Snazy Boom Jajanan Kekunoan Tampil Kekinian

Ryan Angkawijaya Founder Snazzy Boom

Rambut nenek, arumanis, hingga arbanat adalah sederet nama yang diberikan masyarakat untuk camilan manis warna-warni yang eksis di Indonesia sejak puluhan tahun lalu. Sayangnya, dalam waktu belakangan ini, kehadiran jajanan kekinian tampak menggeser camilan masa kecil yang satu ini.

 

Hal tersebutlah yang kemudian menjadi alasan seorang Ryan Angkawijaya membawanya dengan kemasan menarik ke tengah-tengah masyarakat. Pria yang hobi membaca ini, telah merasakan jatuh bangun di dunia bisnis, meskipun di usia yang masih muda. Berlabel Snazzy Boom, dia hanya berhasil menjual lima pieces selama satu minggu di awal mula merintis bisnis ini. Meskipun demikian, dirinya tetap yakin bahwa bisnisnya akan berkembang.

 

“Tugas manusia di dunia itu ikhtiar sebenarnya, sukses adalah bonus,” ujarnya pada Women’s Obsession dalam wawancara berterus terang.

 

Apa yang menginspirasi lahirnya Snazzy Boom?

 

Awalnya saya juga tidak mengira akan berbisnis kuliner, karena tidak pengalaman di bidang ini. Semua berawal ketika bisnis konveksi saya bangkrut, akibat ditipu orang. Akhirnya ada uang Rp3 juta dari sisa ditipu itu, bingung mau bisnis apa lagi. Hingga saya datang ke pernikahan teman dan salah satunya bertanya di mana bisa menemukan penjual arumanis. Saya telusuri lebih lanjut ternyata tukang arumanis atau rambut nenek ini sudah mulai hilang. Kemudian saya validasi di lapangan ternyata banyak yang mulai berubah jadi jualan yang lebih kekinian.

 

Saya juga berbincang dengan pedagang rambut nenek yang sudah pengalaman puluhan tahun, ternyata anak mereka banyak yang tidak mau meneruskan jejak orangtuanya, karena berpikir sudah ketinggalan zaman. Bagi saya bisnis itu tentang menyelesaikan masalah. Di sisi lain saya juga tertarik dengan problem yang ada di dunia arumanis ini. Akhirnya pada 11 Januari 2017 lahirlah Snazzy Boom. Setahun kemudian saya mendapat penghargaan sebagai wirausaha berprestasi tingkat nasional dari Kementerian Pemuda dan Olahraga.

 

Apa keunikan Snazzy Boom dengan produk serupa lainnya?

 

Salah satunya adalah konsep modern yang ditawarkan. Di sisi lain, saya mendapat informasi dari dinas kesehatan setempat, bahwa banyak penjual arumanis tradisional yang menggunakan pewarna pakaian. Itu menjadi problem yang harus saya selesaikan. Snazzy Boom hadir dengan menyajikan produk yang layak konsumsi. Bagaimana cara kita menunjukkan itu? Dengan menampilkan perizinan yang bisa dipertanggungjawabkan, yaitu perizinan dari dinas kesehatan dan sertifikat halal.

 

Saat ini, kami punya delapan varian rasa, ada original, frambozen, bublegum, cokelat, melon, durian, mangga, dan anggur. Saya masih ingin mengembangkan rasa lain. Selain itu, kami telah menemukan formula untuk menghadirkan arumanis tradisional dengan kadar glikemik rendah, sehingga Snazzy Boom bisa dinikmati oleh para penderita diabetes. Ini sudah melalui beberapa penelitian produk, sempat gagal, tapi akhirnya berhasil ditemukan. Semoga ini bisa jadi keunikan lain dari Snazzy Boom. Bisa jadi ini pertama kali pula terjadi di dunia arumanis tradisional. As soon as possible bulan depan sudah rilis.

 

Pandangan Anda dalam menghadapi pesaing dengan produk serupa?

 

Bagi saya ini bukan zaman berkompetisi, tapi berkolaborasi. Apalagi kita sama-sama pebisnis UMKM harusnya bisa berkolaborasi. Sebenarnya secara kompetitif saingan kami adalah jajanan modern yang kekinian, cuma saya pribadi tidak melihat ke sana. Fokus saya adalah bagaimana melayani konsumen. Benar-benar sudut pandang dari sisi konsumen. Kalau konsumen akhirnya memilih ke kompetitor, ya, silakan, tapi setidaknya saya dan tim fokus menghadirkan produk yang baik dan bagaimana kita berpegang pada prinsip bisnis. Setiap minggu ada weekly meeting untuk membahas apa yang bisa dikembangkan.

 

Tantangan yang dihadapi dalam membesarkan bisnis ini?

 

Tantangan di awal adalah saat mengenalkan produk ke masyarakat. Tiga bulan pertama saya harus menjual sendiri di lapangan sampai ditangkap pihak security. Berpanas-panasan demi mencari target pasar yang pas. Awalnya target anak-anak generasi Z, anak sekolah. Saya titipkan produk ini di kantin sekolah, door to door, dan belum ada strategi online seperti sekarang. Bahkan seminggu berhasil menjual lima itu sudah alhamdulillah. Akhirnya, saya berpikir bahwa memang salah target market. Saya melihat dari sudut pandang positif bahwa ada hikmahnya di balik itu semua. Jadi, dari tiga bulan pertama saya ambil hikmahnya saja. Begitu saya mengubah segmentasi pasar menjadi perempuan umur 18 hingga 34 tahun yang lebih familiar dengan camilan ini, akhirnya hadirlah Snazy Boom, jajanan kuno tampil kekinian. Ternyata mereka bisa menerima dan seminggu bisa terjual hingga ribuan pieces.

 

 

Indah K | Foto: Dok. Pribadi