagai peraga busana, ada karakter, ekspresi, gestur, hingga identitas yang dibawa seorang model dapat menjadi bagian dari cara sebuah brand menyampaikan cerita koleksinya.

Gambaran tersebut terlihat dalam Senayan City Fashion Nation 20th Edition yang berlangsung pada 18–27 September 2026 di Senayan City, Jakarta. Mengusung tema The Icon Edit sekaligus menjadi bagian dari perayaan 20 tahun Senayan City, ajang ini turut menjadi panggung bagi talenta modeling Indonesia dari berbagai usia dan daerah.
Melalui kolaborasi dengan kelasmodelling.id, sebanyak 64 best model dari 32 cabang di Indonesia tampil membawakan koleksi sejumlah brand lokal.
Modelling Tak Lagi Sekadar Standar Fisik
Bagi kelasmodelling.id, profesi model tidak bisa diasosiakan dengan fisik tertentu, adanya perkembangan di industri fashion membuat cara melihat talenta modeling semakin beragam. Pendekatan tersebut terlihat dalam proses pemilihan Best Student kelasmodelling.id. Tinggi badan dan penampilan fisik bukan menjadi satu-satunya pertimbangan. Kepercayaan diri, kemampuan mengenali kelebihan dan kekurangan diri, komunikasi, hingga etika turut menjadi bagian dari pembinaan.
Owner kelasmodelling.id, Dr. M. Fattah Riphat, S.H., M.H., mengatakan pendidikan modeling yang dilakukan pihaknya tidak hanya berfokus pada teknik berjalan di runway atau berpose di depan kamera.
“Yang jauh lebih penting adalah pembentukan karakter, kemampuan berkomunikasi, cara menghadapi orang, serta bagaimana membawa diri dan meningkatkan kepercayaan diri,” ujarnya.

Pendekatan tersebut juga terlihat dari rentang usia peserta yang dibina. Kelas modeling ini memiliki murid mulai dari anak-anak berusia 5–6 tahun hingga dewasa berusia 50 tahun. Keragaman usia tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan modeling dapat dikembangkan melalui pembelajaran dan pengalaman, tidak semata-mata bergantung pada karakter fisik.
Pendiri kelasmodelling.id, Poppy Bunga, mengatakan pihaknya berupaya menggali keunikan setiap murid tanpa mengotakkan mereka pada standar fisik tertentu.
“Kami fokus menggali talenta dan keunikan yang dimiliki setiap murid, bukan mengotakkan mereka pada standar fisik tertentu seperti harus tinggi atau berkulit putih,” kata Poppy.
Menurutnya, sebagian murid justru datang dengan persoalan kurang percaya diri, sehingga pembelajaran yang diberikan mencakup berbagai aspek, mulai dari modeling, komunikasi, hingga teknik makeup. Lewat berbagai pembelajaran tersebut, inklusivitas dalam modeling dapat dipahami lebih luas. Bukan hanya mengenai ukuran tubuh atau usia, tetapi juga tentang memberikan ruang bagi karakter dan keunikan individu untuk berkembang.
Wajah Indonesia Jadi Bagian Identitas Fashion Lokal
Keberagaman model juga berkaitan dengan cara brand menentukan representasi visual dari koleksinya. Salah satu contohnya terlihat dalam kolaborasi kelasmodelling.id dengan Jenna & Kaia di Fashion Nation 20th Edition. Brand tersebut memperkenalkan lini activewear terbarunya, Jenna Active, melalui koleksi Lumea.
Pendiri Jenna & Kaia, Lira Krisnalisa, mengatakan pihaknya sengaja memilih model dengan karakter wajah Indonesia yang autentik, sedikit boyish, dan kulit tanning. Pemilihan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan identitas Indonesia dalam visual brand. "Brand kami ini kan dari Indonesia, otomatis tampilan wajah yang ingin kita tampilin adalah keberagaman dari Indonesia. Makanya, brand ini juga jarang sekali pakai model luar negeri, karena biar jadi statement juga," jelas Lira.

Tampil kedua kalinya di Fashion Nation, 64 Best Student kelasmodelling.id dari 32 cabang di seluruh Indonesia, mulai dari Medan hingga Makassar, tampil di runway. Selain koleksi dari Jenna & Kaia, sejumlah brand lokal pun ikut berkolaborasi, seperti DUST, Haidee & Orlin, Nonaetal, Soleram, DW Exclusive, dan Wou Batik.
Bagi Fattah, kolaborasi dengan brand lokal tersebut menjadi kesempatan bagi para murid untuk memperlihatkan kemampuan mereka secara langsung kepada desainer maupun agensi. Di titik ini, fashion show tidak hanya menjadi tempat bertemunya model dan busana, tetapi juga dapat menjadi bagian dari proses regenerasi talenta di industri fashion.(Foto: Dok. Kelasmodelling.id)





