Upaya menghadirkan fashion yang lebih berkelanjutan menjadi salah satu sorotan Saul Studio melalui koleksi SHE Spring/Summer 2027 di ajang Jakarta Fashion Week pada 26 Oktober 2026 di Pondok Indah Mall 3, Jakarta. Menghadirkan 13 look, koleksi ini tidak hanya merayakan perjalanan dan kekuatan perempuan, tetapi juga memperkenalkan eksplorasi material alternatif berupa kain dari serat daun nanas yang didaur ulang. Inisiatif ini menjadi langkah Saul Studio dalam memanfaatkan potensi sumber daya lokal sekaligus mengeksplorasi kemungkinan penerapan material alternatif dalam busana kontemporer.
Serat Daun Nanas, Mengubah Potensi Limbah Menjadi Material Fashion
Founder Saul Studio, Deborah Mettu mengungkapkan bahwa pengembangan material tersebut berangkat dari keinginannya mencari bahan yang dapat dimanfaatkan secara optimal, memiliki fungsi yang sesuai untuk busana, dan membuka peluang kerja sama dengan pengrajin lokal. Sebelum memilih serat daun nanas, ia sempat mengeksplorasi rotan. Namun, karakter rotan yang terlalu kaku dan keterbatasannya dalam hal pencucian membuat material tersebut sulit diterapkan pada desain yang diinginkan. Pencarian kemudian berlanjut hingga menemukan potensi serat daun nanas sebagai alternatif.
“Daun nanas dipilih karena merupakan bagian tanaman yang berpotensi menjadi limbah setelah pemanfaatan buahnya. Melalui pengolahan menjadi serat, benang, hingga kain, material tersebut mendapatkan kemungkinan penggunaan baru dalam industri fashion. Indonesia sebagai negara tropis memiliki potensi sumber daya nanas yang dapat dieksplorasi lebih lanjut. Pemanfaatan ini sekaligus membuka peluang untuk mengembangkan material berbasis sumber daya lokal, meskipun penerapannya masih membutuhkan penelitian dan pengembangan,” ungkap Deborah.

Dalam koleksi SHE, kain serat daun nanas digunakan dengan komposisi sekitar 20 persen pada bagian tertentu busana. Penggunaannya belum dapat diterapkan secara menyeluruh, karena karakter serat yang sangat kaku memengaruhi kenyamanan dan fleksibilitas desain. Oleh karena itu, Saul Studio mengombinasikannya dengan material lain, agar tetap sesuai dengan karakter busana siap pakai. Eksplorasi ini memperlihatkan bahwa penggunaan material alternatif membutuhkan penyesuaian antara potensi keberlanjutan, fungsi, estetika, dan kebutuhan konsumen.
Riset Setahun dan Kolaborasi dengan Perajin Lokal
Proses riset dan pengembangan material berlangsung sekitar satu tahun sebelum koleksi dipresentasikan. Dalam proses tersebut, Saul Studio mempelajari karakter kain, kemungkinan penerapannya pada pola busana, serta teknik perawatan yang tepat. Deborah bekerja sama dengan perajin di Garut untuk memperoleh material tersebut. Kolaborasi ini menjadi bagian penting dari pendekatannya, yakni tidak hanya mengeksplorasi bahan baru, tetapi juga membuka ruang bagi keterlibatan pelaku kerajinan lokal dalam pengembangan produk fashion.
Meski demikian, ia menyadari bahwa serat daun nanas masih memiliki sejumlah tantangan. “Selain teksturnya yang kaku, proses pengembangannya relatif panjang dan membutuhkan biaya lebih tinggi dibandingkan material yang lebih umum digunakan. Karakter tersebut juga membuat penggunaannya perlu dibatasi agar busana tetap nyaman dikenakan. Karena itu, Saul Studio belum menjadikan material ini sebagai identitas permanen brand. Riset lanjutan masih diperlukan untuk meningkatkan kualitas, fleksibilitas, dan kemungkinan penerapannya dalam koleksi mendatang,” lanjutnya.
Untuk menjaga fungsi dan karakter busana, koleksi SHE turut menggunakan katun dan semi-wool pada desain tertentu. Perawatan kain serat daun nanas juga membutuhkan perhatian khusus, dengan anjuran mencuci menggunakan tangan atau melakukan dry cleaning yang tepat. Paparan panas atau proses pencucian yang tidak sesuai dapat menyebabkan kain menyusut atau rusak. Informasi perawatan menjadi bagian penting dalam penggunaan material alternatif, karena usia pakai produk juga dipengaruhi oleh cara konsumen merawatnya.

SHE, Merayakan Perempuan melalui Desain dan Keberlanjutan
Eksplorasi keberlanjutan berjalan beriringan dengan identitas desain Saul Studio yang mengedepankan siluet asimetris, feminin, relaxed, dan arsitektural. Melalui koleksi SHE, Deborah menerjemahkan perjalanan perempuan yang tidak selalu berjalan lurus ke dalam permainan garis dan konstruksi yang tidak konvensional. Pilihan warna ivory merepresentasikan ketidaksempurnaan, sedangkan abu-abu menggambarkan ketidakpastian dalam kehidupan. Kehadiran aksen oranye memberikan sentuhan optimistis di tengah cerita tentang perjuangan dan proses bertumbuh.
Koleksi ini juga menghadirkan empat muse, yaitu Livia Lukman, Valen Amijo, Melaney Ricardo, dan Indi Barend, yang merepresentasikan karakter perempuan dengan kepribadian dan perjalanan hidup berbeda. Melalui 13 look, Saul Studio ingin menegaskan bahwa perempuan tidak harus memenuhi satu standar tertentu untuk menjadi utuh. Pesan tersebut diterjemahkan melalui busana yang dirancang agar dapat dikenakan dalam berbagai kesempatan, mulai dari aktivitas sehari-hari hingga acara khusus.
Komitmen terhadap kualitas turut menjadi bagian dari pendekatan bisnis Saul Studio yang telah berjalan lebih dari 13 tahun. Proses produksi dilakukan secara in-house, mulai dari pengembangan desain hingga pengemasan, untuk menjaga ketelitian konstruksi dan kualitas jahitan. Deborah juga berupaya membina penjahit lokal agar mampu memenuhi standar pengerjaan yang dibutuhkan. Baginya, pengembangan produk fashion seharusnya berjalan bersama penghargaan terhadap keterampilan tenaga kerja. Saul Studio juga mempertahankan identitas mereknya dalam kerja sama dengan buyer internasional, termasuk butik independen di Kuwait dan Los Angeles. (ES |Foto: Dok. JFW 2027)





