Rachel Nathani: Solution Oriented Thinking

Founder Dew It Skincare

 

Menuruni darah pebisnis dari kedua orangtuanya, Rachel Nathani kini menjadi salah seorang entrepreneur sukses yang telah mendirikan berbagai usaha di beragam bidang. Jeli membaca peluang menjadi senjatanya dalam mengembangkan bisnis. Sebut saja usaha pertamanya dengan Label Ideas & Co, sebuah agensi digital marketing dan branding yang diluncurkan pada 2013.

 

“Saat bekerja di  Bates CHI & Partners, saya melihat rata-rata agensi besar kurang terintegrasi. Mereka umumnya tidak punya departemen marketing dan branding digital sendiri. Ceruk inilah yang saya manfaatkan, terutama dengan banyaknya perusahaan yang menyewa tenaga outsource untuk pengerjaan tersebut,” tuturnya tentang bisnis yang dirintisnya pada usia 22 tahun. Setelah menemukan investor, perusahaan yang awalnya hanya terdiri dari dua orang ini, berkembang menjadi lebih dari 30 orang. Dan masih terus bertahan hingga saat ini dengan mengikuti tren dunia digital.

 

Sama seperti anggota keluarganya yang lain, Rachel termasuk orang yang senang menyibukkan diri. Jadi, tak heran ketika dia mencoba bidang baru, seperti bisnis restoran, walaupun dia mengakui tidak terlibat secara langsung di dalamnya. Dia menggunakan uang yang didapatkannya dari bisnis pertamanya untuk menjadi investor di bidang kuliner tersebut.

 

Tidak berhenti di situ, ibu dua anak ini masih terus ingin merambah ke bisnis lain. Uniknya, bisnis yang ditekuninya saat ini justru tercetus akibat masalah yang dialami selama pandemi. Sibuk mengurus dua anak, Rachel merasa tidak punya banyak waktu untuk melakukan perawatan diri, terutama skincare. Setelah berusaha mencari ke sana-kemari, bahkan hingga ke luar negeri, dia tidak menemukan produk yang memang simpel, mudah dipakai, dan tidak butuh waktu lama penggunaannya. Mengusung tema hand-free, dia akhirnya meluncurkan produk pertamanya tahun lalu dengan label Dew It Skin.

 

 

Temukan Solusi Atasi Masalah

Tidak mempunyai banyak pengalaman di industri kecantikan tidak menyurutkan langkah Rachel. Dia pun melakukan survei kepada sejumlah perempuan yang dinilai aktif, sebelum akhirnya menciptakan tiga produk body care yang bisa menjadi bagian dari rutinitas harian. Keunggulan yang membedakan Dew It dengan produk kompetitor adalah kita tak perlu menggunakan tangan untuk mengolesnya.

 

Selain itu, material yang digunakan adalah bahan-bahan lokal yang berasal dari tumbuhan, sehingga aman dipakai ibu hamil dan menyusui. Setelah riset yang cukup panjang dan evaluasi produk berkali-kali, dilakukan pula uji coba kepada sekitar 30 perempuan dengan jenis kulit berbeda-beda. Hal ini tak lain untuk memastikan produknya dapat digunakan untuk segala macam jenis kulit perempuan di Tanah Air.

 

“Saya tidak pernah membayangkan akan berbisnis di bidang kecantikan. Namun, saat ada kesempatan saya tidak menyia-nyiakannya. Saya melihat bisnis skincare lokal memiliki masa depan yang cerah. Market-nya benar-benar mengerti skin care. Produk lokal kita siap bersaing dengan produk global. Dew It sendiri sudah memasuki pasar Singapura dan sedang dijajaki untuk diekspor ke beberapa negara lain dalam waktu dekat,” ujar alumni Parson School of Design New York, Amerika ini.

 

 

Kendala teknis, seperti produksi, pemilihan packaging, pengiriman, juga menjadi tantangan tersendiri yang sempat membuat Rachel hampir menyerah. Tapi dia tak putus semangat dan memanfaatkan pengalamannya selama menangani  agensi. Solution oriented atau berpikir untuk mencari solusi bukannya memperbesar masalah menjadi kredo yang dipegang teguh dalam mengatur anggota timnya dan menjaga proses kerja berjalan lancar.

 

Perempuan yang mengidolakan Emily Wise, founder Glossier, ini mengungkapkan bahwa gaya kepemimpinannya pun cukup chilled alias santai. Dia memperlakukan rekan kerja sebagai teman, sehingga mereka bisa datang kepadanya jika memiliki masalah, tanpa perlu merasa segan. Menurutnya, menyenangkan bisa melihat solusi yang diberikan dapat diterapak, dengan begitu masalah akan lebih cepat selesai dan tidak mengganggu workflow tim.

 

“Saya berusaha membuat tempat kerja yang nyaman. Tempat mereka bisa merasa dapat bicara dengan saya, memberi saran atau usul tentang perusahaan, karena saya senang mendengarkan mereka. Ini bukan cuma perusahaan saya, kami semua bekerja bersama. Prioritized teamwork, kebersamaan itu paling penting buat saya,” katanya lebih lanjut.

 

Menyikapi pandemi yang belum kunjung usai, Rachel malah berniat untuk meluncurkan produk baru awal tahun depan, tentunya dengan inovasi termutakhir setelah hidration line dan heat line yang dikeluarkan beberapa bulan lalu. Dengan sistem three by three, biasanya Dew It merilis tiga produk sekaligus dari satu rangkaian. Dia optimis karya terbarunya akan mendapat sambutan hangat seperti sebelumnya, karena diciptakan dengan mendengarkan keinginan dari konsumen.

 

Ketika ditanya mengenai ambisi yang ingin diwujudkan, istri Amrit Lakhani ini masih menyimpan keinginan untuk dapat menjadi sumber inspirasi bagi perempuan lain di luar sana. “Saya tidak tahu apakah saya sudah melakukannya, tapi saya berharap mereka dapat bersuara pula. Jangan takut, kita bisa melakukan ini. Saya terus berusaha agar suatu hari keinginan ini bisa terwujud,” harapnya sambil tersenyum ramah.